Review Film Moon The Panda: Kisah Inspiratif tentang Pelestarian Satwa

Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Review Film Moon The Panda: Kisah Inspiratif tentang Pelestarian Satwa
Poster film Moon the Panda (IMDb)

Film The Moon Panda (juga dikenal sebagai Moon the Panda atau Moon le Panda) adalah sebuah karya sinematik yang menyentuh hati, disutradarai oleh Gilles de Maistr, sutradara Prancis yang dikenal dengan film-film petualangan berbasis alam seperti The Wolf and The Lion.

Dirilis pada 2025, film ini merupakan kolaborasi antara Prancis dan Belgia, diproduksi oleh Mai Juin Productions dan Gaumont.

Dengan durasi sekitar 99 menit, genre drama keluarga dan petualangan ini menawarkan cerita sederhana namun mendalam tentang persahabatan, pertumbuhan diri, dan hubungan manusia dengan alam.

Film ini unik karena menjadi salah satu film pertama dalam dua dekade yang menampilkan panda asli tanpa efek CGI, menambahkan keaslian yang jarang ditemui di era digital.

Petualangan Tian dan Panda Moon di Pegunungan Sichuan

Salah satu adegan film Moon the Panda (Instagram/kino_artis)
Salah satu adegan film Moon the Panda (Instagram/kino_artis)

Cerita berpusat pada Tian Zhao, seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun yang kecanduan video game dan mengalami kesulitan di sekolah. Karena nilai buruknya, ia dikirim ke rumah neneknya di pegunungan terpencil China bersama adik perempuannya.

Awalnya, Tian merasa bosan dan terisolasi dari dunia modernnya. Namun, segalanya berubah ketika ia secara tak sengaja menemukan seekor anak panda liar yang yatim piatu, yang ia beri nama Moon.

Persahabatan mereka berkembang menjadi petualangan musim panas yang penuh keajaiban, di mana Tian belajar tentang tanggung jawab, empati, dan keindahan alam.

Neneknya, yang diperankan dengan hangat oleh Sylvia Chang dan menjadi figur bijak yang membimbing Tian untuk meninggalkan gadgetnya dan merangkul ke kehidupan sederhana.

Latar belakang pegunungan China yang mistis, dengan hutan bambu lebat dan sungai mengalir, menjadi karakter tersendiri yang memperkaya narasi.

Secara visual, The Moon Panda sangat ciamik dengan sinematografi yang indah. Gilles de Maistre, yang memiliki pengalaman mendokumentasikan hewan liar, berhasil menangkap momen-momen intim antara Tian dan Moon dengan kamera yang halus, tanpa mengganggu alam.

Penggunaan panda asli memberikan keaslian emosional yang sulit dicapai oleh animasi. Warna-warna hijau subur dan cahaya alami matahari terbenam menciptakan suasana puitis, mengingatkan pada film-film seperti The Jungle Book versi live-action.

Akan tetapi, menurutku sih visualnya terkadang terasa datar, terutama di adegan malam yang kurang pencahayaan. Musik latar oleh komposer Prancis menambahkan nuansa emosional, dengan melodi lembut yang mengiringi perjalanan Tian, meskipun tidak terlalu memorable.

Review Film Moon The Panda

Salah satu adegan film Moon the Panda (Instagram/kino_artis)
Salah satu adegan film Moon the Panda (Instagram/kino_artis)

Dari segi akting film ini menuai pro dan kontra. Pemeran Tian, aktor muda, sukses gambarkan transformasi dari anak kota egois jadi remaja matang, dengan ekspresi penuh keajaiban saat bertemu Moon.

Alexandra Lamy menonjol sebagai pendukung, menghadirkan kehangatan dan keautentikan. Kalau boleh jujur sih, menurutku pemeran anak lain kurang pas, dialognya kaku dan tak alami.

Aktor dewasa pun standar, sehingga dinamika keluarga kurang terasa dalam. Panda Moon justru jadi bintang utama berkat kelucuan dan ekspresi menggemaskannya, yang pasti disukai anak-anak dan penonton muda.

Tema utama film ini adalah resiliensi dan keajaiban alam di tengah dunia yang rapuh. De Maistre menyisipkan pesan lingkungan secara halus, seperti ancaman perburuan liar terhadap panda dan pentingnya konservasi.

Persahabatan Tian dan Moon melambangkan bagaimana hubungan antarspesies bisa menyembuhkan luka emosional, terutama bagi anak-anak yang kesepian di era digital.

Film ini juga menyoroti kontras antara kehidupan kota yang hectic dengan ketenangan desa, mengajakku merefleksikan prioritas hidup.

Meski ceritanya predictable—dengan elemen klasik seperti konflik dengan pemburu dan klimaks penyelamatan—eksekusinya tetap menyentuh, terutama untuk keluarga.

Secara keseluruhan, aku menyukai Moon The Panda berkat visual memukau dan temanya yang kuat, meski mengkritik akting serta pacing lambat di awal film.

Namun, ini tetap karya puitis luar biasa yang menonjolkan ketahanan serta keindahan alam, walaupun pemilihan aktor kurang pas.

Untuk penonton Indonesia, film ini ideal sebagai tontonan liburan keluarga karena bersertifikat SU dari LSF. Nilai edukasinya tinggi, mengajarkan tentang panda sebagai satwa endemik China dan urgensi pelestariannya.

Di Indonesia, The Moon Panda tayang perdana di bioskop pada 31 Desember 2025, tepat saat malam tahun baru, dan masih diputar hingga Januari 2026 di jaringan seperti Cinema XXI, CGV, dan Cinepolis.

Jadwal tayang dapat dicek di situs seperti jadwalnonton.com atau aplikasi bioskop terkait. Film ini menjadi pilihan ideal untuk menyambut tahun baru dengan cerita inspiratif, meski tidak sempurna.

Secara pribadi, aku merekomendasikannya untuk keluarga dengan anak usia sekolah dasar, karena bisa memicu diskusi tentang alam dan persahabatan. Rating pribadi dariku: 7/10—indah secara visual, tapi butuh akting yang lebih kuat untuk menjadi klasik.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak