Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia saat ini masih menuai pro dan kontra. Namun, hal ini menjadi harapan baru bagi kesehatan dan pertumbuhan anak bangsa, terutama terkait gizi dan nutrisi.
Di sisi lain, di balik jutaan porsi yang dibagikan, ada satu tantangan besar yang selalu mengintai, yakni sampah makanan. Alih-alih membiarkan sisa piring menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA), sekolah-sekolah di China mempunyai cara unik yang bisa ditiru. Mereka menyulap sisa makanan yang tidak termakan menjadi uang puluhan juta rupiah.
China kembali memimpin penerapan ekonomi sirkular di lingkungan pendidikan. Mereka membuktikan bahwa sisa makan siang bukan sekadar sampah, melainkan bahan baku industri yang berharga. Coba bayangkan, melalui inovasi ini, bagaimana jika program MBG di Indonesia bukan hanya memberi nutrisi, melainkan juga menghasilkan energi?
Proses Transformasi dari Piring ke Tangki Bahan Bakar
Hal tersebut tidak terjadi begitu saja. Prosesnya terdiri atas tiga tahap krusial berikut ini:
1. Penghancuran Makanan Menjadi Lumpur Kental
Setiap makanan yang tidak habis dituangkan ke dalam mesin pelebur khusus. Secara otomatis, mesin ini menghancurkan sisa organik tersebut hingga memiliki tekstur seperti lumpur kental. Proses ini penting untuk memecah struktur serat makanan agar komponen kimianya mudah dipisahkan.
2. Ekstraksi Minyak untuk Biodiesel
Dari lumpur kental tersebut, mesin akan mengekstrak kandungan minyak dan lemak. Di China, minyak limbah ini dikumpulkan dan diolah kembali menjadi biodiesel. Bahan bakar ramah lingkungan ini memiliki nilai jual tinggi di pasar energi global, serta sering kali digunakan untuk bahan bakar bus kota hingga mesin industri.
3. Fermentasi Bakteri Menjadi Kompos
Setelah minyaknya diambil, ampas kering yang tersisa tidak dibuang begitu saja. Ampas ini dicampur dengan bakteri pengurai khusus. Melalui proses fermentasi yang terkontrol, bakteri tersebut perlahan mengurai sisa makanan menjadi kompos organik premium. Kompos ini bisa digunakan untuk menyuburkan taman-taman sekolah atau dijual ke perkebunan lokal.
Jika Indonesia mengadopsi sistem mengolah sisa makanan ala China ini, program MBG tidak hanya menyehatkan, melainkan juga menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri energi. Minyak dari sisa makanan bisa diolah menjadi bahan bakar mesin. Selain itu, pupuk kompos yang dihasilkan juga bisa dikembalikan kepada petani lokal yang menyuplai bahan baku pembuatan makanan untuk disalurkan ke dapur MBG. Hal ini bisa mendukung ketahanan pangan di sektor ekonomi sirkular.
Pendapatan yang dihasilkan dari olahan sampah tersebut akhirnya juga bisa digunakan untuk membantu biaya operasional dapur atau pemeliharaan sekolah-sekolah.
Edukasi dan Ekonomi Berjalan Beriringan
Nilai ekonomi yang dihasilkan dari penjualan biodiesel dan pupuk organik ini tidak main-main. Dalam skala sekolah besar, akumulasi penjualannya bisa menyentuh angka puluhan juta rupiah.
Namun, bagi otoritas pendidikan di China, keuntungan finansial hanyalah bonus. Tujuan utamanya adalah edukasi karakter. Siswa diajak melihat langsung bagaimana teknologi bisa menyelesaikan masalah lingkungan. Mereka belajar bahwa sisa makanan yang dibuang dengan benar dapat hidup kembali menjadi energi dan nutrisi bagi bumi.