facebook

Ketawa Serius dari Ulasan Buku The Terong Gosong

Rozi Rista Aga Zidna
Ketawa Serius dari Ulasan Buku The Terong Gosong
Buku The Terong Gosong (Doc.Pribadi/Fathorrozi)

Sebelum menjadi nakhoda baru Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2021-2026, KH Yahya Cholil Staquf adalah pengelola sekaligus pemimpin komunitas Terong Gosong, sebuah komunitas Facebook yang dibuat oleh beliau pada tanggal 13 Mei 2009.

Sampai sekarang, 17 Februari 2022, komunitas tersebut diikuti oleh 12.912 anggota dan mengantongi 40.427 like (disukai). Hingga kini, group yang dimaksudkan sebagai wahana silaturrahmi pengguna facebook dari kalangan pesantren ini, masih tetap eksis. Agar menyenangkan anggota komunitas, sebagai kegiatan utama di group ini adalah saling bertukar humor dan pengalaman lucu yang berkaitan dengan kehidupan di pesantren.

Bermula dari komunitas tersebut, lalu pada Mei 2011 timbul inisiatif beliau untuk menerbitkan buku dengan judul sesuai nama komunitas. Mengapa diberi judul The Terong Gosong? Untuk menjawab pertanyaan ini, KH Yahya Cholil Staquf menuturkan di salah satu paragraf Kata Pengantar bahwa satu-satunya sumber inspirasi dari nama itu adalah sebab terong telah menjadi makanan paling populer sepanjang sejarah di lingkungan santri-santri pesantren. Biasanya, terong dibakar sampai gosong, kemudian dikupas dan dipecelkan sambal terasi untuk dijadikan lauk makan sehari-hari (halaman viii).

Buku ini memuat kisah-kisah anekdot pilihan berdasarkan kisah nyata yang telah diunggah di komunitas Terong Gosong. Kendati pun berisi pernak-pernik kehidupan pesantren, kisah-kisah yang terdapat dalam buku ini diyakini bisa menggelitik siapa pun juga secara umum. Bahkan, mereka yang seumur hidup belum mengenal pesantren, tidak akan mengalami kesulitan dalam mencerna dan menyerap isi buku ini.

Pasalnya, bahasa yang dipakai dalam penuturan kisah-kisah di buku ini merupakan bahasa sederhana, bahasa keseharian yang sangat mudah dimengerti. Sehingga tidak perlu mengerutkan kening saat menikmati sajian kisahnya. Meski dengan bahasa yang sederhana, kemasan kisahnya sangat menarik, cair, santai, lucu dan menyenangkan, sehingga pembaca tidak akan melewatkan bacaannya lembar demi lembar.

Isi buku yang bersampul sayur terong sedang tertawa di antara kepulan asap ini, dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, kisah yang berkaitan dengan kehidupan santri. Kedua, kisah yang berhubungan dengan gus. Dan yang ketiga, kisah yang menyangkut dengan keseharian kiai.

Sebagai bagian kisah yang berkaitan dengan kehidupan santri, tertulis dalam buku ini dengan judul Tukin I. Pada kisah Tukin I, diceritakan bahwa Tukin adalah seorang santri ndalemnya KH Bisri Mustofa yang menghibur sekaligus menjengkelkan. Pada suatu waktu, saat Kiai Bisri pulang dari acara hajatan, beliau meletakkan payung di depan pintu. Setelah hujan reda, beliau menyuruh Tukin untuk memasukkan payung. Tukin yang mendapat perintah itu bukan keluar rumah mengambil payung, malah ia masuk ke rumah. Ketika beliau tanya, Tukin menjawab ia masuk ke rumah mau nyari obeng untuk nyopot pintu agar payung yang lebar itu bisa masuk lewat pintu (halaman 16).

Kepolosan si Tukin ini tentu mengundang tawa Kiai Bisri. Dan saya yakin di pesantren-pesantren lainnya ada juga Tukin-Tukin lain, bahkan kemungkinan tingkahnya lebih naif. Semisal, di tempat saya mondok dulu. Sufyan, santri ndalem kiai, suatu waktu disuruh belanja ke pasar pakai motor milik kiai. Sebelum berangkat, kiai mewanti-wanti Sufyan untuk mengecek keadaan bahan bakar. Sufyan sibuk membuka jok, lalu memutar tutup bensin. Motor digoyang-goyangkan agar bensin terlihat jelas. Melihat tingkah Sufyan, kiai cekikikan dengan sembunyi, kemudian berseru, “Tak perlu repot kau buka jok. Tinggal kau nyalakan pakai kunci motor itu, sudah bisa dilihat dari indikator bensin.”

Contoh kisah yang terdapat di bagian kedua, yang berhubungan dengan gus, berjudul Calon Wali di halaman 67. Ini kisah tentang Gus Mus dan kakaknya, Gus Kholil. Saat pulang liburan dari Pondok Pesantren Lirboyo, kakak beradik ini pulang ke Rembang dengan sengaja mengenakan pakaian dan aksesoris khas pendekar. Rambut gondrong sampai ke punggung, memakai pakaian serba hitam dengan celana komprang sebatas dengkul, ikat kepala batik dan terompah kayu yang tebalnya nyaris sehasta.

Begitu sampai di rumah, Kiai Bisri marah besar. Semua pakaian dan aksesoris kependekaran mereka dilucuti dan dibakar. Dan ketika tak satu pun yang bisa memotong rambut gondrong mereka, akhirnya Kiai Bisri yang turun tangan, membabat habis rambut mereka, sambil berkata, “Aku saja cuma kiai, kok kalian mau jadi wali.” Dua saudara tersebut kemudian dipindah mondok ke Krapyak, Yogyakarta.

Sedangkan di antara bagian ketiga, kisah yang menyangkut dengan kiai, tersebutlah kisah tentang Legenda Kiai Alhamdulillah. Seusai mengikuti kegiatan NU di Semarang, rombongan kiai Rembang satu mobil dalam perjalanan pulang. Di antara mereka adalah KH Ahmad Syahid bin Sholihun dari desa Kemadu, kecamatan Sulang, kabupaten Rembang. Melewati wilayah Demak yang kondisi jalannya buruk, mobil yang mereka tumpangi tak bisa melaju cepat. Tiba-tiba dari sungai di pinggir jalan itu muncul laki-laki tanpa sehelai benang pun di tubuhnya, sedangkan tangannya menggenggamkan alat vitalnya. Para kiai yang ada di dalam mobil terperanjat melihatnya.

“Astaghfirullah!” Kiai Mabrur berseru.

“Masya Allah!” dengus Kiai Wahab.

“Lailaha illallah!” sahut Kiai Tamam.

“Subhanallah!” Kiai Sahlan menimpali.

Sementara Kiai Syahid juga menyahut, “Alhamdulillah!” (hlm. 111)

Secara keseluruhan, kisah-kisah yang ditulis di masing-masing tiga bagian ini merupakan kisah penuh hikmah dan sarat makna, sekalipun dikemas dengan kelucuan yang serius. Dari buku ini, banyak kisah terkait kehidupan pesantren yang baru saya ketahui dan berakhir dengan ketawa sambil geleng-geleng kepala. Selamat membaca dan selamat menemukan hikmah di balik setiap kisahnya!

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak