News
Secangkir Kopi: Antara Jeda, Ambisi Anak Muda, dan Dompet yang Kritis
Dulu kopi itu identik sama bapak-bapak di warkop, duduk santai, ditemani koran. Sekarang kalau masuk coffee shop, yang duduk kebanyakan anak umur 20-an. Laptop kebuka, headphone nempel, tidak ketinggalan gelas kopi di atas meja. Kopi sudah bukan cuma minuman. Buat anak muda sekarang, kopi sudah jadi bagian dari gaya hidup, teman kerja, bahkan alasan buat keluar rumah.
Hubungan anak muda sama kopi itu unik. Kopinya tidak harus pahit banget. Yang penting bisa menemani. Ada yang butuh espresso sekali teguk biar langsung fokus mengerjakan pekerjaan yang bikin mumet. Ada yang pilih rasa gula aren karena butuh manis-manis buat menaikkan mood. Ada juga yang pesan kopi ditambah camilan dan duduknya tiga jam, karena yang dicari bukan kafeinnya doang. Yang dicari itu suasananya; tempat buat mikir, buat ngobrol, atau buat kabur bentar dari kamar yang sumpek.
Ngopi sekarang sudah jadi bahasa sosial baru. Kalau dulu mengajak ketemuan bilangnya "nongkrong yuk", sekarang jadi "ngopi yuk". Mau bertemu rekan kerja bahas kerjaan, mau first date, mau curhat sama teman, mau mengerjakan tugas kelompok, semua larinya ke coffee shop. Secangkir kopi jadi jembatan. Obrolan jadi lebih cair kalau ada gelas di tengah meja. Diam juga tidak canggung kalau tangan sibuk memegang kopi. Kopi bikin orang punya alasan buat duduk bareng tanpa harus ada topik berat. Kebanyakan ngobrol-ngobrol santai bareng teman, ketawa-ketawa, itu sudah jadi hal yang lumrah di setiap coffee shop.
Buat anak muda yang kerja keras, kopi itu bahan bakar. Bangun tidur kepala masih berat, kopi dulu. Siang mulai ngantuk padahal kerjaan numpuk, kopi lagi. Malam mengejar deadline ditemani kopi lagi. Batasnya jadi tipis antara butuh sama kebiasaan. Awalnya buat melek, lama-lama jadi tidak betah kalau tidak ada kehadiran kopi. Tidak ngopi sehari rasanya ada yang kurang. Bukan cuma badannya yang mencari kafein, tapi otaknya juga mencari momen tenang sebelum mulai "perang" sama kerjaan.
Tapi kopi buat anak muda juga sering jadi pelarian. Lagi stres sama tugas, lagi pusing sama hubungan, pesan kopi sambil melamun. Lagi bingung sama masa depan, nongkrong sampai tempatnya tutup. Kopi tidak menyelesaikan masalah, tapi dia memberikan jeda. Memberikan waktu buat napas bentar sebelum lanjut berantem sama hidup. Di situ kopi jadi teman yang tidak menghakimi. Kamu diam ya sudah diam saja. Kamu mau cerita ya dia dengerin lewat suara mesin dan wangi biji yang baru digiling.
Masalahnya, ngopi ini kadang bikin dompet jebol tanpa terasa. Segelas 25 ribu kelihatan murah. Tapi kalau tiap hari, sebulan sudah 750 ribu. Belum kalau nongkrongnya sambil pesan makan. Ujung-ujungnya gaji numpang lewat doang buat bayar kafein. Banyak yang baru sadar pas akhir bulan. Niatnya produktif di coffee shop, malah jadi boros produktif. Kopinya habis, tabungan juga habis.
Padahal esensi ngopi itu tidak harus mahal. Tidak harus di tempat estetik yang tiap sudutnya bisa difoto. Ngopi bisa cuma seduh sendiri di rumah. Pagi-pagi, masih sepi, dengar suara air mendidih, aduk kopi hitam, duduk di teras sambil lihat langit. Tidak ada yang perlu dipamerkan. Cuma kamu sama pikiran kamu sendiri. Dan itu cukup. Karena tujuan ngopi dari dulu ya satu: buat memberikan jeda, buat mengajak diri sendiri pelan-pelan lagi.
Jadi anak muda dan kopi itu memang paket yang susah dipisahkan. Kopi mengerti capeknya kamu. Mengerti ambisi kamu. Mengerti butuh tempat buat kabur sebentar. Karena segelas kopi paling enak itu yang diminum dengan sadar. Namun, harus diingat kembali, jangan terlalu paksa untuk beli kopi kalau uang belum ada lebih untuk segelas kopi ya. Kopi bukan kebutuhan yang wajib, hanya saja menjadi penyemangat dikala penat.