Buku 'The Power of Ideas' berisi gagasan dan kiat inspiratif tentang banyak hal dari seorang Habibie, negarawan dan ilmuwan yang menginspirasi banyak orang, juga memiliki jasa yang sangat berarti bagi kemajuan peradaban ilmu pengetahuan dan teknologi. Peranannya sangat vital bagi pembentukan dan perkembangan negara dan bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik.
Gagasan-gagasan emasnya yang telah ia jalani, tunjukkan, dan buktikan menjadi sumber dari kehebatan seorang BJ Habibie dalam memperkaya bangsa dan negeri ini dengan khazanah pengetahuan dan teknologi.
Dalam buku ini BJ Habibie menekankan pentingnya nilai tambah bagi manusia yang berdampak bagi keseluruhan sistem perekonomian dan kemajuan pengetahuan, hingga lahirnya berbagai inovasi dan penemuan manusia. Mentalitas dan kemampuan berpikir manusia perlu untuk terus didorong dan dikembangkan untuk melahirkan ide-ide brilian.
Bab awal dalam buku ini membahas mengenai gaya hidup dan teknologi, BJ Habibie meskipun tinggal lama di luar negeri, ia tidak menjadi orang yang berbeda atau berubah, ia mengatakan bahwa nasionalisme, ajaran kedua orangtuanya mengenai kepribadian masihlah sama. Kesamaan ini ia analogikan dengan ilmu fisika yang sifatnya invarian atau tidak berubah.
Saat ditanya mengenai pilihannya menjadi presiden atau pembuat pesawat, BJ Habibie memilih untuk menjadi pembuat pesawat, “Jika harus memilih, saya lebih senang jadi pembuat pesawat terbang.” Menurutnya membuat pesawat dipandang memiliki aspek rasionalitas, tak ada yang tidak jujur dan tidak transparan seperti dalam politik. Jika terdapat manipulasi dalam pembuatan pesawat, maka pesawat tentu akan jatuh.
Dalam gagasannya BJ Habibie menekankan penting dan utamanya kerja nyata daripada hanya sekadar pencitraan, “Citra itu merupakan kulit saja, sedangkan karya adalah isi.” Dengan karya nyata kita dapat memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat, saat kita dapat bermanfaat bagi masyarakat maka citra positif akan melekat pada diri kita dengan sendirinya. Jangan menghabiskan waktu untuk berdebat pada sesuatu yang tidak begitu penting, bekerja saja, terlalu banyak berdebat hanya akan membuat kita tidak produktif dan tidak membuahkan apa-apa.
BJ Habibie dalam buku ini memberikan pandangan yang progresif mengenai agama dan sains, baginya Islam sangat terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, ada pun perkara pertentangan agama dan sains, BJ Habibie mengatakan, “Saya rasa kalau seorang scientist benar-benar scientist yang mendalam dalam ilmunya, maka ia akan kembali pada agama.”
Gagasan mengenai cinta dalam buku, bagi BJ Habibie cinta merupakan inti kehidupan yang terbagi ke dalam lima wujud. Wujud cinta pertama adalah cinta terhadap sesama manusia, wujud cinta kedua adalah cinta terhadap karya manusia yang positif dan konstruktif, wujud cinta ketiga adalah cinta pada pekerjaan, wujud cinta keempat adalah cinta pada alam dan bumi tempat manusia hidup, dan wujud cinta yang kelima adalah cinta kepada Tuhan. Cinta haruslah memberikan sinergi positif yang dapat menyelesaikan berbagai konflik dan membuka segala rahasia sesuatu.
Video yang mungkin Anda suka