Ulasan Novel Muara Kasih: Menelusuri Jejak Keluarga Kandung

Thomas Utomo
Ulasan Novel Muara Kasih: Menelusuri Jejak Keluarga Kandung
Buku Muara Kasih (Dokumentasi pribadi/ Thomas Utomo)

Muara Kasih adalah novel karya Maimon Herawati, dosen Jurnalistik, Universitas Padjdjaran yang punya nama pena Muthmainnah. Novel setebal 192 halaman ini diterbitkan Asy Syaamil, Bandung.

Novel ini menceritakan kehidupan Kathrin Elizabeth Kelly, karib dipanggil Kath, remaja 17 tahun yang mencari orang tua kandungnya. Sebelumnya, ia dirawat dan dibesarkan oleh keluarga Kelly, asal Australia.

Mereka sendiri bertemu bayi Kath tanpa sengaja. Suatu ketika, saat tengah berada di salah satu rumah sakit di Bandung, Kelly suami-istri bersua ibu kandung Kath, perempuan Sunda. Ibu kandung Kath yang dibelit kemelaratan, minta dibayarkan biaya persalinan dengan kompensasi; keluarga Kelly dapat membawa bayi Kath.

Kelak setelah di ambang dewasa, ialah tatkala menempuh high school, Kath menemukan kesejatian jati dirinya. Bahwa dia bertanah asal Indonesia. Ayahnya Minang, ibu Sunda. Namun kemelaratan membuat keduanya bercerai dan menyerahkan Kath kepada warga asing.

Pada saat hampir sama, Kath memeluk agama Islam. Sebabnya, dia patah hati. Namun, momen itu justru mengantarkannya pada haribaan hidayah Ilahi.

Kath mengalami sejumlah diskriminasi ketika mulai mengenakan jilbab. Hingga muncul gelombang pembelaan untuknya. Akhirnya, Kath diperbolehkan mengenakan 'busana gurun'. Ini jelas melegakan.

Namun, sisi lain dalam dirinya mengentak-entak. Dia penasaran dengan keluarga kandungnya. Maka, berbekal 'izin' keluarga Kelly, Kath terbang ke Sumatra Barat untuk menelusuri jejak ayahnya.

Hasilnya? Nihil. Kath bertolak ke Jawa Barat, mencari jejak sang ibu. 

Ketemu? Ya. Namun kemelaratan Ibu dan keluarga barunya, membuat Ibu menyuruh Kath pergi. Tak ada yang bisa dia lakukan di sini. Kembali saja ke pangkuan keluarga Kelly. Demikian titah Ibu.

Novel ini, termasuk jenis bacaan yang tidak menyedot banyak pikiran ketika menelusuri isinya. Artinya, isinya relatif ringan. Pilihan kata yang digunakan Muthmainnah juga gampang dan cepat dicerna. 

Membaca novel ini, mendamparkan pembaca pada sekelumit budaya urban di Australia, budaya Minang, dan Sunda. Dalam hal ini, pengarang tampak menguasai betul tiga katar belakang yang dia gunakan. Oleh karena itu, lukisan suasana yang digambarkan pengarang, terasa sangat meyakinkan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak