Film Mumu: Hadirkan Emosi Tanpa Dialog yang Kuat dan Menguras Air Mata

Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Film Mumu: Hadirkan Emosi Tanpa Dialog yang Kuat dan Menguras Air Mata
Poster film Mumu (IMDb)

Film Mumu: Silent Love (atau dikenal sebagai Mumu di Indonesia) adalah sebuah drama keluarga asal Tiongkok yang dirilis pada 2025, disutradarai oleh Sha Mo. Dibintangi oleh Lay Zhang (Zhang Yixing) dari EXO sebagai pemeran utama, film ini menyajikan kisah mengharukan tentang ikatan ayah-anak di tengah tantangan disabilitas dan diskriminasi sosial.

Di Indonesia, film ini tayang perdana di bioskop pada 7 Mei 2025, melalui jaringan seperti CGV, Cinepolis, XXI, dan Platinum Cineplex di berbagai kota, termasuk Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Awalnya dirilis di Tiongkok pada 3 April 2025, Mumu langsung menarik perhatian penonton dengan tema universal tentang cinta tanpa kata, dan berhasil membuat banyak orang menangis di bioskop. 

MuMu, Pilar Keluarga yang Rapuh

Salah satu degan di film Mumu (instagram/xingpark1007)
Salah satu degan di film Mumu (instagram/xingpark1007)

Sinopsis film ini berpusat pada Xiao Ma (Lay Zhang), seorang ayah tuli yang hidup sederhana bersama putrinya yang berusia 7 tahun, MuMu (diperankan oleh Li Luoan). Setelah kematian istrinya, Xiao Ma berjuang mati-matian untuk mempertahankan hak asuh atas MuMu, menghadapi tekanan dari kerabat yang meragukan kemampuannya sebagai orang tua karena keterbatasan pendengarannya.

MuMu, anak yang cerdas dan mandiri, menjadi pilar keluarga mereka, belajar bahasa isyarat dan membantu ayahnya dalam kehidupan sehari-hari. Kisah ini bukan hanya tentang perjuangan hak asuh, tapi juga eksplorasi mendalam tentang diskriminasi terhadap komunitas tuli, eksploitasi finansial, dan kekuatan cinta keluarga yang tak tergoyahkan.

Cerita diadaptasi dari skenario asli Dandi Fu, yang menekankan elemen realisme tanpa terlalu dramatis, meski ada momen-momen yang dirancang untuk memicu emosiku sebagai penonton sih selama penayangannya.

Dari segi plot, Mumu berhasil membangun narasi yang sederhana namun mendalam. Film dimulai dengan adegan-adegan hangat sehari-hari antara ayah dan anak, seperti MuMu mengajari ayahnya menggunakan ponsel atau mereka bermain di rumah sederhana. Ini menciptakan ikatan emosional yang kuat sejak awal, membuatku langsung terhubung.

Konflik utama muncul ketika kerabat MuMu dari pihak ibu ingin mengambil hak asuh, dengan alasan Xiao Ma tidak mampu memberikan kehidupan normal. Elemen ini menyoroti isu sosial nyata di masyarakat Tiongkok (dan global), di mana penyandang disabilitas sering dianggap tidak kompeten.

Sutradara Sha Mo menggunakan pendekatan visual yang halus, dengan banyak shot diam dan close-up wajah untuk menekankan kesunyian emosional. Akan tetapi, kritikku ada di beberapa plot twist yang terasa klise, seperti konflik finansial yang tiba-tiba, ini membuat cerita sedikit predictable di bagian tengah. Meski begitu, alur cerita tetap mengalir lancar dengan durasi 111 menit, tanpa terasa membosankan.

Review Film Mumu

Salah satu degan di film Mumu (instagram/xingpark1007)
Salah satu degan di film Mumu (instagram/xingpark1007)

Akting menjadi kekuatan utama film ini. Lay Zhang memberikan performa karir terbaiknya sebagai Xiao Ma. Sebagai penyanyi yang beralih ke akting, ia berhasil menyampaikan emosi melalui ekspresi wajah dan bahasa tubuh, tanpa bergantung pada dialog. Adegan di mana ia berjuang melawan diskriminasi di pengadilan benar-benar menyentuh, membuatku dan penonton yang lain merasakan isolasi yang dialaminya.

Li Luoan, aktor cilik debutan, juga luar biasa. Ia membawa kedewasaan yang mengejutkan untuk usianya, menggambarkan MuMu sebagai anak yang lucu tapi tangguh. Chemistry antara keduanya adalah jantung film, membuat momen-momen seperti panggilan telepon dengan bahasa isyarat menjadi ikonik dan mengharukan. Pemeran pendukung seperti Huang Yao sebagai teman dekat Xiao Ma juga solid, menambahkan lapisan dukungan emosional.

Tema utama Mumu adalah cinta diam-diam (silent love), yang dieksplorasi melalui lensa disabilitas. Film ini bukan hanya tearjerker biasa; ia mengkritik masyarakat yang sering mengabaikan kebutuhan komunitas tuli, seperti kurangnya aksesibilitas dan eksploitasi oleh oknum. Ada elemen gelap seperti penipuan finansial yang menargetkan orang tuli, yang menambah kedalaman narasi.

Secara teknis, sinematografi oleh Zhang Yingjie indah, dengan warna-warna hangat yang mencerminkan kehangatan keluarga, kontras dengan adegan dingin saat konflik muncul. Sound design-nya juga cerdas, menggunakan kesunyian untuk membangun ketegangan, membuatku merasakan dunia Xiao Ma. Skor musik minimalis, tapi efektif dalam memperkuat emosi.

Kelebihan film ini jelas: emosional yang autentik, akting brilian, dan pesan sosial yang relevan. Banyak reviewer menyebutnya sebagai film yang menghangatkan hati tapi juga menghancurkan, dengan rating rata-rata 8/10 di IMDb dan MyDramaList. Kekurangannya? Beberapa bagian terasa manipulatif emosional, seperti adegan menangis berulang, yang bisa terasa berlebihan buat kamu yang tidak suka drama berat. Selain itu, ending yang bittersweet mungkin tidak memuaskan semua orang, meski sesuai dengan tema resiliensi.

Secara keseluruhan, Mumu adalah film yang wajib ditonton bagi pencinta drama keluarga. Ia mengingatkan kita bahwa cinta sejati tidak selalu butuh kata-kata. Di Indonesia, meski tayang setahun lalu, film ini masih relevan dan bisa ditemukan di platform streaming setelah periode bioskop. Rating pribadi dariku: 8.5/10. Siapkan tisu saat menonton ya!

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak