facebook

Membaca Buku Hanya Cinta yang Kita Punya, Cinta Kita kepada Rasul Kian Menggebu

Fathorrozi Ledokombo
Membaca Buku Hanya Cinta yang Kita Punya, Cinta Kita kepada Rasul Kian Menggebu
Sumber: (DocPribadi/Fathorrozi)

Buku antologi cerpen Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya yang berisi 11 judul cerita ini merupakan kumpulan cerpen hasil seleksi lomba bertema “I Love Rasul” yang diadakan oleh Penerbit Diva Press pada peringatan Maulid Nabi Saw 1441 Hijriyah.

Yetti A.KA selaku juri tunggal dalam sayembara ini menuturkan bahwa sejumlah 375 naskah yang masuk dengan waktu pengumpulan hanya sepuluh hari. Hal ini menunjukkan antusiasme para penulis Indonesia terhadap sastra religi.

Kumpulan cerita pendek ini dibuka dengan cerpen karya Rosyid H. Dimas berjudul Riwayat Angin Barat. Cerpen ini berisi kisah ular yang ingin berjumpa dengan Nabi Muhammad Saw dan rela menunggu ribuan tahun di Gua Tsur. Kisah ini mengandung betapa besar intensitas kecintaan, kekaguman dan kerinduan seekor ular kepada sosok Nabi mulia, sehingga ia berdoa kepada Allah untuk memanjangkan umurnya agar berkesempatan untuk bertemu dengan Sang Pujaan. Si ular yang menggebu-gebu keinginannya untuk melihat wajah Nabi, rela menempuh perjalanan jauh dan melewati banyak aral melintang. Namun, semua jerih payah dan penantian itu akhirnya terbayar tunai ketika ia bertemu dengan Sang Nabi dan ikut menjaganya selama beliau di Gua Tsur.

Kutipan: "Ular itu berjalan melata dengan perutnya yang bergerak perlahan-lahan. Dalam perjalanan itu ia senantiasa berselawat. Di hatinya masih membawa api rindu sehingga pada saat-saat tertentu air matanya bercucuran, membuat tanah yang dilaluinya sedikit lembap. Suatu ketika, si ular sedang beristirah di atas sebuah batu, tiba-tiba seekor elang menukik dari atas dan mencengkeram tubuhnya dengan cakar yang kuat. Si ular meronta-ronta hendak meloloskan diri. Beberapa kali ia mencoba menggigit elang itu dan menyuntikkan racun bisa ke tubuhnya. Tapi, setiap kali mulut si ular akan mengenai tubuhnya, elang itu membuat gerakan menanjak dengan tiba-tiba sehingga kepala si ular terpelanting ke bawah'' (hal. 21).

Begitu pula dengan cerpen Kisah yang Sesederhana Hijaunya Pohon Ibu karya Rizqi Turama. Cerpen ini menceritakan seorang ibu yang menanam pohon kelengkeng di hari daun, yakni hari yang apabila seseorang menanam tanaman maka tanaman itu hanya akan memiliki daun yang lebat saja dan tak akan pernah berbuah. Setelah ibunya meninggal dunia, si anak baru menyadari apa tujuan ibunya menanam kelengkeng di hari daun. Ternyata daun-daun itu berselawat.

Kutipan : "Sayup-sayup kudengar suara yang begitu lirih, nyaris berbisik. Suara yang mengingatkanku pada selawat yang selalu disenandungkan oleh ibu. Aku terdiam. Seperti terpana. Lebih diam lagi saat aku merasa bahwa suara itu berasal dari gesekan antara angin dan daun. Dadaku bergemuruh kencang. Kuperhatikan pohon ibu berwarna hijau. Hijau yang sederhana, hijau yang sentosa. Aku mungkin salah di lain kesempatan, tapi saat itu aku benar-benar yakin pohon itu tengah berselawat" halaman 86.

Kita mengharap syafaat kepada shahibus syafa’ah dengan mengirimkan salam cinta dan rindu kepada Nabi Muhammad Saw. Chaery Ma dalam cerpen Lelaki Itu dan Mulutnya yang Selalu Berselawat memilih sholawat sebagai cara tokoh menghadapi permasalahan yang terjadi di rumah tangga. Dua orang tokoh dalam cerpen ini dilukiskan memiliki pasangan yang berselingkuh dan karena itu mereka ingin menolongnya dengan cara terus menggumamkan selawat agar tidak terbakar api (neraka). 

Kutipan:

“Dan di sana, aku juga melihat lelaki berselawat itu...”

Deg. Kalimatnya menggantung. Tanganku terhenti ketika hendak menyimpan gelas. Aku berdiri mematung di sana. Memunggungi istriku.

“Dia terus berselawat. Setiap kali dia berselawat, ada tubuh seorang wanita yang juga terangkat dari api yang menyala-nyala itu.” pada halaman 158. 

Berikutnya, cerpen dengan judul Kalimat Cinta dan Hujan Bunga karya Era Ari Astanto. Cerpen ini menggambarkan seorang lelaki tua yang selalu berselawat dengan caranya sendiri. Namun, cara berselawatnya mulai bertentangan dengan keyakinan warga kota yang keranjingan memurnikan ajaran Nabi. Lelaki tua itu dianggap sesat. Ia pun diasingkan ke sebuah rumah kosong setelah menolak untuk berhenti berselawat. Suatu hari, anak dari lelaki itu datang menemuinya dan mereka berselawat bersama. Saat itulah, hujan bunga terjadi di kota itu.

Kutipan : "Pada pagi yang cantik, semua orang di kota kecil itu dibuat heran dengan kuntum-kuntum bunga yang berserakan memenuhi seluruh kota. Gumaman mereka sama, mempertanyakan dari mana bunga beraneka jenis dan rupa itu berasal. Mereka mencurigai langit, tapi tak tampak apapun jatuh dari sana. Dengan perasaan masih terheran dan penasaran, mereka membersihkan seluruh area dari kuntum-kuntum bunga" halaman 113.

Masih banyak cerpen-cerpen menarik lainnya yang bisa disimak dalam antologi ini. Secara umum, cerita-cerita dalam buku ini menggambarkan rasa cinta, kerinduan dan kekaguman kepada Sang Nabi. Cinta yang diluapkan dengan pujian selawat kepadanya. Sebab, selawat dapat mengatasi segalanya. Selawat sebagai ekspresi kagum kepada Sang Nabi. Nabi yang selalu dirindukan banyak orang dan setiap kita ingin sekali berjumpa dengannya. Nabi yang mengajarkan kebaikan melalui agama Islam kepada seluruh umat manusia.

Fathorrozi

Penulis lepas tinggal di Ledokombo Jember.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak