Review Novel 'Entrok': Perjalanan Perempuan dalam Ketidakadilan Sosial

Hayuning Ratri Hapsari | Sabit Dyuta
Review Novel 'Entrok': Perjalanan Perempuan dalam Ketidakadilan Sosial
Novel Entrok (Gramedia)

"Entrok" adalah novel karya Okky Madasari yang mengisahkan perjuangan dua generasi perempuan dalam menghadapi ketidakadilan sosial. Ditulis oleh penulis asal Indonesia yang lahir di Magetan, Jawa Timur, pada tahun 1984, novel ini diterbitkan pada 2010 oleh Gramedia Pustaka Utama.

Sejak pertama kali terbit, "Entrok" langsung mencuri perhatian karena temanya yang menggugah tentang kehidupan perempuan di tengah ketimpangan sosial.

Dalam karya ini, Okky Madasari menggambarkan secara nyata bagaimana perempuan harus berjuang melawan berbagai hambatan dan ekspektasi dari masyarakat yang cenderung menempatkan mereka pada posisi yang terpinggirkan.

"Entrok" menceritakan kisah Marni, seorang perempuan buta huruf yang lahir di keluarga miskin, yang berjuang keras demi meningkatkan taraf hidupnya dan keluarganya.

Marni memulai kehidupannya dengan menjadi kuli di pasar dan perlahan berhasil mengembangkan usaha dagang kecil-kecilan yang mengantarkannya menjadi seorang rentenir di desa tempat ia tinggal. 

Keinginannya untuk memiliki "entrok" (bra dalam bahasa Jawa) menjadi simbol dari perjuangan dan harapan Marni untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Di sisi lain, ada Rahayu, putri Marni, yang tumbuh dalam lingkungan yang lebih terdidik. 

Rahayu bersekolah dan mendalami ajaran agama dengan tekun. Konflik antara ibu dan anak muncul ketika Rahayu menentang tradisi dan praktik leluhur yang dianut oleh Marni, termasuk ritual sesaji dan kepercayaan terhadap roh nenek moyang. 

Ketegangan antara Marni yang berpikiran tradisional dan Rahayu yang lebih modern dan religius membentuk garis besar perbedaan generasi yang memengaruhi hubungan mereka.

Selain cerita pribadi yang menyentuh, "Entrok" juga mengangkat latar sosial-politik Indonesia pada masa Orde Baru, militer dan kekuasaan berperan penting dalam struktur masyarakat.

Melalui karakter-karakter ini, Okky Madasari menggambarkan bagaimana perempuan, meskipun berjuang keras, tetap terjebak dalam sistem yang menindas.

Perjuangan Marni dan Rahayu mencerminkan usaha untuk menemukan keseimbangan antara tradisi dan modernitas, serta bagaimana individu harus beradaptasi dengan dunia yang terus berubah.

"Entrok" adalah karya yang sangat relevan dalam membahas masalah sosial yang terus berlangsung hingga saat ini. Salah satu isu utama yang diangkat dalam novel ini adalah perjuangan perempuan dalam menghadapi sistem patriarki yang mengatur hampir semua aspek kehidupan mereka.

Dalam konteks ini, Marni adalah contoh nyata seorang perempuan yang bekerja keras untuk mencapai kesejahteraan, namun tetap harus menghadapi kekangan sosial dan ekspektasi tradisional yang sering kali tidak memberikan ruang untuk kebebasan dan pemenuhan hak-hak individu, terutama hak-hak perempuan.

Sementara itu, konflik antara Marni dan Rahayu menggambarkan perbedaan pandangan antara generasi yang lebih tua dan yang lebih muda, terutama dalam hal agama dan tradisi.

Rahayu yang terdidik dan memahami pemikiran modern melihat dunia melalui kacamata agama dan moralitas yang sering kali berbenturan dengan nilai-nilai yang dianut oleh ibunya.

Hal ini menyentuh isu mengenai bagaimana generasi muda dihadapkan pada perubahan sosial dan nilai-nilai yang berkembang pesat, serta tantangan untuk tetap mempertahankan atau menanggalkan tradisi yang diwariskan.

Relevansi "Entrok" dengan kehidupan nyata semakin jelas ketika melihat bagaimana perempuan di banyak tempat, bahkan pada masa kini, masih berjuang untuk mendapatkan kesetaraan dan hak yang seharusnya mereka miliki.

Terlepas dari perjuangan mereka untuk mengatasi kesulitan ekonomi dan sosial, perempuan sering kali harus menghadapi ketidakadilan sistemik yang menindas mereka di bawah struktur kekuasaan patriarki yang mendalam.

"Entrok" mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting mengenai bagaimana perempuan diposisikan dalam masyarakat dan bagaimana mereka harus berjuang untuk mempertahankan keberadaan dan suara mereka.

Akhir kata, "Entrok" mengajarkan kita banyak hal, mulai dari pentingnya keberanian dalam menghadapi ketidakadilan hingga pentingnya memperjuangkan hak-hak kita sebagai individu. 

Okky Madasari tidak hanya sukses menciptakan karakter yang kuat dan mengundang empati, tetapi juga mampu menyuarakan ketidakadilan sosial yang banyak terjadi, terutama terhadap perempuan. 

Novel ini adalah cermin dari kondisi sosial yang lebih besar, yang dapat membuat pembaca berpikir lebih dalam mengenai peran perempuan dalam masyarakat dan perjuangan mereka dalam dunia yang sering kali tidak adil.

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak