News

KKN-MAs Kelompok 19 Kenalkan Dimsum Lele untuk PMT Balita di Puthukrejo

KKN-MAs Kelompok 19 Kenalkan Dimsum Lele untuk PMT Balita di Puthukrejo
Mahasiswa KKN-MAS Kelompok 19 bersama ibu-ibu balita setelah kegiatan pemberian makanan tambahan dan edukasi gizi di PAUD 'Ainul Yaqin, Dusun Puthukrejo, Desa Pandanrejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. (Dok.Pribadi)

Mahasiswa KKN-MAs Kelompok 19 menggelar kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sekaligus edukasi gizi bagi balita di PAUD 'Ainul Yaqin, Dusun Puthukrejo, Desa Pandanrejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung program PMT yang telah berjalan di masyarakat sekaligus memperkenalkan alternatif menu berbahan pangaisin lokal kepada para ibu balita.

KKN-MAs merupakan program yang melibatkan perguruan tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah dari berbagai daerah di Indonesia, dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai tuan rumah pelaksanaan program. Dalam kegiatan di Puthukrejo, mahasiswa tidak hanya memberikan makanan tambahan, tetapi juga mengajak orang tua memahami pentingnya pemenuhan gizi balita dan mengenalkan inovasi menu yang dapat diterapkan kembali di rumah.

Setiap balita yang hadir mendapatkan satu paket PMT yang terdiri atas dimsum lele, nasi jagung, sarang burung tahu, sayur wortel dan oyong, serta buah semangka. Dari rangkaian menu tersebut, dimsum lele menjadi salah satu inovasi yang diperkenalkan mahasiswa sebagai alternatif olahan pangan untuk PMT balita.

Dimsum Lele Jadi Inovasi dalam Paket PMT Balita

Tampilan Satu Paket Menu PMT Berbasis Bahan Lokal
Tampilan Satu Paket Menu PMT Berbasis Bahan Lokal

Pemilihan lele sebagai bahan utama dimsum dilakukan dengan mempertimbangkan kandungan protein hewani yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan gizi balita. Rahma Putri Ayu F, penanggung jawab program dari sisi mahasiswa gizi, menjelaskan alasan pemilihan bahan tersebut.

“Lele kami pilih karena kandungan proteinnya tinggi. Harapannya menu ini bisa membantu memenuhi kebutuhan protein hewani balita di sini,” ujar Rahma.

Berdasarkan perhitungan menggunakan aplikasi NutriSurvey, satu porsi dimsum lele dalam paket PMT tersebut mengandung sekitar 140 kkal energi dan 11 gram protein. Angka tersebut menjadi bagian dari pertimbangan mahasiswa dalam memperkenalkan dimsum lele sebagai salah satu alternatif menu PMT berbahan pangan lokal.

Selain memperkenalkan produk, mahasiswa juga memberikan panduan agar menu tersebut tidak berhenti pada saat kegiatan berlangsung. Peserta mendapatkan selebaran berisi resep dimsum lele dan menyaksikan video tutorial pembuatannya yang ditayangkan saat sosialisasi.

Melalui panduan tersebut, orang tua dapat mengetahui bahan dan tahapan pengolahan dimsum lele sehingga memiliki referensi apabila ingin membuatnya kembali di rumah.

Edukasi Gizi Diperkuat dengan Panduan Pengolahan

Mahasiswa KKN MAs Kelompok 19 memberikan Penjelasan kepada Ibu Balita
Mahasiswa KKN MAs Kelompok 19 memberikan Penjelasan kepada Ibu Balita

Alizah Rimanan, penanggung jawab program dari sisi ketahanan pangan, mengatakan bahwa pemanfaatan bahan pangan lokal menjadi salah satu hal yang ditekankan dalam kegiatan tersebut.

“Kami ingin memperkenalkan bahwa bahan pangan lokal juga bisa diolah menjadi menu PMT yang menarik untuk anak. Harapannya, ibu-ibu tidak hanya menerima makanan tambahan, tetapi juga mendapatkan inspirasi untuk mengolah bahan yang ada di sekitar menjadi menu yang bisa diterapkan di rumah,” ujar Alizah.

Respons terhadap inovasi tersebut juga datang dari orang tua balita yang mencicipi langsung dimsum lele. Cahyati, wali dari Kelvin, mengaku sebelumnya belum mengetahui bahwa lele dapat diolah menjadi dimsum karena selama ini lebih sering mengolahnya dengan cara digoreng.

“Ternyata lele bisa dimanfaatkan jadi dimsum, soalnya biasanya cuma digoreng. Dari segi rasa enak dan kerasa lelenya, cuma agak kurang asin kalau buat lidah orang dewasa. Tapi kalau buat anak, kayaknya pas,” ujar Cahyati.

Selain pemberian PMT dan pengenalan menu, mahasiswa memberikan edukasi mengenai stunting dan PMT. Materi yang disampaikan mencakup pengertian stunting, dampak terhadap tumbuh kembang anak, pentingnya gizi seimbang pasca 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), serta langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk mendukung pemenuhan gizi balita.

Pemahaman peserta mengenai stunting dan PMT sejak awal sudah tergolong tinggi. Hal tersebut terlihat dari rata-rata skor pre-test yang mencapai 92 dari 22 peserta. Setelah mengikuti edukasi, rata-rata skor post-test meningkat menjadi 95.

Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun peserta telah memiliki pemahaman awal yang baik, penyampaian materi tetap memberikan tambahan pengetahuan mengenai stunting dan pemberian makanan tambahan.

Penutup

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-MAs Kelompok 19 tidak hanya memperkenalkan satu menu baru dalam pemberian makanan tambahan, tetapi juga memberikan pengetahuan dan panduan menu lengkap sebagai gizi seimbang yang dapat digunakan kembali oleh orang tua.

Dimsum lele menjadi salah satu contoh bahwa bahan pangan yang mudah ditemukan dapat diolah menjadi menu PMT yang lebih beragam, sementara edukasi gizi dan stunting diharapkan dapat membantu orang tua memahami pentingnya pemenuhan gizi balita dalam kehidupan sehari-hari.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda