News
Tiga Hal Saja, dan Itu Sudah Lebih Dari Cukup
Mie sederhana ini datang dari tempat, orang, dan bahan yang sederhana. Mie Sahoun Pak Kartim menjadi salah satu kuliner tradisional di Purwokerto yang masih berdiri hingga saat ini. Mie Sahoun Pak Kartim sendiri berdiri sudah dari tahun 70-an, bermula dari tangan kakek, hingga mengalir ke anak-anaknya hingga saat ini.
Di sinilah Pak Parno, penerus dari Pak Kartim yang menyajikan Mie Sahoun. Semangkuk mi tebal berwarna putih dengan kuah bening, suwiran ayam, dan taburan daun bawang melimpah. Hanya itu. Tiga hal. Dan entah sudah berapa generasi orang Banyumas datang hanya karena tiga hal itu.
Di tengah menjamurnya kuliner yang menawarkan beraneka ragamnya menu, variasi puluhan topping yang tidak ada habisnya, Sahoun Pak Kartim masih berdiri di jalurnya sendiri, berdiri dengan kesederhanaan turun-temurun dan hanya dengan tiga hal tadi. Mungkin bagi yang belum mencoba, tampilannya akan terlihat mengecoh dan membosankan, tidak ada visual berwarna lain yang menggugah mata dan gairah, tetapi ketika sudah pada suapan pertama, rasanya satu mangkuk belum cukup untuk Mie Sahoun ini.
Sahoun, bukan soun, adonan tebal yang diiris tipis hingga menyerupai mi, teksturnya lebih padat dari kwetiau, lebih tebal dan rasa kenyal yang lebih nyata; mi ini dibuat dari tepung beras dan disajikan secara sederhana, layer demi layer menggambarkan visual dengan komposisi yang pas, dari mulai mi, suwiran ayam yang dihamparkan menjadi isian nyata, daun bawang yang menjadi salah satu warna kontras di dalam mangkuk, lalu kuah segar yang sangat dominan asin.
Dalam tradisi kuliner Banyumas, kesederhanaan bukan kekurangan, ia adalah pilihan. Masakan-masakan tua di daerah ini cenderung lurus, bahan yang baik, teknik yang lawas, rasa yang tidak perlu disembunyikan. Sahoun Pak Kartim hidup dalam tradisi itu. Tidak ada ragam saus botolan, atau kecap manis, atau topping yang bermacam-macam, hanya ada sambal yang digiling halus dan kecap asin jika memang diperlukan. Itu saja, dan sudah cukup menghangatkan perut.
Pak Parno membuatnya dengan tidak terburu-buru, “Kuncinya dari memasak Mie Sahoun ini malah tidak terletak di takaran, melainkan bermain di perasaan,” ujar Pak Parno santai dengan tangan yang masih menggenggam Mie Sahoun. Tidak ada takaran yang pasti, karena dari hati pun bisa menghasilkan hidangan yang hangat dan nyaman.
Pak Parno mulai berjualan sedari lulus SMK, sang ayah mengajarkan bagaimana memasak menggunakan perasaan yang pasti, menjaga konsistensi walaupun tidak tertakar angka, dan bagaimana setiap sajian selalu hangat keluar dari meja sajinya. Dan hingga saat ini sudah ada 4 cabang yang menghangatkan sudut kota Purwokerto, Mie Sahoun dibuka dari jam setengah 9 hingga jam 7 malam.
Sendok diletakkan, mangkuk kosong. Di luar, kota terus bergerak, menu baru ditawarkan, foto-foto makanan berwarna-warni memenuhi layar, tetapi di sini, di ruang sederhana yang berbau kaldu yang menempel di dinding warung tua dan kayu tua itu, seorang lelaki masih mengerjakan hal yang sama seperti kemarin. Dan mungkin, besok juga masih sama. Mungkin satu pertanyaan muncul, kapan bisa kembali lagi?
Penulis: Aneira Margarievida Putri
Pemenang lomba Plate to Text