News
Gajah Indonesia Butuh Perhatian: Selamatkan Mereka dari Kesalahan Alih Fungsi Hutan
Gajah merupakan salah satu satwa yang dilindungi di Indonesia. Saat ini, populasi gajah semakin mencemaskan, terutama gajah Kalimantan. Berdasarkan data dari WWF Indonesia pada 2012, tercatat populasi gajah di Kalimantan berkisar 30–80 ekor. Diperkirakan 5–20 ekor di antaranya merupakan gajah jantan dan selebihnya gajah betina.
Di wilayah Indonesia, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Nunukan mencatat, populasinya diperkirakan 19–25 ekor. International Union for Conservation of Nature (IUCN) pun menetapkan gajah Kalimantan dalam status spesies yang terancam punah atau genting (endangered). IUCN mencatat bahwa populasi gajah di Kalimantan telah berkurang selama 75 tahun terakhir.
Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan, dikarenakan gajah sebagai jenis satwa yang membuktikan keanekaragaman hayati di Indonesia. Contohnya, gajah tidak hanya ada di Sumatera, tetapi jenisnya ada pula di Kalimantan. Begitu juga harimau, bukan hanya ada di Sumatera, tetapi ada juga harimau Jawa yang membuktikan keanekaragaman hayati di Indonesia.
Jika keanekaragaman hayati tersebut tidak dijaga, maka yang terjadi adalah ekosistem alam tidak seimbang. Rantai makanan di alam akan terganggu dan Indonesia yang dikenal memiliki jenis satwa endemik serta beragam pun akan tercoreng. Kita harus membuktikan kepada dunia bahwa menjaga alam selaras dengan menjaga bumi untuk kebaikan. Jangan sampai satwa-satwa yang ada punah; sebaliknya, kita harus menjaga populasi dan ekosistem mereka.
Alih Fungsi Hutan
Sudah tidak terelakkan lagi bahwa populasi gajah berkurang dari hari ke hari dikarenakan alih fungsi hutan menjadi lahan sawit maupun karet. Hutan dibakar dan ditebang untuk membuka lahan baru. Oleh sebab itu, penebangan liar dan pembakaran hutan menjadi sesuatu yang harus dicegah karena akan menjadikan keanekaragaman hayati hancur.
Kita bisa melihat bagaimana ekosistem gajah semakin terancam. Salah satu contoh, di Taman Nasional Tesso Nilo, Kabupaten Pelalawan, Riau, di mana lahan yang merupakan bagian dari konservasi gajah Sumatera sebagian besar dikuasai oleh oknum perorangan maupun korporasi yang memiliki lahan sawit sampai ratusan hektar; padahal lahan itu adalah bagian dari Taman Nasional Tesso Nilo.
Banyak sekali klaim atas tanah tersebut oleh oknum tertentu sehingga konflik dengan satwa dan petugas taman nasional terjadi. Hal seperti ini tentu saja sangat menyedihkan. Hutan sebagai tempat konservasi dan perlindungan terhadap satwa berubah menjadi lahan sawit maupun perkebunan yang digunakan untuk keuntungan semata.
Hutan yang merupakan tempat terbaik bagi satwa harus beralih fungsi akibat sebuah keserakahan. Tindakan-tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan. Rumah satwa, terutama gajah, haruslah diselamatkan. Hidup tidak hanya untuk keuntungan dan kepentingan pribadi, tetapi untuk kepentingan bersama, terutama satwa. Apa yang sudah diberikan kepada kita haruslah dijaga dengan baik. Jangan pernah disia-siakan apa yang sudah Tuhan berikan.
Kita sebagai sesama makhluk hidup sudah diberikan ruang untuk beraktivitas dan memperoleh kehidupan, begitu juga satwa dan tumbuh-tumbuhan, jadi tidak boleh serakah. Apa yang sudah menjadi bagian dari kita, maka itulah yang dikelola dengan baik. Hak atas kehidupan satwa harus kita jaga, terutama gajah. Gajah juga butuh hidup; makan dan berkembang biak. Jangan pernah ambil yang sudah menjadi hak gajah.
Sama seperti kita, bila rumah kita atau lingkungan diganggu oleh orang lain, maka kita sendiri akan marah, bahkan akan terjadi konflik sampai pada perkelahian. Begitupun dengan satwa-satwa yang hidup di alam.
Hutan harus difungsikan dengan baik. Hutan adalah rumah flora dan fauna di mana mereka terus bertumbuh dan berkembang, serta akan menjadi sumber aset kita di masa depan. Keanekaragaman hayati adalah harta berharga bagi manusia. Kelestarian alam ciptaan adalah tugas kita. Dengan alam yang lestari, maka kita dapat hidup lebih aman dan nyaman.
Perubahan fungsi hutan menjadi lahan perkebunan adalah sesuatu yang merusak alam, terutama bumi sebagai rumah kita bersama. Oleh karena itu, mari melawan segala bentuk alih fungsi hutan, terutama dengan cara ditebang dan dibakar.
Menyelamatkan satwa-satwa yang ada di bumi adalah tugas penting bagi kita. Satwa seperti gajah adalah teman kita hidup di bumi. Mereka adalah bagian dari kita. Gajah dan satwa lainnya jangan sampai punah. Keindahan alam Indonesia dilihat dengan berkembang biaknya gajah dan satwa lainnya serta tumbuhan yang ada di dalamnya.
Kita perlu sadar bahwa alih fungsi hutan adalah untuk keuntungan orang tertentu. Masyarakat lainnya akan merasakan kerugian akibat tindakan tersebut. Oleh karenanya, kita harus bersuara dan melawan segala bentuk tindakan yang tidak mau menjaga bumi sebagai rumah kita bersama. Pastikan bahwa lingkungan sekitar dan alam ciptaan sudah dalam ekosistem yang benar. Tindakan nyata kita untuk menyelamatkan populasi gajah semakin penting. Tindakan tegas dari kita dan pemerintah bersama penegak hukum harus terus berjalan. Semuanya adalah untuk keberlangsungan hidup kita di masa depan bersama anak cucu kita.