News
Dari Lasagna Kimpul hingga Cheesecake Ubi: Modernisasi Pangan Lokal Agar Tak Sekadar Alternatif
Umbi-umbian alias polo pendhem kini sedang ngetren di media sosial, berkat konten dari seorang TikTokers yang mengganti bahan makanan dengan aneka umbi, seperti kimpul, gembili, ketela, dsb.
Tren ini berdampak positif, netizen terutama anak-anak muda yang jarang tahu soal umbi-umbian jadi penasaran dan akhirnya banyak yang ingin mencoba. Selain itu, ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari 'tren kimpul' ini. Berikut ulasannya.
Kita Tidak Kekurangan Bahan Pangan
Tren mengolah umbi-umbian ini bisa dijadikan pengingat bahwa di sekitar kita masih banyak bahan pangan yang sebenarnya sudah lama dikenal masyarakat.
Kimpul bukan tanaman baru, begitu pula dengan singkong, ganyong, suweg, gembili, garut, dan sorgum. Masalahnya, bahan-bahan tersebut jarang muncul dalam menu sehari-hari sehingga yang kita tahu, karbohidrat hanya berasal dari nasi/beras.
Kecanduan Beras dan Terigu
Nasi seolah menjadi makanan yang wajib ada di meja, bahkan banyak orang merasa belum makan kalau belum menyantap nasi. Selain itu, ada tepung terigu yang menjadi bahan yang sangat mudah ditemukan dan digunakan untuk berbagai makanan.
Kebiasaan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Namun, ketergantungan pada beberapa bahan pangan membuat pilihan kita jadi pilih-pilih.
Jadi, ketika ada bahan lain yang sebenarnya bisa diolah, kita justru sering menganggapnya sebagai makanan yang kurang menarik.
Tak Harus Meninggalkan Nasi, tapi Memperbanyak Pilihan
Kita tidak harus tiba-tiba berhenti makan nasi dan menggantinya dengan kimpul atau singkong, bagaimanapun sesuatu yang dilakukan tiap hari akan sulit dihentikan.
Namun, kita bisa memperbanyak pilihan makanan yang kita konsumsi, sehingga tidak harus nasi. Sesekali kita bisa makan olahan kimpul, ganyong, sorgum, atau singkong.
Kalau masih aneh dengan rasanya, trik dari influencer di TikTok itu bisa ditiru, yakni dengan menyajikannya menjadi makanan modern.
Pangan lokal tidak harus selalu disajikan dengan cara yang sama seperti puluhan tahun lalu, yang hanya direbus atau dikukus saja.
Kimpul misalnya, bisa dikembangkan menjadi camilan seperti cheesecake, lasagna, bahkan pizza. Begitu pula dengan singkong dan sorgum.
Jadi, yang perlu dilestarikan bukan hanya tanamannya, tetapi juga perlu ada inovasi dalam cara mengolah, mengemas, dan memperkenalkannya.
Semakin Biasa Semakin Baik
Sering kali pembicaraan mengenai pangan alternatif seperti ini baru muncul ketika harga beras meningkat, pasokan terganggu, atau ada kekhawatiran mengenai ketahanan pangan. Padahal, mengenalkan pangan alternatif seharusnya dilakukan jauh sebelum kondisi tersebut terjadi.
Kalau masyarakat sudah terbiasa dengan berbagai sumber pangan, kita tidak akan terlalu bergantung pada satu jenis bahan saja. Harga naik dan kelangkaan pun bisa lebih mudah disiasati.
Indonesia memiliki banyak sumber pangan yang bisa diolah dan dimakan jadi masakan sehari-hari, kita tidak perlu menunggu momen tertentu untuk menikmati singkong keju, lasagna kimpul, dan cheesecake ubi ungu
Mungkin yang perlu kita tingkatkan adalah kesadaran akan keberagaman bahan pangan serta ide kreatif untuk mengolahnya. Bukan hanya sekadar mengikuti tren, tapi juga mempertahankannya dan menjadikannya kebiasaan.
Jika tren ini bisa bertahan lebih lama dan berkembang menjadi kebiasaan, pangan lokal tidak lagi sekadar menjadi alternatif ketika harga beras naik atau pasokan terganggu.
Kimpul, singkong, ganyong, gembili, suweg, garut, hingga sorgum bisa kembali menjadi bagian dari makanan sehari-hari. Sebab, mungkin kita sebenarnya bukan kekurangan bahan pangan, melainkan terlalu terbiasa memilih beberapa di antaranya. Jadi, apakah kamu mulai tertarik makan umbi-umbian?