Menjalani karier di era disrupsi bukan lagi sekadar soal gelar dan jabatan. Di tengah otomatisasi dan ledakan kecerdasan buatan, pertanyaannya bergeser: masihkah manusia memegang kendali atas nilai-nilai yang ia perjuangkan?
Co-Founder Bumiterra, Tara Susanto, menilai tantangan terbesar Gen Z hari ini bukan hanya bersaing di pasar kerja, melainkan menentukan untuk apa dan untuk siapa mereka bekerja di tengah sistem yang semakin digerakkan algoritma.
Fenomena kelelahan mengejar tren, kecemasan melihat pencapaian orang lain di media sosial, hingga obsesi membangun citra profesional di LinkedIn menjadi gejala yang ia soroti. “Sering kali kita lupa bertanya: untuk apa semua ini dilakukan? Apakah pekerjaan kita hanya melayani diri sendiri, atau juga memberi dampak bagi orang lain?” ujarnya.
Kegelisahan tersebut akan dibedah Tara dalam panggung TEDxSampoerna University 2026 pada 7 Maret mendatang. Melalui topik “Personal Choices, Public Impact: Choosing What Your Work Serves”, ia mengajak anak muda melampaui logika prestasi individual dan meninjau ulang makna kontribusi sosial dalam setiap keputusan karier.
Antara Ambisi dan Dampak Sosial

Menurut Tara, setiap pilihan profesional selalu membawa konsekuensi sosial. Di tengah dunia yang bergerak cepat, ia melihat dua kutub yang kerap tarik-menarik: orientasi keuntungan pribadi atau kebermanfaatan kolektif.
Ia menekankan bahwa nilai diri seseorang tidak berhenti pada capaian personal. “Kalau kalian memilih jalan yang bisa menguntungkan orang lain, itu baru namanya value,” tegasnya.
Baginya, karier bukan sekadar tangga vertikal menuju posisi tertinggi, tetapi juga jalur horizontal yang menentukan sejauh mana dampak seseorang terhadap lingkungan sekitarnya.
Generasi AI dan Krisis Arah
Masuknya teknologi AI memperbesar tekanan tersebut. Otomatisasi bukan hanya mengubah jenis pekerjaan, tetapi juga cara manusia memaknai produktivitas dan keberhasilan.
Tara menilai teknologi bukan ancaman, melainkan alat. Namun ia mengingatkan bahwa arah penggunaan alat tersebut tetap ditentukan oleh pilihan manusia. “Pilihan-pilihan kecil yang kita ambil hari ini akan menentukan wajah dunia ke depan,” katanya.
Ia pun menutup pesannya dengan seruan sederhana namun tegas: memilih menjadi pribadi yang memberi manfaat.
Mencari Titik Henti
Perspektif itu selaras dengan tema besar “AfterAll: What Remains Beneath” yang diusung TEDxSampoerna University 2026. Project Leader Nathanael Aaron menyebut tema tersebut lahir dari kegelisahan melihat banyak anak muda merasa tersesat di tengah derasnya arus informasi dan komparasi digital.
Kecepatan media sosial, menurutnya, menciptakan tekanan untuk selalu terlihat sukses. Padahal, tanpa ruang refleksi, generasi muda berisiko kehilangan arah di tengah kebisingan tersebut.
Melalui rangkaian acara yang telah dimulai sejak awal Februari, penyelenggara berharap forum ini menjadi ruang jeda—tempat Gen Z dapat meninjau ulang pilihan hidupnya, bukan hanya mengejar capaian, tetapi juga mempertanyakan dampaknya.
Di tengah era disrupsi, pertanyaan mendasarnya mungkin sederhana: setelah semua ambisi terpenuhi, nilai apa yang benar-benar tersisa?