Sore itu tak terbayang bagaimana ceria dan sumringah-nya para wali santri ketika mengetahui kalau kirim paket untuk para solgan (singkatan dari soleh ganteng, merujuk pada semua penghuni pesantren adalah santri putra) di PMDG Kampus 9 Sumbar sudah bisa berjalan lancar seperti biasa.
Yeay! Senang dong… Bagaimana tidak, walaupun Nagari Sulit Air di X Koto Diatas tempat pondok pesantren modern putra kami mondok tidak terkena bencana banjir secara langsung, tapi karena di Padang dan wilayah Sumatera Barat lainnya banyak terkena dampak galodo menyebabkan kerusakan fasilitas umum termasuk jalan dan jembatan di sana-sini, itu membuat pengiriman paket dari kami di Jawa ke sana sebulan terakhir ini tersendat cukup lama.
Seperti kita ketahui, akhir November 2025 kemarin telah terjadi bencana banjir bandang dan longsor yang menimpa wilayah Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Bencana Sumatera menimbulkan dampak masif. Ribuan korban jiwa dan hilang, ratusan ribu pengungsi, kerusakan parah pada rumah dan infrastruktur vital seperti sarana pendidikan, kesehatan, jalan, jembatan, tempat ibadah, serta kerugian ekonomi triliunan rupiah.
Semua itu tidak hanya menyebabkan trauma sosial dan gangguan mata pencaharian bagi masyarakat Sumatera saja, tapi juga berdampak pada wali santri di wilayah Nusantara lainnya yang anandanya mondok di PMDG khususnya Kampus 8 di Aceh dan Kampus 9 di Solok Sumatera Barat.
Kerusakan fisik akibat bencana tidak hanya melenyapkan beberapa desa hingga tak bersisa di wilayah yang terkena dampak parah seperti di Aceh. Tapi juga merusak infrastruktur di daerah terdekat lainnya seperti jalan rusak, jalan tertutup longsor hingga jembatan yang terputus.
Hal itu membuat aktivitas masyarakat lumpuh, akses terputus, dan munculnya gangguan rantai pasokan logistik.
Adanya trauma mendalam, hilangnya kepercayaan, dan ketidakpastian hidup tidak hanya dialami oleh warga Sumatera tapi juga kami para wali santri yang berdomisili di luar Pulau Andalas.
Sedih? Pasti. Was-was? Iya dong. Paket yang dikirim para ayah bunda untuk Soleh Ganteng di pondok itu tidak hanya berupa kotak berisi buntelan surat cinta dan gulungan ikatan rindu, belum lagi ditempeli sekian banyak titipan bungkusan kangen dari semua handai taulan di kampung, tapi ada juga sarung dan koko untuk ibadah, pengganti pakaian kotor yang karena intensitas hujan selalu cukup besar membuat pakaian ananda yang kotor dicuci tidak cepat kering.
Maklum di pondok, jumlah pakaian serba dibatasi, waktu mencuci juga tidak leluasa seperti kita di rumah sendiri. Kalau paketan baju baru perlengkapan ananda untuk ibadah itu belum sampai juga, bagaimana dengan pakaian bersih sebagai syarat sah shalat mereka?
Banyak anak pondok yang minta dikirim lauk untuk makan atau camilan kesukaan seperti kering tempe, balado kentang dan sebagainya karena dampak dari bencana itu, manajemen dapur pondok juga ikut tersenggol. Pasar tak menyediakan sayur mayur maupun lauk pauk seperti biasa dikarenakan pendistribusian ikut terganggu oleh morat-maritnya lalu lintas dan jembatan putus.
Biasanya paketan makanan dari Jawa ke pondok PMDG Kampus 9 paling lama memakan waktu seminggu kualitasnya masih oke. Tapi kalau muter-muter dulu bahkan ngendap sampai beberapa mingguan, apa masih sehat jika makanan favorit buatan bunda untuk solgan tercinta itu nanti dikonsumsi?
Belum lagi ada banyak keperluan mendesak anak-anak lainnya yang harus segera dipenuhi seperti peralatan olahraga, peralatan praktik ibadah dan perlengkapan sekolah lainnya mengingat bulan Desember 2025 di pondok diadakan acara pelatihan bekam dan pengurusan jenazah, kegiatan manasik haji, hingga “Gontor Nine Sport Championship” dalam rangka peringatan 100 tahun pondok PMDG.
Dan masih banyak lagi kekhawatiran para orang tua dengan adanya keterlambatan pengiriman paket selama bulan Desember untuk ananda di pondok. Kalau kiriman keperluan anak-anak terhambat yang repot tentu saja banyak pihak.
Alhamdulillah semua kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti. Semua santri bisa tepat waktu mengikuti berbagai kegiatan di sekolah dan pondok bulan Desember ini.
Perlu diketahui PMDG tempat putra saya menuntut ilmu memiliki kurikulum dan jadwal libur sendiri, tidak sama dengan sekolah atau pondok dibawah naungan Depdikbud ataupun Depag. Kalender pendidikan yang digunakan juga menggunakan penanggalan tahun Hijriah. Jadi waktu libur juga beda dengan sekolah pada umumnya di Indonesia yang menggunakan penanggalan tahun Masehi.
Maka jika akhir tahun ini pondok atau sekolah lain libur akhir semester, para solgan kami justru tengah disibukkan dengan berbagai kegiatan praktik dan hafalan. Alhamdulillah semuanya bisa dilaksanakan sesuai jadwal walau tetap ada sedikit kekurangan di sana-sini.
Semua itu tentu saja tidak lepas berkah dari pulihnya akses infrastruktur pasca bencana di Sumatera yang dilakukan pemerintah semaksimal mungkin. Sungguh ketangguhan masyarakat dan kerja sama lintas pihak jadi mood booster penambah semangat untuk terus berbenah dan memperbaiki berbagai pembangunan mulai dari jalan yang kembali terbuka hingga jembatan yang berdiri kokoh.
Pemerintah terus melakukan penanganan pasca bencana longsor dan banjir bandang. Khususnya di Provinsi Sumatera Barat, jembatan kembar Margayasa KM 67+000 di Silaiang Bawah, perbatasan Kota Padang Panjang dan Kabupaten Tanah Datar termasuk yang menjadi prioritas.
Penanganan difokuskan pada pengecekan menyeluruh struktur jembatan serta penguatan tebing Sungai Batang Anai demi bisa memastikan keselamatan dan keberlanjutan konektivitas jalur nasional Padang ke Bukittinggi dan daerah kota kabupaten lainnya, termasuk ke Kabupaten Solok dimana PMDG Kampus 9 berada.
Jembatan Kembar Margayasa merupakan titik krusial pada Jalur Nasional Padang dan Bukittinggi yang menghubungkan kawasan pesisir Kota Padang dengan wilayah dataran tinggi Bukittinggi dan sekitarnya. Keberadaan jembatan ini sangat vital bagi mobilitas masyarakat, distribusi logistik, serta aktivitas ekonomi di Sumatera Barat, khususnya di kawasan Lembah Anai.
Namun rupanya belum sempat bernafas lega dengan drama paketan untuk solgan di pondok yang muter-muter dulu karena terkendala akses yang terputus karena bencana, jantung kami harus kembali dipompa ketika mendapatkan kabar anak di pondok sakit.
Sebagaimana diceritakan anak saya, juga laporan dari para ustadz, awalnya yang dirasa itu sakit kepala, pusing, batuk dan demam. Sehingga sebagaimana santri sakit pada umumnya, diberi izin tidak sekolah dan berkegiatan lain, melainkan istirahat di Balai Kesehatan Pondok.
Namun karena demam anak saya yang tidak kunjung turun hingga akhirnya dirujuk ke Puskesmas Sulitair. Santri lain ada yang dirujuk ke RSUD dan UGD di Kota Solok.
Tidak diduga yang sakit seperti itu bukan hanya satu atau dua orang saja, melainkan serempak belasan sekaligus. Entah karena mereka itu saling tertular, atau memang sama-sama kondisi badan sedang ngedrop.
Karena bulan Desember bagi santri PMDG memang full aktivitas termasuk kegiatan praktik dan hafalan. Ditambah cuaca yang drastis berubah-ubah tidak bisa diprediksi memungkinkan kondisi mereka jadi rentan sakit. Ada kemungkinan juga sakit ini salah satu dampak dari bencana yang terjadi sebulanan ini.
Salut dengan kesigapan berbagai aparat yang langsung kebut melakukan penanganan bencana Sumatera.
Andai tidak gercep dan fokus pada buka akses konektivitas, memulihkan layanan air bersih dan sanitasi, entah sampai kapan penyakit akan terus menghinggapi masyarakat di sana, termasuk ananda kami. Sarana air bersih beberapa waktu lalu memang sulit dan kemungkinan penyakit muncul dari sana.
Percepatan penanganan dampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat melalui langkah tanggap darurat lintas sektor, seperti bidang sumber daya air, bina marga, dan cipta karya terbukti bisa mereda semua ketegangan yang sempat terjadi.
Tiga hari rawat inap di puskesmas anak saya diperbolehkan kembali ke pondok dengan fasilitas air bersih dan lainnya yang sudah lebih baik. Alhamdulillah.
Tak sia-sia pemerintah menurunkan ribuan personel serta memobilisasi ratusan unit alat berat dan pendukung untuk membuka kembali akses konektivitas, memulihkan layanan air bersih dan sanitasi, serta menormalkan sungai dan jaringan irigasi di wilayah terdampak demi penanggulangan pasca bencana Sumatera.
Penanganan pada pemulihan jalan dan jembatan nasional meski belum menjangkau daerah terisolir tapi sudah banyak membuka banyak kelancaran pendistribusian.
Dari berita yang saya akses 18 Desember lalu, di Aceh, dari 38 ruas jalan nasional terdampak, sebanyak 26 ruas telah fungsional. Semoga sisanya yang masih dalam tahap perbaikan dan pemasangan jembatan bailey bisa segera terselesaikan.
Di Sumatera Utara, 10 dari 12 ruas jalan nasional yang terdampak telah kembali berfungsi. Sementara di Sumatera Barat, 29 dari 30 ruas jalan nasional terdampak telah fungsional dan ditargetkan sepenuhnya pulih sebelum akhir Desember 2025.
Tak kalah pentingnya di sektor sumber daya air, penanganan cepat normalisasi sungai, perbaikan bendungan, dan rehabilitasi jaringan irigasi semua itu turut andil dalam penyediaan air bersih yang sangat dibutuhkan semua orang. Walaupun masih darurat setidaknya bisa merehabilitasi bertahap untuk menjaga ketahanan pangan daerah.
Sangat bersyukur dengan kesigapan seluruh jajaran aparat yang terus siaga untuk memastikan penanganan bencana berjalan cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran.
Walau masih ada kekurangan di beberapa titik namanya juga proses ya, semuanya memang tidak bisa serba instan. Segitu saja masyarakat mah sudah mengucapkan syukur.
Adanya upaya yang serba sat set demi pemulihan konektivitas dan layanan infrastruktur dasar menjadi prioritas agar aktivitas masyarakat dan perekonomian daerah dapat segera kembali normal saja rasanya sudah bikin kami lega.
Buktinya para wali santri di group yang di awal saya ceritakan di atas itu. Saat tahu kalau pengiriman paket ke pondok sudah berjalan normal, segitu aja udah bahagia luar biasa kami tuh.
Setidaknya kirim paket untuk buah hati tak lagi gambling menerka-nerka kapan ya sampainya? Bakalan nyangkut di jalan apa enggak ya… Karena akses sudah terbuka dan seluruh infrastruktur terdampak nyaris sudah tertangani secara menyeluruh berkat kerjasama pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, BUMN, dan masyarakat setempat.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS