News

Darurat Karhutla Kalimantan: Saat Jutaan Manusia dan Satwa Endemik Berebut Ruang Napas

Darurat Karhutla Kalimantan: Saat Jutaan Manusia dan Satwa Endemik Berebut Ruang Napas
Ilustrasi Karhutla Kalimantan (unsplash.com/Matt Howard)

Karhutla Kalimantan kembali menjadi perhatian pada Agustus 2026. Bukan hanya karena api membakar lahan, tetapi karena dampaknya menyentuh dua kehidupan sekaligus yakni manusia yang tinggal di sekitar kawasan terdampak dan satwa endemik yang kehilangan habitatnya. Kebakaran hutan dan lahan akhirnya bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan persoalan kesehatan dan keberlangsungan kehidupan.

Satwa seperti Orangutan, Bekantan dan lainnya terancam, karena rumah mereka sudah dijarah oleh api yang tidak bertanggung jawab. Biasanya satwa ini bergerak dari satu pohon ke pohon lain, bekantan mencari makan di sekitar kawasan rawa dan sungai, sementara berbagai jenis burung menjadikan hutan sebagai rumah.

Kondisi tersebut semakin serius karena data resmi Kementerian Kehutanan mencatat peningkatan titik panas di sejumlah wilayah Kalimantan. Pada 19 Agustus 2026, terdapat 518 hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Kemudian selama 17–19 Agustus, jumlahnya meningkat hingga 750 hotspot di tiga provinsi tersebut. Perlu dipahami, hotspot bukan berarti jumlah kejadian kebakaran karena satu kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik panas.

Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah dengan dampak cukup besar. Data BPBD Kalimantan Barat hingga Agustus 2026 mencatat luas area yang terbakar mencapai 38.310,86 hektare sejak Januari. Luasan tersebut menunjukkan bahwa persoalan karhutla bukan kejadian kecil yang bisa selesai hanya dengan memadamkan beberapa titik api.

Situasi tersebut membuat langkah tindakan cepat dan terukur pada operasi pengendalian karhutla. Sebanyak 12.880 personel gabungan dilibatkan dalam operasi di Kalimantan, termasuk Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BPBD, Masyarakat Peduli Api, pemerintah daerah, relawan, dan unsur masyarakat.

Ada alasan mengapa perhatian terhadap Kalimantan begitu besar. BMKG juga memperingatkan bahwa puncak risiko karhutla berlangsung pada musim kemarau, terutama sekitar Agustus–September. Hingga 29 Juli 2026 lalu, BMKG telah mendeteksi 5.019 titik panas di sejumlah wilayah Indonesia, dengan dominasi antara lain di Kalimantan Barat. Kondisi tersebut diperburuk oleh kemarau kering dan pengaruh El Niño kuat.

Bagi manusia, kebakaran berarti asap dan udara yang tidak nyaman. Bagi satwa, kebakaran bisa berarti hilangnya tempat untuk mencari makan, berlindung, berkembang biak, bahkan berpindah.

Kalimantan merupakan salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi. Orangutan Kalimantan, bekantan, owa, burung rangkong, pesut Mahakam, hingga berbagai jenis reptil dan amfibi hidup dalam ekosistem yang saling terhubung.

Dokumen Status Lingkungan Hidup Indonesia mencatat perubahan tutupan hutan menjadi ancaman bagi sejumlah satwa endemik dan terancam punah di Kalimantan. Orangutan Kalimantan bahkan berstatus Critically Endangered atau terancam punah kritis.

Karhutla membuat persoalan tersebut menjadi semakin rumit. Ketika sebagian habitat terbakar, satwa yang berhasil menyelamatkan diri harus mencari wilayah baru. Perpindahan itu dapat mempersempit ruang hidup, mengurangi sumber makanan, dan meningkatkan kemungkinan konflik dengan manusia.

Dampak karhutla Kalimantan dan satwa endemik tidak berhenti ketika api padam. Hutan membutuhkan waktu untuk pulih. Pohon membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali, sumber makanan perlu tersedia, dan satwa membutuhkan ruang yang aman untuk kembali menjalani kehidupannya.

Asap karhutla juga mengancam masyarakat. Pada 21 Agustus 2026, Kementerian Kesehatan menyebut lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota terdampak langsung kabut asap akibat karhutla di tujuh provinsi, termasuk Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Kemenkes juga melaporkan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah wilayah.

Di Kalimantan Tengah, kasus ISPA meningkat dari 402 menjadi 716 kasus hanya dalam satu minggu, atau sekitar 78,1 persen. Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat lebih dari 151 ribu kasus ISPA sejak Januari 2026. Data tersebut membuat kabut asap tidak bisa lagi dianggap sebagai gangguan biasa.

Asap kebakaran mengandung partikulat halus, terutama PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Organisasi Kesehatan Dunia menjelaskan bahwa asap kebakaran dapat menimbulkan ISPA yang di mana iritasi saluran pernapasan, memperburuk asma, memicu sesak napas, serta meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.

Ada ironi dalam tragedi karhutla. Api mungkin hanya terlihat beberapa hari, tetapi dampaknya dapat bertahan jauh lebih lama. Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan. Ada rumah satwa, sumber air, sumber pangan, udara bersih, dan ruang hidup masyarakat. Ketika asap masuk ke permukiman, persoalannya berubah menjadi ancaman kesehatan seperti ISPA. Ketika habitat menyempit, satwa dapat semakin dekat dengan manusia dan konflik pun berpotensi meningkat.

Agustus 2026 menjadi pengingat bahwa kebakaran hutan dan lahan bukan hanya cerita tentang api. Di balik kepulan asap, ada orangutan yang mencari tempat aman, ada bekantan yang kehilangan ruang hidup, dan ada keluarga yang harus berhati-hati menghirup udara di rumah sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda