Romantisme Masa Lalu merupakan kumpulan cerpen yang berisi sembilan judul cerita. Ditulis oleh Arul Khan yang bernama asli Rul Nasrullah, lahir di kota Cimahi, Jawa Barat. Arul Khan adalah mantan wartawan Majalah Gatra dan pegiat teater di Sanggar Komunitas Santri.
Sembilan judul cerita yang termuat di dalam buku ini adalah Romantisme Masa Lalu, Senyum, Satu Nama untuk Anakku, Musala Itu, Sang Pesuruh, Kursi Ajaib Bapak, Gadis Bergaun Putih, Mailing List, dan Manusia Laut.
Romantisme Masa Lalu mengangkat kisah seorang anak yang ingin berbakti kepada orang tuanya, dalam hal ini kepada bapak. Anak tersebut membelikan sepeda jengki khusus untuk bapaknya.
Sebab, ketika pulang ke kampung, si bapak selalu bercerita soal sepeda jengkinya yang sudah tinggal rangka dan teronggok malas di samping rumah. Bapaknya mengisahkan semua suka-duka yang dialaminya sejak bersepeda yang dulu dibelinya dengan harga sepuluh ribu.
"Sepeda ini yang membuat Bapak terkenal di antara teman-teman sekolah dulu. Mereka selalu iri melihat Bapak berhasil memboncengi 'kembang sekolah', Sunarti, mengalahkan anak-anak lain yang membawa skuter," kata bapak mengisahkan (hlm. 8).
Sepeda jengki itu selalu dirawatnya dengan baik. Sepeda itu terlihat baru karena selalu dirawat dan dibersihkan. Sepeda itu yang digunakan bapaknya menjalankan kewajiban sebagai guru di daerah terpencil. Dengan sepeda jengki itu bapaknya bisa meniti kehidupan hingga masa-masa menjelang senja.
Entah kenapa, sepeda itu akhirnya hanya menjadi rongsokan besi yang ditaruh di samping rumahnya. Lebih lanjut, si anak, di tengah kesibukannya yang padat sebagai buruh pabrik kain, ia menyempatkan diri membelikan sepeda jengki untuk bapaknya dengan merek Buterfly, asli buatan negeri Cina.
Setelah sepeda jengki itu dibeli dengan uang tabungannya selama lima bulan dan separuh gaji terakhirnya itu, ia ingin segera menyerahkan kepada bapaknya. Bapaknya telah berkali-kali bilang ingin sekali menaiki sepeda jengki lagi.
Namun, sesampainya di rumah, didapati sang bapak tidak di rumah. Ia sedang belajar naik sepeda motor pemberian muridnya. Seketika si anak yang pulang jauh-jauh untuk sekadar mengantar sepeda jengki buat bapaknya itu sedih.
Ia berpikir barangkali bapaknya sudah tidak suka naik sepeda jengki, ia lebih gemar mengendarai sepeda motor yang lebih memudahkannya untuk bepergian.
Keesokan harinya, si anak pamit ke ibunya hendak kembali lagi ke tempat kerjanya. Sementara sang bapak sedang di halaman rumah, mengelap sepeda motor baru pemberian muridnya.
Tiba-tiba bapak menyerahkan helm dan menyuruh, "Bawalah!" kepada si anak. Ia mengira dirinya yang disuruh menyetir, sedang bapaknya akan berbonceng di belakangnya untuk mengantarkan ke tempat kerja. Lama dinanti, si bapak tidak juga naik. Akhirnya si anak bertanya, "Lho, Bapak tidak jadi ngantar Dadan?"
Bapaknya menggeleng. "Siapa yang mau mengantarmu, Dan? Nanti bapak pulangnya naik apa?" Bapak balik bertanya.
"Ya, dengan motor ini," ujar si anak heran.
"Dibandingkan sepeda motor, Bapak masih suka naik sepeda jengki. Apalagi, sepeda jengki yang kamu beli onderdilnya masih bagus," sahut bapaknya (hlm. 16).
Dadan, si anak, awalnya curiga bapaknya tidak lagi suka naik sepeda jengki, karena telah memiliki sepeda motor baru. Ternyata tidak demikian. Bapaknya tetap menyukai sepeda jengki, dan sepeda motor baru itu diberikan kepada Dadan untuk dibawa ke tempat kerjanya.
Sembilan cerita dalam buku ini sangatlah layak dibaca, di samping bahasanya mudah dimengerti, muatan hikmah di dalam ceritanya juga patut diteladani.