suara hijau

News

Over Tourism Mengancam, Seberapa Efektif Pembatasan di Taman Nasional Komodo?

Over Tourism Mengancam, Seberapa Efektif Pembatasan di Taman Nasional Komodo?
Potret Satwa Endemik Indonesia, Komodo ( Pexels/ Jeffry Surianto )

Taman Nasional Komodo menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia yang sering menarik perhatian wisatawan, baik domestik maupun wisatawan.

Keunikan utama kawasan ini terletak pada keberadaan satwa endemik, yaitu Komodo yang hanya dapat ditemukan di wilayah tersebut. 

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kunjungan ke Taman Nasional Komodo terus meningkat. Berdasarkan data Badan Taman Nasional Komodo, pada 2025 jumlah pengunjung mencapai 429.509 pengunjung.

Lonjakan ini memunculkan kekhawatiran terjadinya over tourism atau kelebihan pengunjung yang dapat berdampak pada ekosistem serta kehidupan masyarakat di sekitar Taman Nasional Komodo. 

Menanggapi hal tersebut, pemerintah menetapkan kebijakan pengurangan jumlah pengunjung mulai April 2026, dengan kuota maksimal 1.000 pengunjung setiap harinya.

Kebijakan ini disampaikan oleh Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni pada Rapat Kerja Bersama Komisi IV DPR RI. Ia menegaskan kembali bahwa langkah ini diambil untuk menjaga kesejahteraan satwa dan juga masyarakat. 

"Keputusan kami membatasi kuota turis didasarkan pada riset yang menunjukkan bahwa jika terjadi over tourism dalam jangka panjang, akan berakibat pada kerusakan kawasan dan hilangnya daya tarik wisata itu sendiri," ucap Raja Antoni.

Namun, apakah kebijakan ini benar-benar bisa mensejahterakan masyarakat dan satwa atau justru tidak menimbulkan efek apapun atau justru memperparah kondisi yang sudah ada ? 

Kebijakan yang Dirasa Belum Tuntas 

Komodo merupakan spesies yang telah masuk dalam daftar terancam punah dalam International Union for Conservation of Nature (IUCN) sejak tahun 2021. Saat ini, populasinya diperkirakan hanya 3.319 ekor, sebagaimana dilaporkan oleh Universitas Gajah Mada (17/4/2026). 

Sebagai hewan yang soliter, komodo cenderung hidup menyendiri dan hanya berinteraksi saat sedang menemukan sumber makanan dan musim kawin, sebagaimana dilansir oleh Biodiversity Warriors (14/7/2026). Oleh karena itu, tingginya jumlah wisatawan yang datang akan memicu stress pada Komodo. Ketika stress Komodo akan menunjukkan perilaku yang agresif, tidak nafsu makan, dan kabur menjauh dari habitatnya. 

Di sisi lain, ancaman terhadap Komodo tidak hanya berasal dari banyaknya jumlah wisatawan, tetapi juga dari perubahan habitat akibat perbuatan manusia seperti pembukaan lahan pariwisata. Kondisi ini dapat  mempengaruhi ruang bagi Komodo untuk berburu, bergerak, dan berkembang biak, sebagaimana dilaporkan oleh Indonesia Juara Trip (17/4/2026). 

Oleh karena itu, pembatasan jumlah pengunjung saja dinilai belum cukup untuk dikatakan mensejahterakan satwa. Diperlukan kebijakan lanjutan terkait perlindungan dan kesejahteraan Komodo. 

Dampak Ekonomi bagi Masyarakat Lokal 

Kebijakan pembatasan ini juga berdampak pada masyarakat di sekitar Taman Nasional Komodo. Salah satunya adalah para pelaku usaha yang terdampak karena berkurangnya jumlah wisatawan yang datang. Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, menyampaikan bahwa pemerintah perlu memberikan solusi lanjutan bagi masyarakat yang terdampak. 

"Pada dasarnya kami setuju untuk menjaga kelestarian Taman Nasional Komodo. Namun, sosialisasi harus lebih gencar dan pemerintah harus mencari jalan keluar bagi masyarakat lokal yang terdampak kebijakan ini," ujar Titiek.

Kebijakan pembatasan wisata di Taman Nasional Komodo menjadi langkah penting dalam upaya menjaga kelestarian ekosistem dan masyarakat. Namun, pemerintah perlu penanganan lebih lanjut terkait masalah yang belum terselesaikan. 

Penulis: Natasha Suhendra

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda