Aku bertemu dengannya sekitar 1 tahun yang lalu pada acara besar yang banyak mengundang orang-orang terkenal dan ternama di kota ini. Wanita cantik dan menawan yang sangat memikat hati, bukan hanya penampilan fisik yang menarik perhatianku, tapi cara dia menyampaikan kesuksesannya di depan banyak orang sangat rendah hati dan percaya diri, aura positifnya terpancar, dari situlah aku berniat untuk mendekatinya.
Banyak acara yang tak sengaja membuat aku terus bertemu dengannya. Ya, aku seorang fotografer yang merantau ke negara lain dan dia adalah artist terkenal di negara itu yang baik hati dan juga banyak orang yang mengaguminya. Senang hatiku saat tahu jika dia belum memiliki seorang kekasih. Aku semakin giat bekerja, pekerjaan yang menyangkut artist-artist besar akan aku terima untuk bisa bersanding dengannya.
Yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, pekerjaan yang membuat aku bisa dekat dengannya. Aku memotretnya untuk sebuah proyek iklan, rasanya kerja yang satu ini tidak ingin cepat selesai. Tanpa pikir panjang, aku menghampirinya saat istirahat, jantungku seakan tak tahu detak kecepatannya. Aku mulai mengenalkan diriku padanya, dia sangat sopan dan murah senyum, bagaimana bisa diriku tidak menyukainya, sosok yang sangat aku idamkan.
Waktu berjalan dengan sangat cepat dan kebahagiaanku semakin terasa. Kedekatan kami bisa dibilang bukan hanya sebagai teman dekat, aku sudah berani izin padanya untuk bisa kenal lebih dekat lagi. Sudah 1 tahun berjalan, aku memberanikan diri untuk menyatakan cintaku padanya dan menanyakan perihal perasaannya padaku. Ya, kami resmi berpacaran.
Kami saling memahami, kami tidak pernah mengganggu pekerjaan satu sama lain. Jika dia sibuk, aku berusaha menyemangatinya, begitu pun sebaliknya, kami saling memberikan dorongan untuk bisa terus berkembang. Hubungan kami belum banyak orang yang tahu, hanya teman dekat kami yang mengetahuinya. Aku selalu menjemputnya saat aku sudah selesai bekerja, jadwalnya lebih padat dariku, syuting yang kadang sampai larut malam, kadang juga dia pulang subuh untuk kejar jam tayang.
Namun, perhatiannya tidak pernah surut, dia sangat bisa membuatku tidak khawatir terhadapnya, memberi kabar tidak pernah lupa. Aku tidak pernah mempermasalahkan pekerjaannya yang sangat sibuk. Dia mencintai pekerjaannya dan aku sebagai kekasihnya sangat senang melihatnya semakin bersinar.
Beberapa bulan setelah kami berpacaran, dia menerima pekerjaan yang mengharuskan dirinya untuk beberapa minggu pergi ke luar kota. Kami saling percaya, tidak ada kata takut untuk pasangan yang saling percaya. Dalam syutingnya, dia memerankan sebagai wanita yang disukai banyak pria, salah satu diantaranya dia akan mempunyai pasangan dalam film itu. Kemesraan yang harus dikembangkan dalam adegan romantis, agar penonton dapat merasakan kemistrinya.
Dan ya! Filmnya memiliki penonton tertinggi saat ini. Mendengar semua itu, aku turut bahagia atas pencapaiannya. Dia dan teman-teman pemain film lainnya pergi ke beberapa kota untuk jumpa fans. Aku sengaja tidak ikut untuk hadir di sana, karena dia pasti akan sibuk dengan acaranya.
Dengan penuh bahagia, aku berencana untuk menyiapkan makan malam yang spesial untuk memberikan ucapan atas kesuksesan filmnya. Aku tahu, malam ini dia akan pulang ke rumah, aku memesan makanan dan minuman yang dia sukai.
Pukul 8 malam, aku mendengar bel rumah berbunyi, aku tahu siapa yang datang, langsung aku membukakan pintu untuk orang yang aku cintai. Wajahnya tersenyum, dia lari kecil untuk memelukku. Kerinduan yang saling tak tertahan, kami merasakan kehangat yang sudah lama tidak pernah dirasakan lagi, kini kami rasakan kembali.
Aku tuntun tangannya, meja makan sudah terpasang indah dilengkapi bunga-bunga cantik, matanya berkaca-kaca, dia bahagia melihat semua ini. Malam itu pun menjadi malam yang indah. Aku ingin terus bersamanya, aku janji akan menjaganya sampai aku tidak punya kesempatan lagi untuk bernafas.
Hari demi hari pun berganti, semakin banyak penggemar yang menyukai pacarku ini. Pengikut di sosial medianya pun bertambah banyak, sampai ada yang membuat gosip tentang dia yang sedang dekat dengan lawan main di filmnya. Dia memberitahuku agar tidak termakan oleh gosip, aku yang percaya padanya hanya tersenyum. Aku yakin kemistri dalam filmnya sangat bagus, sehingga penonton sangat menyukai pemerannya.
Siang itu kami sedang tidak bekerja, saatnya untuk berlibur, kami tidak punya banyak waktu, tapi waktu yang singkat itu kami gunakan sebaik mungkin. Kami memutuskan untuk pergi ke pantai, suasana yang sejuk dan angin yang membuat kami betah di sana. Tidak terlalu ramai tapi ada beberapa pengunjung yang mengajak foto pacarku. Beberapa pengunjung menanyakan dengan siapa dia ke pantai ini. Dengan senyumnya yang manis, dia menjawab "Bersama pacarku".
Keesokan harinya, kami kembali bekerja sampai malam hari. Singkat cerita aku menjemputnya di tempat kerja, entah siapa orang pertama yang memulai, tapi hubungan kami tersebar di berbagai media sosial. Dia mengajakku singgah di sebuah tempat yang lumayan sepi untuk membicarakan masalah ini.
"Aku minta maaf" Ucapnya sambil menangis.
"Kamu minta maaf karena kemarin kita pergi berdua dan viral?" Jawabku dengan wajah yang sedikit heran.
"Filmku lagi disukai banyak orang, aku ga diizinkan untuk pacaran, karena banyak orang yang ingin melihat aku dekat dengan lawan pemainku di film itu" Ucapnya.
"Terus aku harus gimana?" Ucapku yang semakin bingung.
"Mungkin kita jangan keluar berdua dulu untuk beberapa waktu ke depan, aku takut semakin banyak orang yang lihat kita" Ucapnya dengan pelan.
"Bagaimana kita punya waktu berdua? Sampai kapan?" Aku yang terus mempertanyakannya.
"Aku ga ingin filmnya menurun secepat itu, aku percaya kamu bisa ngertiin aku" Ucapnya memohon.
Aku mengangguk lemas, tidak tahu harus bagaimana untuk menyikapinya. Aneh rasanya jika harus mengumpat. Namun, semua itu aku berusaha jalankan untuk melihat dia bisa terus bahagia.
Semakin hari aku semakin lelah menunggu untuk bisa kembali seperti biasa dengannya. Aku punya rencana untuk pulang ke negaraku agar aku tidak terlalu merasa sedang menunggu. Filmnya semakin teratas, aku yang semakin terdiam, bingung. Aku mencintainya, tidak ingin karirnya terganggu karena ulahku, tekadku untuk pulang sudah bulat, aku menemuinya dan berpamitan. Dia yang melarangku untuk pulang, tapi aku butuh jarak yang jauh agar tidak membuat masalah dalam karirnya. Dia menangis, memelukku dengan erat, aku tak kuasa menahan air mata. Aku memandangnya sambil menghapus air mata yang terus jatuh pada pipinya.
"Biarkan aku pulang dulu ya, ini adalah karir kamu, kamu lagi bahagia dengan apa yang kamu sudah usahakan, kamu wanita hebat, aku bahagia melihatmu bahagia, aku pulang bukan karena ga cinta, tapi aku ingin kamu fokus sama karirmu dulu, aku kembali lagi kalau kita sudah bisa berpacaran tanpa perlu mengumpat. Makasih ya sudah selalu sayang aku" Jelasku sambil tersenyum kecil.
Di hari itu aku naik pesawat untuk bisa pulang ke negaraku. Di tengah perjalanan, dadaku terasa sesak, detak jantungku tak kunjung kembali normal, sakit rasanya. Saat itulah aku tidak bisa lagi kembali ke negaranya. Aku juga tidak merasakan pulang ke negaraku. Maaf jika aku harus pergi, bersinar teranglah wanita yang aku cintai, aku akan selalu ada di hatimu.