Review Novel 'TwinWar': Pertarungan Harga Diri di Balik Wajah yang Sama

Sekar Anindyah Lamase | Sabit Dyuta
Review Novel 'TwinWar': Pertarungan Harga Diri di Balik Wajah yang Sama
Novel TwinWar (Goodreads)

Siapa sangka, konflik saudara kandung bisa jadi bahan cerita yang begitu relate dan mengaduk emosi? Itulah yang diangkat Dwipatra lewat novel "TwinWar".

Novel ini pertama kali dirilis tahun 2017 lewat ajang Gramedia Writing Project dan langsung keluar sebagai juara pertama.

Ditulis oleh penulis muda asal Temanggung, cerita ini menawarkan sesuatu yang segar, dekat dengan keseharian, dan tidak sekadar kisah cinta-cintaan remaja biasa yang umumnya kita tahu.

Buat kamu yang ingin baca cerita ringan tapi penuh makna, "TwinWar" bisa jadi pilihan pas.

Cerita ini tidak hanya soal konflik remaja, tapi juga menyentil dinamika keluarga yang sering terjadi di dunia nyata. Terutama buat yang punya saudara kandung—apalagi kembar—pasti rasanya akan semakin nyesek karena terlalu relate dan emosinya sangat terasa.

Tokoh utamanya adalah dua anak kembar identik: Hanggara Setiaji (Gara) dan Mahisa Aryaji (Hisa). Meski wajah mereka nyaris tidak bisa dibedakan, kepribadian mereka 180 derajat berbeda.

Gara dikenal kalem, cerdas, rajin, dan jadi bintang kelas di SMA-nya. Sementara Hisa lebih santai, aktif di bidang olahraga, dan punya kepercayaan diri tinggi.

Mereka berdua hidup dalam rumah yang sama, tapi menjalani kehidupan sekolah yang terpisah. Segalanya mulai berubah ketika Hisa menemukan foto seorang gadis bernama Dinar di ponsel Gara. Dari situ, perang saudara dimulai.

Awalnya, konfliknya terkesan sepele. Tapi lama-lama semakin rumit. Gara dan Hisa mulai saling balas dendam dengan cara-cara yang kreatif tapi juga menyakitkan.

Hisa memaksa Gara menukar identitas untuk ulangan, Gara balas mempermalukan Hisa di depan teman-temannya dengan ulat mungil yang ia takuti, dan begitu terus sampai hubungan mereka benar-benar renggang.

Di balik semua kejadian itu, kita bisa lihat betapa pentingnya komunikasi dan pengertian antar saudara. Sayangnya, dua hal itu justru yang paling langka di antara mereka.

Cerita pun berkembang dari sekadar adu ego jadi eksplorasi yang lebih dalam tentang keluarga, luka lama, dan harga diri.

Hal menarik dari "TwinWar" adalah bagaimana Dwipatra menggambarkan dinamika keluarga yang tidak selalu hangat.

Ada rasa cemburu, ingin diakui, dan lelah terus dibanding-bandingkan—sesuatu yang pasti dirasakan oleh banyak orang, apalagi yang punya saudara.

Novel ini juga menyentil soal ekspektasi orang tua yang kadang terlalu tinggi, hingga membuat anak merasa harus selalu jadi versi terbaik hanya demi mendapat validasi.

Semua itu dibalut dengan gaya bahasa yang ringan, khas anak SMA, tapi tetap dalam dan membuat kita berpikir. Tak heran, banyak pembaca yang merasa kisah ini seperti potret dari kehidupan mereka sendiri.

Tidak hanya tentang hubungan keluarga, "TwinWar" juga menyentuh soal pencarian jati diri. Gara dan Hisa, meski tumbuh bersama, ternyata harus menempuh perjalanan masing-masing untuk benar-benar tahu siapa diri mereka, apa yang mereka mau, dan bagaimana menghadapi konflik batin yang selama ini ditutupi.

Peran karakter gadis seperti Dinar dan Ollie juga tidak bisa diabaikan, karena mereka menjadi semacam cermin dan pemantik emosi yang menggerakkan cerita.

Kehadiran mereka menambah warna dan membuat alur cerita lebih hidup serta tidak terasa membosankan.

Sebagai kesimpulan, "TwinWar" bukan hanya cerita tentang dua anak kembar yang ribut terus-terusan. Lebih dari itu, novel ini adalah refleksi tentang betapa pentingnya saling memahami dalam hubungan keluarga.

Bahwa jadi saudara itu bukan soal siapa yang lebih pintar atau lebih hebat, tapi soal bagaimana saling ada dan mendukung, bahkan ketika sedang tidak sejalan.

Bacaan ini sangat cocok buat remaja, atau siapa pun yang ingin lebih peka soal hubungan antar manusia yang kadang kelihatan sederhana, tapi sebenarnya sangat rumit.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak