"Pluto" adalah anime sci-fi adaptasi dari karya Naoki Urasawa yang awalnya berdasarkan manga dan seri "Astro Boy" karya Osamu Tezuka yang tayang di Netflix sebanyak 8 episode.
Ceritanya berkisah tentang seorang detektif AI bernama Gesicht yang berusaha mengungkap identitas Pluto, seorang pembunuh berantai yang menghadang robot-robot paling canggih di dunia, termasuk Astro Boy.
Ulasan Anime Pluto
"Pluto" membawa kita ke dunia di mana robot tidak hanya dianggap setara dengan manusia, tetapi juga memiliki hak-hak seperti manusia, termasuk hak untuk membentuk keluarga.
Namun, kebencian dan diskriminasi terhadap robot masih ada, dengan kelompok radikal seperti Klu Klux Klan yang berusaha menghancurkan mereka.
Di sisi manusia, muncul undang-undang pro-robot setelah perang fiksi yang mengingatkan pada invasi Irak, di mana pahlawan yang dicintai dunia terlibat dalam serangan ke rumah-rumah warga sipil yang tak berdosa.
Pluto juga menggali perasaan penyesalan yang dirasakan oleh robot yang pernah terlibat dalam kekerasan.
Beberapa robot menggunakan tubuh mereka untuk bertarung, sementara yang lain, seperti North No. 2, ingin belajar bermain piano dengan tubuh bersenjata mereka. Mereka semua akhirnya harus menghadapi Pluto, sebuah kekuatan alam yang sangat kuat dan jahat.
Dalam komunitas anime, terdapat istilah "fiksi puncak" yang mencirikan kualitas tinggi dari sebuah adaptasi, termasuk kesetiaan terhadap materi sumbernya, urutan aksi yang menarik, dan pengisi suara yang luar biasa.
Pluto dianggap sebagai "fiksi puncak" karena menghadirkan semua elemen ini. Namun, yang membuatnya istimewa adalah kemampuannya untuk meresapi pesan sosial yang mendalam.
Pluto mengingatkan kita akan pentingnya menghindari aksi kekerasan dan diskriminasi. Meskipun akhir cerita tidak menawarkan solusi mudah, anime ini menjadi cerminan dunia nyata dan mendorong kita untuk mengatasi masalah kita sendiri sebelum terlambat.
Di sisi lain, perancang karakter Shigeru Fujita berhasil mempertahankan kesetiaan yang luar biasa pada karya seni Urasawa saat menghadirkan tokoh "Pluto" ke dalam animasi.
Ha yang paling mencolok adalah bagaimana desainnya mempertahankan garis karakter hitam yang tebal, bahkan dengan kilau cahaya dan penambahan warna.
Hasilnya adalah desain yang menciptakan tampilan yang realistis namun tetap memiliki unsur animasi yang kuat. Ini mengingatkan saya pada gaya animasi yang kuat yang bisa dilihat dalam anime "Attack on Titan" yang diproduksi oleh WIT Studio.
Pengisi suara untuk karakter "Pluto" merupakan penampilan yang luar biasa dan punya keunikan tersendiri. Sutradara sulih suara Patrick Seitz, yang juga menggambarkan karakter "Monster" telah menghadirkan pengisi suara yang tidak biasa dalam dunia anime.
Misalnya, Nolan North, yang terkenal sebagai suara Nathan Drake dalam "Uncharted", memerankan karakter Adolf Haas, seorang aktivis anti-robot yang memiliki dendam mendalam terhadap Gesicht.
Hal yang lebih menarik lagi, Keith David memberikan suara untuk karakter Tenma dan memberikan sentuhan hangat dan kesedihan pada karakter sang dokter, hal yang mungkin tidak diharapkan dari desain karakter yang terinspirasi oleh Gendo Ikari.
Bagi para penggemar "Pluto", adaptasi animasi ini adalah tontonan yang sangat dinantikan. Bahkan jika kamu adalah seorang pemula dalam cerita ini, misteri yang disajikan akan menarik perhatian dan karakter-karakternya akan membuatmu ingin terus menikmati ceritanya.
Ini adalah cerita yang mengingatkan kita akan kerumitan hubungan antara manusia dan teknologi serta dampak sosialnya, sehingga menjadi salah satu "fiksi puncak" yang tak terlupakan.