Kalau kamu suka film yang nggak cuma menghibur tapi juga bikin hati hangat dan pikiran melayang ke masa lalu, Siapa Dia karya Garin Nugroho adalah tontonan yang wajib masuk list kamu.
Dirilis pada 28 Agustus 2025, film drama musikal ini seperti angin segar di tengah gempuran film horor yang lagi mendominasi bioskop Indonesia.
Dengan vibe ala La La Land tapi dibalut kuat dengan budaya pop dan sejarah sinema Indonesia, Siapa Dia bawa kita jalan-jalan menelusuri waktu sambil ditemani lagu-lagu yang bikin ikut nyanyi. Yuk, langsung simak ulasannya dan apa sih yang bikin film ini spesial!
Ceritanya dimulai dari Layar (Nicholas Saputra), seorang aktor top yang lagi burnout abis sama dunia hiburan. Kariernya udah meledak, tapi rasanya kosong gitu, kamu tau kan? Dia pengin bikin teater musikal yang beda, yang mengangkat sejarah keluarganya yang ternyata super terkait sama evolusi film Indonesia dari jaman kolonial sampai era digital sekarang.
Layar balik ke rumah buyut di kota kecil, nemu koper tua berisi surat cinta, diary, foto-foto, dan artefak keluarga. Dari situ, cerita meledak jadi empat babak epik yang nyambungin masa lalu sama masa kini. '
Aku suka banget cara Garin Nugroho ngebangun narasi ini – bukan linear biasa, tapi lewat imajinasi Layar yang seperti masuk ke dunia leluhurnya. Semua digambarin pakai nyanyian dan tarian yang nggak lebay, malah bikin emosional banget.
Babak pertama, kita dibawa ke 1920-an, era Komedi Stamboel yang lagi hits banget. Nicholas berperan sebagai kakek buyut, seorang seniman panggung yang jatuh cinta sama perempuan misterius. Latarnya stasiun kereta api, sandiwara yang dipakai Belanda buat ngalihin perhatian rakyat dari politik.
Romantisnya campur tragis, dengan lagu-lagu klasik yang bikin aku inget film-film jadul Indonesia seperti "Loetoeng Kasaroeng" (1926), film pertama kita!
Lalu, babak kedua lompat ke masa perjuangan kemerdekaan. Kakek Layar, Kabel (lagi-lagi Nicholas), jadi kurir rahasia yang jatuh hati sama Mui (Gisella Anastasia), cewek Tionghoa pemberani yang berorasi antipenjajah.
Cinta mereka berakhir pahit karena pengasingan, tapi Kabel melanjutkan perlawanan lewat seni, bikin poster film dengan pesan tersembunyi. Ini bagian yang bikin merinding, nih Sobat Yoursay! Karena nyambungin cinta personal sama sejarah bangsa.
Masuk babak ketiga, yang paling gelap: tahun 1988 di Orde Baru. Ayah Layar, Putra (Nicholas lagi, wow!), seorang wartawan foto dan penulis skenario yang trauma berat. Dia saksiin represi pemerintah, jatuh cinta sama Sari (Dira Sugandi), aktivis jalanan yang tewas ditembak misterius.
Trauma itu bikin dia terpuruk, sampai ketemu Indah (Cindy Nirmala), penjaga rental komik yang bantu dia untuk bangkit. Adegan ini super realistis, nggak ada musikal yang over-the-top, malah bikin aku mikir soal sensor dan kebebasan berekspresi di masa lalu.
Terakhir, balik ke masa kini. Layar lagi struggle sama timnya, Denok (Widi Mulia) dan Rintik (Amanda Rawles), yang hubungannya berkembang jadi romansa ala film. Dia sadar, kisah leluhur nggak cukup; dia harus ciptain cerita sendiri dari pengalaman hidup. Endingnya uplifting, pesannya jelas: "Film adalah gambar hidup" yang lahir dari keberanian.
Review Film Siapa Dia

Pemeran pendukungnya? Bertabur bintang, guys! Amanda Rawles sebagai Rintik bener-bener glow up, dia yang biasa main romcom sekarang nyanyi dan nari tarian Hawaii yang ikonik.
Ariel Tatum reuni sama Nicholas, chemistry-nya masih nendang abis. Widi Mulia, Happy Salma, Monita Tahalea, Gisella Anastasia, Joanna Alexandra, Sita Nursanti, Bima Zeno, sampai Dira Sugandi – semuanya memberi energi beda. Mereka nggak cuma akting, tapi beneran perform di panggung musikal.
OST-nya juga keren, lagu "Layar" dinyanyiin Titi DJ feat Cakra Khan, plus remake klasik seperti "Badai Pasti Berlalu", "Panggung Sandiwara", sampai "Payung Fantasi". Musiknya organik banget, nggak seperti musikal Barat yang bombastis, tapi lebih ke arah budaya pop Indonesia yang autentik.
Secara visual, film ini cantik abis. Garin Nugroho pakao gaya puitisnya yang khas, campur dokumenter, foto hitam-putih, dan adegan warna-warni. Dari era kolonial sampai punk 90-an, kostum dan set-nya detail banget – yang aku liat ada referensi film seperti "Kuldesak" (1998), "Ada Apa Dengan Cinta" (2002), "Janji Joni" (2005), sampai "Yuni" (2021).
Durasi panjang sekitar 2 jam lebih, tapi nggak bosenin, malah bikin aku pengin replay. Kekurangannya? Mungkin buat yang nggak suka musikal, awalnya agak lambat, tapi sabar ya, worth it kok!
Pokoknya, "Siapa Dia" adalah tribute keren buat sinema Indonesia, nanya "siapa kita?" lewat cerita keluarga dan sejarah. Di tengah dominasi horor, ini angin segar yang bikin bangga jadi orang Indo.
Rating dari aku: 9/10. Langsung nonton di bioskop, jangan sampai ketinggalan! Kalau kamu udah nonton, share pendapatmu di komentar, deh. Siapa tau kamu juga dapat inspirasi buat bikin karya sendiri. Cheers!