Bangsal Lantai 3

M. Reza Sulaiman | Delia Sanjaya
Bangsal Lantai 3
Ilustrasi koridor rumah sakit (pexels/Mian Rizwan)

Rumah sakit tua ini masih aktif beroperasi dan melayani pasien selama puluhan tahun. Dengan lima lantai yang berdiri kokoh, bangunan ini memiliki kesan yang megah.

Banyak orang mengatakan bahwa rumah sakit ini memiliki bangsal yang dihantui oleh roh seorang wanita yang meninggal di sana. Suara-suara aneh sering terdengar di salah satu bangsal lantai tiga, dan bayangan wanita itu kerap muncul di dekat pintu bangsal yang sedikit terbuka. Banyak pula yang sering melihat penampakan bayangan hitam yang masuk menembus pintu bangsal tersebut.

Aku adalah perawat baru yang ditugaskan untuk berjaga di lantai tiga. Sebenarnya, aku tidak begitu memikirkan soal bangsal yang sudah banyak diceritakan oleh orang-orang. Bisa dikatakan aku bukan orang penakut, mungkin karena aku belum pernah melihat sosok tak kasat mata secara langsung.

Suatu hari, tepatnya pukul sembilan malam, aku harus mengecek semua bangsal yang ada di lantai tiga. Bangsal yang katanya menyeramkan itu berada di tengah koridor. Aku harus terbiasa melewati bangsal tersebut.

Aku berjalan dengan santai, menghampiri setiap bangsal hingga tiba saatnya aku berada di depan pintu yang tertempel kertas bertuliskan, "Tidak diperbolehkan masuk untuk sementara." Kertas itu menempel di pintu bangsal yang sedikit berdebu. Aku hanya membacanya lalu mulai berjalan kembali ke bangsal berikutnya.

Setelah melewati bangsal itu, aku merasakan sesuatu yang aneh. Namun, aku pikir ini hanya perasaanku saja karena hari sudah malam dan suasana sangat sunyi. Tiba-tiba, suara aneh terdengar samar dari dalam bangsal yang tidak digunakan itu. Aku yang sedikit penasaran mencoba untuk mendekatinya kembali. Kutempelkan telinga pada pintu bangsal. Suara itu jelas berasal dari dalam; suara seperti seseorang yang sedang berbicara dengan kalimat yang tidak jelas, seolah sedang berbicara sendiri. Beberapa menit kemudian, suara itu hilang dan kembali sunyi. Tanpa berpikir panjang, aku kembali ke ruang kerjaku.

Keesokan harinya, aku melewati bangsal itu lagi. Kali ini hari belum terlalu malam, masih sore menjelang magrib. Aku merasa lebih berani karena masih ada beberapa orang yang berlalu-lalang di lantai tiga. Saat melewatinya, terdengar suara tangisan dari dalam bangsal. Aku yakin bahwa suara itu bukan milik manusia. Pintu bangsal terkunci rapat dengan gembok besar yang sudah agak berkarat; tidak mungkin seseorang masuk dan menangis di dalamnya.

Aku semakin penasaran dan ingin menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa bangsal ini ditutup dan mengapa banyak cerita menyeramkan di baliknya? Aku bertanya kepada salah satu perawat senior yang sudah lama bekerja di lantai tiga.

"Kak, kenapa bangsal yang satu itu ditutup dan banyak cerita tentang keangkerannya?" tanyaku pelan.

"Ceritanya sudah lama. Tidak ada yang berani masuk ke dalam bangsal itu sejak ada kejadian janggal di dalamnya," jelas temanku dengan sedikit berbisik.

"Tidak ada polisi yang menyelesaikan masalahnya?" tanyaku semakin penasaran.

"Ada, cuma polisi tersebut terus dihantui dan tidak tahan dengan gangguannya. Maka dari itu, bangsalnya tidak digunakan untuk sementara waktu," ucapnya serius.

Aku berniat masuk ke dalam bangsal tersebut untuk mengetahui penyebabnya dan jika boleh, aku ingin menyelesaikan permasalahannya. Setelah jam kerjaku usai, aku menghampiri petugas keamanan untuk menanyakan kunci bangsal itu. Dengan terkejut dan heran, petugas keamanan tidak percaya dengan keinginanku. Namun, aku terus meyakinkannya agar bangsal itu bisa kembali normal. Petugas keamanan harus membicarakan hal ini terlebih dahulu kepada pihak manajemen rumah sakit. Aku pun dipanggil untuk menemui mereka secara langsung. Setelah penjelasan yang panjang lebar, akhirnya aku mendapatkan kunci bangsal yang sudah lama tidak dipakai itu.

Hari itu juga aku naik ke lantai tiga. Kali ini bukan untuk bekerja, melainkan untuk menuntaskan rasa penasaran. Pintu yang entah sudah berapa lama tidak dibuka itu akhirnya terbuka oleh tanganku sendiri. Di dalamnya tercium bau lembap dan terlihat beberapa serangga. Aku mengamati benda-benda di sekitar. Sebuah lemari kecil mencuri perhatianku; kupikir mungkin ada sesuatu di dalamnya.

Aku tidak menemukan apa pun kecuali selembar kertas yang sudah mulai hancur termakan waktu. Kertas itu terlipat. Aku membukanya pelan-pelan. Di sana terdapat tulisan: "Tolong bantu aku, berikan hadiah ini pada orang tuaku."

Aku mencari barang yang dimaksud. Aku membongkar isi lemari dan memeriksa kasur. Ternyata, hadiah itu berada di bawah kasur, dibungkus dengan kain kuning. Aku tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya.

Aku menutup kembali pintu bangsal dan berlari menuju ruangan administrasi. Kutanyakan alamat orang tua dari pasien terakhir yang menempati bangsal itu. Pihak rumah sakit baru menyadari hal ini; mereka tidak tahu ada sesuatu yang harus diselesaikan di sana. Aku dan perwakilan rumah sakit kemudian mendatangi tempat tinggal orang tua pasien tersebut.

Betapa sedih orang tuanya saat mengetahui kabar ini. Anak mereka telah meninggal sembilan tahun lalu di bangsal tersebut. Hadiah terakhir dari anaknya pun dibuka—sebuah cincin untuk sang ibu. Cincin itu langsung dipakainya diiringi isak tangis yang tak henti. Aku memberikan pelukan hangat untuk mereka. Sekarang, wanita itu sudah bisa tenang; hadiahnya telah diterima oleh orang tua kesayangannya.

Beberapa hari kemudian, aku menerima sebuah surat yang dikirim ke rumah sakit. Surat itu berisi ucapan terima kasih. Ternyata, ia berterima kasih kepadaku karena telah membantunya beristirahat dengan tenang. Aku merasa bahagia telah melakukan kebaikan bagi keluarga yang saling menyayangi tersebut.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak