facebook

Ada Apa saja di Jalur Candi Cetho Gunung Lawu?

Firsta
Ada Apa saja di Jalur Candi Cetho Gunung Lawu?
Padang rumput setelah Pasar Dieng (Pasar Bubrah Gunung Lawu) menuju puncak

Aktivitas mendaki gunung saat ini tengah menjadi kegiatan yang digemari oleh berbagai kalangan terutama anak muda. Didukung dengan semakin berkembangnya media sosial yang mengabadikan jutaan keindahan di gunung, mendorong semakin banyaknya peminat kegiatan satu ini.

Tantangan dalam medan pendakian, keindahan yang di dapatkan sepanjang perjalanan dan rasa kepusan ketika telah mencapai puncak membuat telah membuat banyak orang menyukai aktivitas pendakian gunung. Bagi travelovers yang yang sedang bingung mencari destinasi untuk kegiatan pendakian, Gunung Lawu bisa menjadi pertimbangan bagi travelovers.

Gunung Lawu memiliki beberapa jalur pendakian, dan salah satu jalur pendakian yang cukup terkenal yaitu via Candi Cetho. Kenapa jalur tersebut dinamakan Candi Cetho? Hal itu karena pintu masuk jalur pendakian ini berada di Candi Cetho. Sehingga  travelovers bisa mendapatkan dua destinasi sekaligus dalam satu tempat.

Jalur pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho, merupakan jalur yang cocok untuk travelovers coba jika menginginkan perjalanan yang santai karena dan telah mengalokasikan lebih banyak waktu dalam pendakian. Jalur Candi Cetho dikenal sebagai trek terpanjang dari Gunung Lawu dan menyimpan berbagai bonus keindahan alam.

Dalam pendakian ini, travelovers dapat mengalokasikan waktu dua hingga tiga hari tergantung kecepatan setiap orang. Pendakian via Candi Cetho dari basecamp hingga puncak setidaknya memerlukan waktu sekitar 10 hingga 14 jam. Dari basecamp hingga puncak, travelovers akan melewati beberapa pos antara lain Pos 1, Pos 2, Pos 3, Pos 4, Pos 5 yaitu bulak peperangan, Gupak Menjangan, Pasar Dieng, Hargo Dalem, dan puncak Gunung Lawu Hargo Dumilah.

Perjalanan dimulai dari basecamp, pada pintu masuk jalur pendakian, travelovers diharuskan mendaftar dengan mengisi formulir, pemeriksaan identitas dengan KTP atau SIM, dan membayar biaya sebesar Rp15.000 setiap orang. Kemudian perjalanan menuju pos 1 dimulai dengan melewati perkebunan warga yang cukup luas, travelovers dapat bertemu dengan penduduk sekitar yang tengah berkebun, perjalanan.

Setelah memasuki kawasan hutan, jalan yang dilalui mulai sedikit menanjak. Sepanjang jalur, travelovers akan melihat hutan dengan pepohon besar dan semak belukar di tepi jalur. Pos pertama ditandai dengan adanya shelter. Tidak jauh berjalan dari pos pertama trvelovers akan menemui pos kedua. Pos kedua ditandai dengan adanya shelter dan cukup lapang untuk mendirikan beberapa tenda. Perjalanan dari pos pertama hingga pos kedua masih didominasi oleh hutan dengan pepohonan yang lebat dan semak belukar.

Setelah dari pos kedua, travelovers dapat melanjutkan perjalanan menuju pos ketiga. Kondisi trek akan semakin terjal. Jarak pos kedua hingga pos ketiga cukup jauh, namun dalam perjalanan menuju pos ketiga, travelovers dapat menemukan sumber air yang dialirkan melalui pipa. Sumber air ini memang diperuntukkan bagi para pendaki untuk persediaan air minum.

Perjalanan menuju pos ketiga masih didominasi oleh hutan lebat dan semak belukar, jika beruntung, travelovers akan bertemu dengan burung endemik di Gunung Lawu yaitu Jalak Lawu. Jalak Lawu memiliki perilaku yang unik. Burung ini akan terbang mendekati pendaki dan burung ini akan turut berjalan di depan para pendaki seakan menunjukkan jalan menuju puncak kepada para pendaki.

Pos Ketiga juga ditandai dengan adanya shelter bertuliskan pos 3. Perjalanan dilanjutkan menuju pos keempat. Trek menuju pos keempat semakin curam dan terjal, namun jarak dari pos ketika tidak terlalu jauh. Saat musim kemarau, kondisi jalan akan cukup sulit dilalui karena jalur sangat berdebu.

Bagi pendaki dengan banyak rombongan, atau ketika jalur pendakian sedang ramai akan membuat sesak karena kesulitan bernapas akibat debu yang beterbangan. Dari pos ketiga menuju pos keempat dominasi vegetasi mulai mengalami peralihan, pepohonan besar yang lebat dan semak belukar tidak lagi mendominasi. Pos keempat ditandai dengan adanya sebuah shelter.

Terlepas dari pos keempat menuju pos kelima, travelovers akan menemui trek jalur pendakian yang lebih landai. Jika beruntung, travelovers akan menemui jalur yang penuh dengan bunga-bunga asteraceae yang memenuhi lantai hutan sepanjang jalur, jika sedang mekar.

Vegetasi mulai berganti dengan perdu, menuju bulak peperangan lantai hutan dan jalur akan berganti dengan rumput yang artinya travelovers mulai memasuki sabana. Bulak peperangan berupa sabana yang luas, Travelovers juga akan menemui bukit-bukit kecil di sepanjang sabana yang juga tertutup oleh rerumputan.

Travelovers akan melewati jalur naik turun melewati bukit-bukit dan lembah di sabana tersebut. Di sepanjang sebana travelovers akan menemui bermacam-macam bunga dan yang mendominasi adalah bunga daisy dan dan edelweiss, sabana Gunung lawu juga didominasi oleh tumbuhan cantigi yang memiliki pucuk daun berwarna merah. Pos kelima ditandai dengan adanya pohon besar tumbang yang melintang diatas jalur pendakian.

Pohon tumbang ini juga menjadi spot foto favourit bagi para pendaki. Setelah melewati sabana dengan bunga-bunga nya yang indah dan memenuhi lantai sabana, travelovers akan menemui telaga musiman di tengah sabana. Telaga ini bernama gupak menjangan karena katanya telaga ini menjadi empat bagi para menjangan untuk minum. Namun sayang sekali, ketika musim kemarau, telaga gupak menjangan akan mengering.

Setelah melewati sabana, travelovers akan menuju pos selanjutnya yaitu Pasar Dieng, trek menuju Pasar Dieng masih cukup landau, dan didominasi oleh tumbuhan perdu. Pasar Dieng merupakan lokasi yang mistis menurut para pendaki. Banyak cerita dan pengalaman dari para pendaki yang mendengar adanya keramaian dan transaksi seperti di pasar saat berada di pasar dieng.

Pasar dieng ini merupakan sebuah lokasi yang terdiri dari banyak baru-batu yang berserakan. Saat melewati pasar dieng, travelovers juga akan melihat batu-batu yang tersusun di pasar dieng. Perlu diketahui, travelovers tidak diperkenankan mengambil batu atau mengubah susunan batu yang ada di pasar dieng.

Setelah melewati pasar dieng, travelovers akan menuju puncak hargo dalem Gunung Lawu, di puncak hargo dalem, travelovers dapat mampir sejenak untuk minum kopi panas atau membeli pecel di warung Mbok Yem yang terkenal dengan warung tertinggi di Indonesia.

Tidak hanya warung Mbok Yem, di sini travelovers dapat menemui banyak warung-warung yang menyediakan makanan dan minuman untuk para pendaki. Tinggal selangkah lagi untuk mencapai puncak hargo dumilah Gunung Lawu, setelah melewati jalan yang cukup terjal, travelovers akan sampai di puncak Gunung Lawu.

Nah, itulah sedikit gambaran tentang kondisi jalur yang akan travelovers temui jika mendaki Gunung Lawu via Candi Cetho. Memang perjalanan yang cukup panjang dan tidak mudah. Tapi keindahan alam dan tantangan yang disuguhkan akan sebanding dengan rasa lelah yang dirasakan.?

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak