News
Kisah Desa Les Buleleng: Merawat Tradisi Nyegara Gunung dan Konservasi Alam Bersama Astra
Di pesisir utara Bali, Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng menyajikan narasi berbeda tentang arti sebuah kemajuan. Di saat banyak kawasan pesisir terbuai oleh modernisasi dan komersialisasi masif, warga desa ini justru memilih untuk memegang akar kuat pada warisan leluhur.
Desa Les adalah sebuah desa tua Bali Kuno. Dikenal dengan konsep alamnya yang nyegara gunung (bentang alam dari perbukitan hingga laut). Akses dan lokasi desa ini sekitar 3 jam berkendara dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, melewati jalur utama Singaraja-Amlapura.
Di Desa Les, kemajuan ekonomi dan pariwisata tidak dibayar dengan kehancuran lingkungan, melainkan dirawat secara berdampingan melalui harmoni antara laut, garam, dan tradisi. Keren kan?
Otak Keberhasilan Desa Les
Semua itu tidak terjadi begitu saja. Melainkan lahir dari semangat dan kerja keras putra daerahnya yang begitu gigih. Dialah Bli Nyoman.

Sosok Nyoman Nadiana (dikenal juga dengan sapaan akrab Bli Don Rare), adalah warga asli Desa Les yang menjadi otak semua kegiatan atau program yang memajukan desa tersebut hingga menjadi juara desa.
Sebagai tokoh penggerak lokal, sekaligus pemandu wisata, pengelola Desa Wisata Les yang sangat aktif mempromosikan potensi alam dan budaya Bali Utara kelahiran 11 Februari 1987 ini juga menjabat sebagai ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Segare Gunung, sekaligus Penggerak Kampung Berseri Astra (KBA) / Desa Sejahtera Astra di Desa Les. Hingga Desa Les berhasil meraih Juara Umum ADWI 2024.
Sejak menjadi bagian dari Desa Sejahtera Astra pada 2024, Desa Les tidak hanya mengembangkan potensi ekonomi lokal, tetapi juga memperkuat kualitas hidup masyarakat melalui program kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan.
Perubahan tersebut tercermin dari meningkatnya kapasitas masyarakat, terbukanya peluang kerja baru, berkembangnya UMKM lokal, hingga tumbuhnya kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan dan warisan budaya desa.
Astra mulai melakukan pendampingan melalui program Desa Sejahtera Astra di Desa Les sejak tahun 2024 dengan fokus pada penguatan ekonomi masyarakat, pelestarian budaya, pengembangan lingkungan, serta pengembangan desa wisata berbasis komunitas secara berkelanjutan.
Mengapa Astra berfokus pada pengembangan di desa? Kontribusi sosial Astra berfokus pada pengembangan masyarakat di wilayah pedesaan (rural area development). Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa pembangunan dan pemerataan ekonomi dimulai dari desa yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi dan karakter masyarakat desa yang bergotong royong menjadi tempat yang kondusif untuk menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan.
Sejalan dengan fokus tersebut, Astra melakukan penyelarasan terhadap berbagai program kontribusi sosial berkelanjutan yang telah berjalan untuk memperkuat dampaknya bagi masyarakat di wilayah pedesaan secara holistik.
Program Desa Sejahtera Astra dijalankan melalui empat bidang kontribusi sosial Astra, yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan. Keempat bidang tersebut menjadi dasar dalam pengembangan program pemberdayaan masyarakat yang disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan masing-masing desa.
Kontribusi dan Aktivitas Bli Nyoman di Desa Les
Melihat kontur alam Desa Les yang kaya akan sumber alam. Mulai dari gunung hingga laut, Bli Nyoman menjadi pelopor pariwisata berkelanjutan di tempat kelahirannya itu.
Ia memajukan Desa Les sebagai hidden gem di Bali Utara dengan konsep regenerative tourism, istilah untuk pariwisata yang memulihkan lingkungan, termasuk konservasi terumbu karang di laut Desa Les.
Di bidang lingkungan ini, Astra mendorong aksi iklim berbasis komunitas, termasuk perilaku adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta peningkatan kesiapsiagaan terhadap bencana.
Dari Bom Ikan menuju Konservasi Terumbu Karang

Menjaga Garam dan Tradisi: Kisah Desa Les Merawat Identitas di Tengah Kemodernan
Laut Desa Les menyimpan sejarah perjalanan spiritual masyarakatnya dalam merawat alam. Desa ini sempat mengalami kerusakan terumbu karang akibat praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan di masa lalu. Kelompok masyarakat lokal pimpinan Bli Nyoman bersama nelayan pun melakukan transformasi besar-besaran dengan mengambil langkah:
Restorasi Mandiri: Warga membentuk kelompok konservasi untuk mentransplantasi terumbu karang dan menghentikan penggunaan racun atau bom ikan.
Ekowisata Bahari: Kawasan pesisir yang dulunya rusak kini bertransformasi menjadi spot snorkeling dan diving berbasis konservasi, memberi penghidupan baru bagi para nelayan setempat.
Tidak hanya itu Bli Nyoman juga tidak pantang menyerah terus mengedukasi warga Desa Les mengenai budaya dan alam. Kontur alam desa yang nyegara gunung itu menjadi modal besar untuk terus mengenalkan kearifan lokal sebagai Bali Mula (desa tua) yang memiliki banyak tradisi dari nenek moyang mulai dari tradisi pembuatan garam tradisional (garam palungan), gula lontar, hingga penjelajahan alam dari bukit hingga ke laut.
Garam Tradisional: Mengolah Laut dengan Sentuhan Waktu
Salah satu penanda identitas paling kuat di Desa Les adalah tradisi pembuatan garam laut alami. Bertahan secara turun-temurun, para petani garam lokal menolak jalan pintas berteknologi tinggi demi mempertahankan kemurnian rasa dan kearifan lokal.

Diproses secara alami: Air laut dialirkan ke ladang tanah, dikeringkan di bawah terik matahari, lalu disaring menggunakan cetakan kayu (palungan) tradisional.
Memiliki kualitas unggul: Garam buatan Desa Les dikenal memiliki cita rasa gurih alami (tanpa rasa pahit berlebih) dan kaya akan mineral.
Memiliki nilai ekonomi dan nilai budaya: Tak sekadar komoditas dapur, garam Les kini menjadi daya tarik tourism experience di mana wisatawan dapat belajar langsung proses pembuatannya.
Semakin canggih teknologi, Bli Nyoman pun ikut memanfaatkannya sebagai fasilitas untuk memiliki kolaborasi yang lebih luas lagi. Bli Nyoman yang memiliki pikiran terbuka aktif menjalin kemitraan strategis dengan berbagai lembaga termasuk Bank Indonesia untuk pengembangan kapasitas ekonomi kreatif dan UMKM lokal di Buleleng.
Bermodalkan kekayaan dan tradisi kuat itu Bli Nyoman membawa semuanya hingga dikenal luas hingga penjuru dunia.
Di bidang kesehatan, Desa Les memiliki program yang fokus pada peningkatan kesehatan ibu dan anak, melalui peningkatan layanan kesehatan masyarakat serta upaya penurunan masalah malnutrisi.
Di bidang pendidikan, program penguatan kualitas pendidikan dasar dan kesiapan generasi muda menjadi hal yang diutamakan. Melalui peningkatan kualitas sekolah serta penguatan karakter dan kompetensi siswa kedepannya diharapkan generasi muda masyarakat Desa Les bisa bersaing secara global. Belajar bahasa Inggris menjadi salah satu fokus programnya.
Di bidang kewirausahaan, Astra mendorong transformasi ekonomi pedesaan, melalui penguatan usaha masyarakat serta peningkatan produktivitas, pemasaran dan kualitas produk.
Peran Generasi Muda: Pemegang Estafet Identitas
Kunci utama kelestarian Desa Les berada di tangan generasi mudanya. Lewat keterlibatan aktif dalam tata kelola Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) dan digitalisasi promosi desa, anak-anak muda Desa Les tidak meninggalkan desanya demi kota besar, melainkan membangun desa dengan perspektif baru.
Generasi muda ini mengemas tradisi garam dan konservasi laut menjadi atraksi edukatif tanpa menghilangkan kesakralan dan esensi aslinya. Desa Les membuktikan bahwa modernisasi tidak harus mengikis identitas; justru dengan menjaga tradisi, sebuah desa dapat berdiri tegak dan berdaya saing di tengah perubahan zaman.