alexametrics

Kenal Lebih Dekat dengan Pahlawan yang Ada di Uang Kertas

Rizky Melinda
Kenal Lebih Dekat dengan Pahlawan yang Ada di Uang Kertas
Ilustrasi uang kertas. [Shutterstock]

Pada tahun 2016 lalu, pemerintah melakukan penggantian tampilan uang kertas dengan memunculkan wajah-wajah pahlawan baru.

Beberapa masyarakat awam mungkin sering bertanya-tanya tentang sosok yang ada pada salah satu sisi uang kertas tersebut. Mari kenali lebih dekat peran dan perjuangan mereka.

1. Uang Rp 1000,-

Sosok yang berada pada salah satu sisi uang seribu rupiah adalah Tjut Meutia. Ia adalah seorang pejuang wanita dari Aceh. Kecantikan namanya sesuai dengan kecantikan wajahnya seperti yang dikatakan oleh H.C. Zentgraaf dalam sebuah buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Aboe Bakar berjudul Aceh, “Cut Meutia bukan saja amat cantik parasnya, tetapi ia memiliki tubuh yang indah. Wanita itu benar-benar seorang bidadari yang mempesona”.

Ia menikah pada usia 20 tahun dengan seorang lelaki Aceh melalui perjodohan, namun tidak berlangsung lama karena suaminya cenderung tunduk pada Belanda. Tjut Meutia tidak pernah gentar melawan. Meskipun pemimpin dan raja-raja lain menyerah dan tunduk pada Belanda, ia tetap gigih melawan. Sampai ajal menemuinya melalui 3 buah peluru yang berhasil menembus tubuh indahnya.

2. Uang Rp 2.000,-

Mohammad Hoesni Thamrin. Ia adalah seorang politisi keturunan Belanda dan Betawi. Meskipun tidak ikut mengangkat senjata dan berperang berlumuran darah, ia tetap sangat berjasa bagi rakyat Betawi pada masa itu.

Berkatnya, pemerintah kolonial bersedia membuat kanal Ciliwung untuk menghindari banjir di Jakarta. Ia juga menyumbang dana untuk pembangunan lapangan sepak bola khusus bagi rakyat Hindia Belanda.

4 tahun sebelum kemerdekaan Indonesia, ia ditangkap dan menjadi tahanan rumah karena dicurigai membantu pasukan Jepang. Ia wafat setelah lima hari penangkapan dan dimakamkan di Pemakaman Karet Bivak, Jakarta Pusat.

3. Uang Rp 5.000,-

Sosok bersahaja dengan tatapan teduh dan berpeci ini bernama K.H. Idham Chalid, salah satu kiai mashur Nahdatul Ulama yang berasal dari Kalimantan Selatan. Beliau lahir di Setui, Kalimanan Selatan pada 27 Agustus 1922.

Beliau lulusan Pesantren Gontor, Jawa Timur, serta berhasil lulus dari Universitas Al-Azhar, Mesir. Beliau berperan dalam pergerakan nasional pascakemerdekaan dan tidak hanya dikenal oleh warga Kalimantan Selatan, namun juga terkenal hampir di seluruh pulau Jawa.

Salah satu perjuangan beliau adalah menolak negara federasi bentukan Belanda yaitu federasi Negara Kalimantan. Berkat kerja sama yang baik antar berbagai pihak, Negara Kalimantan batal dibentuk. Idham Chalid wafat pada usia 88 tahun, tepatnya pada 11 Juli 2010.

4. Uang Rp10.000,-

Frans Kaisiepo. Sosok pahlawan dari Papua ini berjasa dalam menyatukan Papua menjadi bagian dari Kesatuan Republik Indonesia. Ia lahir di Wardo, Biak, 10 Oktober 1921. Ia menjadi satu-satunya perwakilan Papua yang berhadir dalam Konferensi Malino di Sulawesi Selatan, sebuah konferensi yang sangat penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Dalam konferensi tersebut, ia mengusulkan penggatian nama Papua menjadi Irian, yang merupakan singakatan dari Ikut Republik Indonesia Anti Nederland seperti yang tertulis dalam Monumen Pembebasan Irian Barat. Frans Kaisiepo meninggal pada 10 April 1979 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura. Nama Frans Kaisiepo diabadikan sebagai nama bandara di Biak serta nama kapal TNI AL.

5. Uang Rp 20.000,-

Sosok yang ditampilkan adalah Dr. G. S. S. J. Ratulangi atau Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, lahir di Tondano, Sulawesi Utara pada 5 November 1890. Beliau menempuh pendidikan di Hoofden School, Tondano, kemudian merantau ke Jakarta dan bersekolah di Sekolah Teknik Jakarta.

Beliau berhasil menyelesaikan studi di Zurich, Swiss pada tahun 1919, di Universitas yang sama dengan tempat belajar Albert Einstein dulu. Beliau menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil menyendang gelar doktor bidang ilmu eksakta. Peran beliau bagi rakyat adalah berhasil menghapuskan kerja paksa, menyelenggarakan transmigrasi, mendirikan yayasan dana belajar, serta tindakan-tindakan lainnya.

Beliau menjadi pembaca ulang proklamasi di hadapan warganya karena kabar proklamasi baru tiba di Sulawesi 2 hari setelah kemerdekaan. Beliau wafat karena kondisi kesehatan pada usia 58 tahun tepatnya tanggal 30 Juni 1949 di Jakarta, dan dimakamkan di Tondano.

6. Uang Rp 50.000,-

Sosok tersebut bernama Djuanda Kartawidjaja. Lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat pada 14 Januari 1911, beliau berperan dalam menjaga kedaulatan maritim Indonesia sejak awal kemerdekaan.

Beliau adalah lulusan Technische Hooge School atau sekarang dikenal dengan Institut Teknologi Bandung. Djuanda tidak setuju dengan aturan yang dibuat oleh Belanda yang mengakui bahwa batas laut teritorial hanya 3 mil dari garis pantai terendah.

Beliau menganggap aturan tersebut hanya akan memisah-misahkan NKRI oleh laut internasional. Beliau kemudian mengeluarkan Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957 yang menyatakan bahwa segala perairan yang menghubungkan pulau-pulau Indonesia masuk dalam teritori NKRI.

Deklarasi tersebut awalnya ditentang oleh Amerika Serikat dan Australia, namun berkat kegigihan beliau, Konvensi Hukum Laut PBB berhasil mengesahkan. Berkat beliau, kini Indonesia memiliki hamparan laut seluas hampir 6 juta kilometer persegi. Djuanda wafat pada 7 November 1963 dan dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata, Jakarta.

7. Uang Rp 100.000,-

Siapa yang tidak mengenal kedua sosok yang terdapat pada uang seratus ribu ini. Mereka adalah Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta, presiden dan wakil presiden pertama Republik Indonesia.

Ir. Soekarno lahir pada tanggal 6 Juni 1901 di Jawa Timur, sedangkan Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Fort de Kock, Hindia Belanda. Ir. Soekarno dikenal sebagai Bapak Proklamator, sedangkan Moh. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi.

Keduanya memiliki peran yang sangat penting bagi proklamasi kemerdekaan Indonesia. Nama serta tanda tangan mereka berdua tercantum dan mewakili nama bangsa Indonesia dalam naskah teks proklamasi yang dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak