News
From Zero to Hero, Kisah Kang Edai Bawa Budaya Osing Mendunia
Berada jauh dari riuh pusat ekonomi kota, terdapat sebuah desa kecil yang membentang seluas 177 hektare. Udara pedesaan yang asri berpadu dengan suara aktivitas warga menjadi pemandangan sehari-hari di desa yang terletak di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Ketenangan hingga keramahan para masyarakat sekitar langsung terpancar bagi siapa saja yang baru mengunjungi desa tersebut.
Inilah Desa Kemiren, salah satu desa wisata yang menjadi binaan dalam program Desa Sejahtera Astra (DSA) dari PT Astra International Tbk. Pesona Kemiren bukan sekadar hamparan sawah atau suasana pedesaannya, melainkan budaya Suku Osing yang masih dijunjung tinggi dan menjadi identitas masyarakatnya.
Setiap tahun, masyarakat rutin menggelar ritual Ider Bumi dan Tumpeng Sewu, sementara berbagai tradisi selametan seperti mitoni, nyukit lemah, selapan, mudun lemah, ngelabu nyingkal, ngelabu tandur, hingga mepeh kasur juga terus dilestarikan.
Beragam tradisi tersebut membuat Desa Kemiren memiliki kekayaan budaya yang khas dan menjadi pembeda dibandingkan desa lainnya, sekaligus menunjukkan bagaimana warisan leluhur tetap hidup dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di balik upaya menjaga wajah asli Kemiren sekaligus memperkenalkannya kepada dunia, ada sosok yang turut berdiri di garis depan, Moh Edy Saputro atau yang akrab disapa Kang Edai. Ia menjadi sosok penggerak Desa Kemiren yang diberi amanah untuk membawa cerita, budaya, dan potensi tanah kelahirannya agar dapat dikenal lebih luas hingga ke penjuru dunia.
From Zero to Hero
![Desa Wisata Adat Oseng Kemiren meraih juara 2 Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 Kategori Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang digelar Kementerian Pariwisata [Youtube/Desa Kemiren]](https://media.arkadia.me/v2/articles/rizkautami/clh56xhAyQ2nkWa4Sre6MBYdEjL6tT3r.png)
Di balik penampilannya yang sederhana, Edai ternyata memikul tanggung jawab besar untuk membawa desanya tetap menjunjung tradisi leluhur hingga mempertahankan kebudayaan yang menarik wisatawan mancanegara.
Dalam sebuah wawancara virtual yang dilakukan pada Sabtu, 1 Agustus 2026 lalu, Edai menuturkan bahwa dirinya dipilih Astra menjadi sosok penggerak di Desa Kemiren sejak 2024 lalu.
Sebelum menjadi bagian Desa Sejahtera Astra (DSA), Edai mengatakan bahwa desanya hanya berfokus pada bidang kewirausahaan saja, namun ternyata Astra melihat potensi besar di Desa Kemiren hingga akhirnya menambah tiga bidang lainnya yakni kesehatan, pendidikan, dan lingkungan.
Tentu saja, penambahan tiga bidang tersebut membuat Edai harus bekerja ekstra untuk mengerahkan seluruh dedikasinya agar desanya bisa semakin maju dan dikenal masyarakat luas.
Tak mudah bagi Edai menjalani perannya sebagai penggerak yang dituntut untuk cepat beradaptasi dengan tugas-tugas baru yang membutuhkan usaha serta tekad yang kuat untuk dijalankan.
Meski mengemban tugas yang berat, Edai tak menyebut itu sebagai duka, melainkan tantangan yang harus dihadapi selama menjalankan program DSA di Desa Kemiren.
“Kalau terkait suka duka mungkin lebih ke tantangan bagi kami untuk menjadi DSA. Yang pertama penyesuaian dengan program DSA ini, karena kami juga masih tergolong baru ya tahun 2024, jadi butuh penyesuaian dengan program yang dijalankan oleh Astra,” kata Edai, Sabtu (1/8/2026).
Edai tak menampik bahwa dirinya kerap mengalami persoalan saat menjalani berbagai program baru untuk desanya. Terlebih lagi, saat itu Kemiren menjadi desa yang paling baru bergabung DSA dibanding desa-desa lainnya.
Dengan kesungguhan dan tekad yang kuat, Edai terus mempelajari apa saja yang harus dilakukannya sebagai penggerak, termasuk mulai beradaptasi dengan tim yang baru.
“Akhirnya saya mulai menyesuaikan ‘oh saya harus seperti ini’ kami harus mengirimkan data dan lain sebagainya, nah itu kan butuh penyesuaian. Dan itu juga tidak langsung bisa memiliki hubungan yang langsung pas di grup terutama, jadi itu butuh penyesuaian yang cukup panjang,” kata Edai.
Momen itulah yang menjadi titik balik bagi Edai sebagai penggerak Desa Kemiren yang sedikit demi sedikit bisa memperkenalkan desanya ke mata dunia.
Program DSA Jadi Ladang Cuan Bagi Warga Desa Kemiren
![Desa Adai Osing Kemiren, salah satu desa binaan PT Astra International dalam program Desa Sejahtera Astra [YouTube/Desa Kemiren]](https://media.arkadia.me/v2/articles/rizkautami/g6yz7TfsIllvC8RlnodpIYII3SebXDCB.png)
Usaha dan kerja keras Edai yang juga tak lepas dari bantuan masyarakat Osing lainnya akhirnya berbuah manis. Beberapa program yang dijalankan DSA dalam kurun waktu dua tahun sudah bisa dinikmati hasilnya.
Edai mengungkapkan bahwa dari keempat program yang selama ini dijalani, program kewirausahaan yang paling berdampak dan memberikan hasil maksimal pada Desa Kemiren.
“Untuk program yang dari DSA Kemiren yang paling dirasakan mungkin yang pertama terkait kewirausahaan, karena kami sudah fokus atau prioritas kami di awal di bidang kewirausahaan, terutama di desa wisata fokus di bidang budaya, ya salah satunya di situ di bidang kewirausahaan yang paling berdampak,” ujar Edai.
Program DSA juga memberikan sejumlah dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat Osing di Desa Kemiren.
Saat ini terdapat 50 homestay dengan total 92 kamar yang dikelola oleh masyarakat, serta sekitar 40 pelaku usaha lokal yang bergerak di bidang kuliner, kerajinan, dan kopi.
Di sisi lain, sebanyak 40 anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) turut mengelola kegiatan wisata sekaligus menjaga kelestarian budaya setempat. Dampak ekonomi juga terlihat dari meningkatnya rata-rata pendapatan anggota Pokdarwis sekitar 33 persen, dari sebelumnya Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan.
Desa Kemiren juga mampu menarik lebih dari 3.000 kunjungan wisatawan setiap tahun, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Tak hanya berfokus pada sektor pariwisata dan ekonomi, program DSA turut memperkuat Posyandu serta layanan kesehatan ibu dan anak, mendukung PAUD sekaligus pengenalan budaya Osing sejak usia dini, serta mendorong pembentukan kelompok sadar lingkungan di tengah masyarakat.
Penghargaan yang Diterima
![Salah satu budaya lokal yang masih dilestarikan di Desa Kemiren [YouTube/Kementerian Pariwisata]](https://media.arkadia.me/v2/articles/rizkautami/IYsMd4LkBmNF6UD9mntKvsY7GJaVcJkr.png)
Berkat potensi yang dimiliki, Desa Kemiren berhasil membuktikan melalui torehan apresasi di bidang pariwisata, termasuk Penghargaan Wonderful Indonesia Impact dan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) oleh Kementerian Pariwisata, kemudian meraih ASEAN Tourism Award 2025.
Tak hanya di tingkat nasional, di tingkat internasional, Desa Kemiren juga terpilih sebagai bagian dari The Best Tourism Village Upgrade Program 2025.
Sebagai penggerak desa, Edai mengaku sangat bersyukur atas pencapaian yang diraih desanya tersebut. Ia bahkan terharu saat ia secara khusus ditunjuk untuk menghadiri ASEAN Tourism Award di Malaysia tahun lalu.
Baginya, desa yang menjadi tanah kelahirannya itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan bagian dari identitas dan budaya yang harus terus dijaga dan layak diperkenalkan kepada masyarakat dunia.