News

Sudah Saatnya Night Eating Syndrome Menjadi Perhatian Nasional

Sudah Saatnya Night Eating Syndrome Menjadi Perhatian Nasional
(Adobe Stock’s)

Makan larut malam sering kali dianggap sebagai konsekuensi dari lembur, begadang, atau kebiasaan sebelum tidur. Namun, bagi sebagian orang, dorongan untuk makan pada malam hari terjadi hampir setiap hari. Bahkan, mereka bisa terbangun dari tidur hanya untuk makan sebelum dapat kembali terlelap.

Dalam dunia kesehatan, kondisi tersebut dikenal sebagai Night Eating Syndrome (NES), yaitu gangguan makan yang ditandai dengan konsumsi makanan berlebihan pada malam hari. Menurut National Center for Biotechnology Information (NCBI), gangguan ini melibatkan konsumsi setidaknya 25 persen kalori harian setelah makan malam dan sering terbangun di malam hari untuk makan sebelum dapat kembali tidur. 

Sejumlah penelitian menunjukkan prevalensi NES pada mahasiswa mencapai 4,2 persen di Amerika Serikat, 7,3 persen di Arab Saudi, 5,8 persen di Mesir, hingga 23,4 persen di Malaysia. Sementara itu, penelitian pada dewasa muda di Pulau Jawa menemukan prevalensi NES mencapai 46,2 persen. 

Sayangnya, sampai saat ini NES di Indonesia masih belum banyak diketahui karena penelitian masih terbatas. Sebagian besar studi yang tersedia masih berfokus pada hubungan antara pola makan malam, kualitas tidur, dan kesehatan mental. Keterbatasan tersebut membuat kesadaran masyarakat Indonesia terhadap NES masih rendah.

“Kalau Night Eating ini kan sepertinya penelitiannya masih belum sebanyak di Indonesia, dari jurnal luar negeri juga saya baca di sini mereka masih actively diteliti,” ucap Psikolog, Dian Junita, M.Psi., (03/06/26). 

Tak Hanya Mengganggu Tidur, tetapi Juga Kesehatan Fisik

Dari sisi kesehatan fisik, menurut dr. Soen Iee Pranoto, berbaring setelah makan tidak dianjurkan. Hal ini menyebabkan terganggunya flap lambung yang menyebabkan komplikasi penyakit, seperti gastroesophageal reflux disease (GERD). 

“Karena setelah makan, kita kan harusnya nggak boleh langsung berbaring, takutnya kalau misalnya nanti flap di lambungnya itu terganggu, bisa menyebabkan GERD. Jadi, kalau kita makan sudah larut, itu bisa memengaruhi kualitas tidur karena kalau makan larut itu bisa menyebabkan GERD,” kata dr. Soen Iee (05/06/26). 

Dikutip dari Hello Sehat, pengidap NES sering kali mengalami kenaikan berat badan dan obesitas karena mendapatkan asupan kalori berlebih. Kondisi ini juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan lain, seperti diabetes, kolesterol tinggi, penyakit jantung, hipertensi, dan kanker. 

Saat Stres Berujung pada Makan Tengah Malam

Selain berdampak pada kesehatan fisik, NES juga berkaitan erat dengan kesehatan mental. Gangguan ini dapat memicu rasa malu, bersalah, hingga rendah diri, terutama ketika seseorang merasa kehilangan kontrol terhadap pola makannya.

“Kamu habis makan banyak, terus habis itu kamu guilty. Dia muntahin, itu kan sangat-sangat menumbuhkan shame atau rasa malu,” ujar Dian.

Psikolog Tosina Sagala menjelaskan, salah satu penyebab utama NES adalah stres, kecemasan, atau tekanan emosional yang tidak terselesaikan. Dalam kondisi tersebut, makan sering menjadi cara tercepat untuk memperoleh rasa nyaman sebelum kembali tidur.

“Ketika ada tekanan yang tidak kita beresin, tanpa kita sadari itu akan mengganggu fungsi hidup kita. Salah satunya adalah gangguan tidur,” jelas Tosina.

Bagaimana Night Eating Syndrome Ditangani?

Menurut Tosina, salah satu pendekatan yang dapat membantu penanganan NES adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Terapi ini membantu individu mengenali pola pikir yang memicu keinginan makan pada malam hari, kemudian mengubah pola tersebut secara bertahap.

Sementara itu, Dian mengatakan Acceptance and Commitment Therapy (ACT) juga dapat membantu individu yang memiliki kecenderungan NES, terutama jika disertai kecemasan atau gangguan pola makan lainnya.

ACT berfokus pada kemampuan seseorang menerima emosi, pikiran, maupun situasi yang tidak nyaman tanpa harus melampiaskannya melalui makanan. Pendekatan ini membantu individu membangun hubungan yang lebih sehat dengan emosinya sekaligus mengurangi kebiasaan makan pada malam hari.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda