News
Lari dari Adiksi Gawai dan Stres Domestik: Para Ibu di Klabu Temukan Kewarasan Lewat Literasi
Perjalanan dari barat menuju selatan Jakarta pagi itu terasa lebih panjang dari biasanya. Bus TransJakarta yang saya tumpangi melaju diiringi riuhnya pekerja yang berangkat lebih dini demi sesuap nasi. Ramai sekali. Hingga saya sadar, ternyata sudah sejauh ini kaki saya melangkah, kalimat tanya melantun setiap wawancara, hingga jari-jari yang melompat setiap hari seakan melakukan tap dance di atas keyboard.
Ada rasa senang sekaligus haru yang samar, seperti ketika kita berada di halaman-halaman novel yang sangat menarik. Puas karena bisa membaca sejauh itu, namun sedih karena halamannya hampir habis. Dari situ dengan inisiatif, saya merekam sisa-sisa rutinitas yang sebentar lagi akan saya tinggalkan. Saya tidak pernah menyangka bahwa perjalanan panjang di Jakarta akan ditutup dengan bertemu ibu-ibu yang suka membaca.
Entah magnet jenis apa yang ditarik oleh komunitas bernama Klabu ini hingga mampu menggerakkan langkah saya kembali ke hobi lama, membaca. Di hari Kamis minggu ketiga bulan Juni, Taman Kampung Kandang menyambut saya dari perjalanan panjang dengan semilir angin dan rerumputan hijau mereka. Di atas tikar yang digelar, sekelompok ibu rumah tangga sedang asyik bertukar cerita. Bukan tentang gosip harian atau keluh kesah domestik yang monoton, melainkan tentang semesta yang mereka temukan di balik lembar-lembar buku cetak.
Getaran senang menyelinap di dada saya saat mendengarkan mereka berbicara. Di era ketika atensi manusia mudah terpecah oleh gawai, menyaksikan kepedulian yang begitu magis terhadap literasi dari para ibu ini rasanya seperti melihat tunas hijau yang tumbuh di sela-sela beton ibu kota. Peran sebagai ibu rumah tangga menuntut curahan energi yang luar biasa, yang sering kali berujung pada pengabaian terhadap kapasitas intelektual dan kesehatan mental diri sendiri. Namun, Komunitas Klabu di Jagakarsa hadir menawarkan metode detoks digital melalui aktivitas membaca bersama di ruang publik.
Membaca di dalam rumah sering kali mustahil bagi seorang ibu rumah tangga. Distraksi pekerjaan rumah, tangisan anak, hingga rasa kantuk akibat kelelahan fisik menjadi hambatan utama. Oleh karena itu, taman-taman terbuka hijau akhirnya menjadi alternatif untuk menciptakan sebuah oase mental yang sangat dibutuhkan oleh para anggotanya.
Hobi Membaca di Masa Muda

Inisiatif ini berangkat dari kerinduan masa muda yang tergerus oleh kesibukan keluarga. Pipit Dwia, yang mengawali gerakan ini bersama Sri Dewi Susanty (Santy), menceritakan latar belakang berdirinya Klabu.
"Awalnya dari kegelisahan para ibu-ibu ini yang sebenarnya dulu waktu masih muda, waktu belum menikah atau belum punya anak, itu punya hobi baca sebenarnya. Cuma ketika udah berkeluarga, kan kesibukannya luar biasa tuh ya ibu-ibu, apalagi udah punya anak. Jadi gimana caranya di sela-sela kesibukannya ini pengen lagi bisa meluangkan waktu untuk baca buku, tenggelam dengan cerita-cerita di buku lagi," tutur Santy menjelaskan pelan.
Gerakan ini tidak terlepas juga dengan batasan konsumsi digital. Pipit, sang inisiator Klabu, menegaskan bahwa media digital, terlepas dari sisi positifnya, kerap membawa dampak negatif terhadap kesadaran diri dan stabilitas emosional. "Sebenarnya kita ingin menjadi alternatif kegiatan untuk para ibu menyeimbangkan kehidupannya dari dunia digital juga. Jadi digital consumption-nya para ibu mungkin bisa dinetralisir dengan berkegiatan seputar literasi di Klabu," ujarnya. Saya setuju dengan pendapat itu. Sebab, tidak selalu hal baik yang tersebar di media sosial, melainkan ada hal negatif hingga provokatif yang jika tidak dibaca dengan baik akan menimbulkan perdebatan atau kesalahan perspektif.
Menurut Pipit, pendekatan Klabu sengaja dibuat ringan agar para ibu dapat kembali membiasakan diri membaca buku cetak yang belakangan sulit dilakukan akibat adiksi media sosial. Bagi salah satu anggota, Dinar, bergabung dengan Klabu adalah sarana coping mechanism yang efektif di sela-sela padatnya urusan domestik. Klabu memberikan jeda yang esensial dari rutinitas yang monoton dan melelahkan.
"Kalau baca di rumah itu ngantuk kadang-kadang. Karena susah juga nyari waktu untuk baca sendiri di rumah, kadang-kadang dengan aktivitas jadi ibu-ibu, makanya ketika Klabu itu bikin acara, apalagi di taman, taman-taman Jakarta ini kan bagus... saya datang, seperti ini aktivitasnya, dan lumayan recharge, alhamdulillah," kata Dinar. Interaksi sosial yang bermutu di dalam komunitas diakuinya memberikan kesegaran berpikir yang baru.
“Kita jadi bertemu, ngobrol, tapi ada yang diobrolin—esensial, substansif, ada value-nya gitu. Pulang-pulang jadi ada referensi lagi, ada perspektif baru dari buku-buku yang ibu-ibu lain baca,” tambah Dinar.
Saya pun merasakan kehangatan di sana. Dan dari kegiatan sharing, saya juga jadi mengetahui apa saja isi buku yang ibu-ibu baca ini, membuat saya nambah list bacaan untuk bulan depan.
Pentingnya Literasi Bagi Para Ibu

Klabu secara sadar menempatkan kesejahteraan psikologis ibu sebagai prioritas utama. Ibu yang sehat secara mental dan memiliki wawasan luas dinilai akan jauh lebih siap dalam mendidik anak-anaknya. Pipit memandang bahwa beban berat seorang ibu harus diimbangi dengan ruang aktualisasi yang memadai. "Membaca buku itu bisa jadi prioritas kesepian. Tapi di satu sisi, ibu-ibu juga sebenarnya perlu pintar karena kan yang pertama kali menghadapi anak-anak itu kan ibu. Jadi kita tuh melihat bahwa ibu tuh punya tugas penting. Tapi di satu sisi juga ibu tuh makhluk yang paling sibuk. Nah, gimana caranya bisa balance," urai Pipit mengenai visi komunitasnya.
Melalui metode yang sederhana–membaca bersama di taman, membawa bekal, dan membiarkan anak-anak bermain bebas–Klabu berhasil menciptakan ekosistem yang sehat. Kehadiran komunitas ini membuktikan bahwa peningkatan literasi perempuan tidak harus kaku, melainkan bisa berjalan beriringan dengan pemulihan kesehatan mental dan penguatan relasi sosial yang bermakna.
Berada di antara mereka, mendengarkan lembar demi lembar buku dibedah dengan penuh cinta, membuat saya sadar bahwa peduli pada literasi bukan sekadar tentang seberapa banyak buku yang tamat dibaca. Bagi para ibu ini dan juga saya, membaca adalah kegiatan untuk merawat kemanusiaan dan kewarasan. Liputan ini bukan sekadar liputan terakhir, melainkan sebuah pengingat bahwa di mana pun kaki melangkah, seasing apa pun tempat yang dituju, kita akan selalu menemukan jalan pulang jika dipersatukan oleh frekuensi yang sama, kecintaan pada setiap kata dan cerita. Setiap perjalanan mempunyai cerita yang berbeda dan semuanya mempunyai titik berharga masing-masing di dalam hati saya.