News

Forum BEM DIY Demo di Jogja, Bawa 10 Tuntutan ke Pemerintah

Forum BEM DIY Demo di Jogja, Bawa 10 Tuntutan ke Pemerintah
Forum BEM DIY membacakan pernyataan sikap secara serentak saat menggelar aksi demonstrasi di kawasan Titik Nol Kilometer, Yogyakarta, Kamis (27/8/2026). (Istimewa/Tim Yoursay.id)

Yogyakarta — Forum BEM Se-DIY menggelar aksi demonstrasi di Yogyakarta pada Kamis (27/8/2026) dengan membawa 10 tuntutan kepada pemerintah. Massa bergerak dari kawasan eks Parkiran Abu Bakar Ali menuju sejumlah titik aksi, termasuk DPRD DIY dan Gedung Agung, sebelum mengakhiri aksi di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta.

Seruan aksi tersebut sebelumnya disampaikan melalui akun Instagram Forum BEM DIY dengan mengusung tema “Dijajah Sentralistik, Bangun Persatuan, Rebut Daulat Rakyat”. Aksi mengundang BEM se-DIY serta berbagai elemen gerakan mahasiswa dan rakyat untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah dan kondisi demokrasi di Indonesia.

Dalam orasi politiknya, Presiden Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Diaz, menyebut persoalan sentralisasi kekuasaan sebagai salah satu akar persoalan yang ingin mereka soroti. Ia mengaitkannya dengan persoalan pengelolaan sumber daya alam dan kebijakan pembangunan di daerah.

“Ini adalah salah satu dampak nyata dari terlampau sentralistiknya kebijakan yang diambil oleh negeri ini. Tanah rakyat di daerah dirampas, tetapi kekayaannya justru mengalir ke perut-perut para oligarki,” ujar Diaz dalam orasinya di hadapan massa aksi.

Diaz juga menegaskan bahwa aksi tersebut tidak membawa seruan makar, kerusuhan, maupun separatisme. Menurutnya, mahasiswa justru membawa gagasan mengenai penguatan desentralisasi dan federalisme sebagai bentuk kritik terhadap konsentrasi kewenangan pemerintah pusat.

“Kita tidak membawa seruan makar, kerusuhan, ataupun separatisme. Kita membawa seruan semangat federalisme,” katanya.

Koordinator Umum sekaligus Koordinator Aksi Forum BEM Se-DIY, Faturahman Jaguna, mengatakan aksi tersebut melibatkan perwakilan dari sejumlah kampus di Yogyakarta. Di antaranya Universitas Sanata Dharma, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Proklamasi 45, STPMD APMD, Universitas Respati Yogyakarta, Universitas Janabadra, dan Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto.

Faturahman mengatakan Forum BEM Se-DIY dibentuk sebagai ruang kolektif bagi BEM di Yogyakarta, termasuk BEM yang memiliki afiliasi dengan jaringan nasional berbeda. Menurutnya, forum tersebut berfokus pada pengawalan isu publik dan konsolidasi gerakan mahasiswa di tingkat regional.

“Aksi hari ini dihadiri oleh para koordinator lapangan dari berbagai kampus di Yogyakarta. Sejumlah kampus lain juga mengonfirmasi akan menyusul setelah menyelesaikan agenda internal di kampus masing-masing,” ujar Faturahman dalam keterangannya saat ditemui oleh tim suara.com di tengah-tengah perhelatan aksi tersebut.

Ia menyebut Forum BEM Se-DIY telah melakukan empat kali konsolidasi sebelum aksi berlangsung, yakni pada 23, 24, 25, dan 26 Agustus 2026. Konsolidasi tersebut menghasilkan 10 tuntutan yang kemudian dibawa dalam aksi.

Dalam pernyataan sikapnya, Forum BEM Se-DIY menyebut sepuluh tuntutan tersebut mencakup: 

  1. Memperkuat otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.
  2. Transparansikan RUU Perampasan Aset dan segera sahkan.
  3. Hentikan sentralisasi pengelolaan sumber daya alam.
  4. Lakukan reformasi total Kepolisian Republik Indonesia.
  5. Hentikan militerisme dalam kehidupan sipil.
  6. Sahkan RUU Masyarakat Adat dan perkuat hak masyarakat kepulauan.
  7. Wujudkan pendidikan gratis, ilmiah, demokratis, dan berkeadilan.
  8. Lakukan reformasi total partai politik dan birokrasi.
  9. Perkuat pengawasan dan akuntabilitas penyelenggara negara.
  10. Evaluasi total dan pertanggungjawaban kebijakan kehutanan atas bencana kebakaran hutan di Indonesia.

“Demokrasi bukan sekadar mencoblos lima tahun sekali. Demokrasi adalah keberanian rakyat untuk mengawasi kekuasaan di setiap waktu,” demikian petikan pernyataan sikap Forum BEM Se-DIY yang dibacakan serempak sebelum aksi berakhir. 

Faturahman mengatakan aksi tersebut bukan menjadi akhir dari gerakan Forum BEM Se-DIY. Jika tuntutan mereka tidak mendapatkan respons, pihaknya membuka kemungkinan memperluas eskalasi bersama berbagai aliansi mahasiswa di Yogyakarta.

“Kami akan terus mengevaluasi perkembangan situasi untuk membangun eskalasi dan konsolidasi aliansi yang lebih besar,” ujarnya.

Sementara itu, Jono, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengaku mengikuti demonstrasi karena resah terhadap tata kelola kekuasaan beberapa waktu terakhir. Ia menilai isu sentralisasi dan otonomi daerah sebagai tuntutan yang paling dekat dengan keresahannya.

“Poin yang paling dekat dengan saya justru bukan RUU Perampasan Aset, melainkan kritik terhadap bentuk negara kesatuan yang terlalu sentralistik,” kata Jono saat diwawancarai oleh Tim Suara.com.

Menurut Jono, sejumlah kebijakan pembangunan di daerah membuatnya mempertanyakan sejauh mana pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk menentukan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan wilayah masing-masing.

Pada akhirnya, aksi Forum BEM Se-DIY berakhir di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Sebelum membubarkan diri, massa kembali menyuarakan tuntutan mereka sekaligus menyerukan agar gerakan mahasiswa dan masyarakat terus mengawal jalannya kekuasaan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda