Tumbuh meski tak utuh adalah sebuah antologi cerpen yang lahir dari kolaborasi Bentang Pustaka dan Career Class ID, menghadirkan 20 cerpen dari 20 penulis dengan latar, konflik, dan suara yang berbeda-beda. Namun justru di situlah istimewanya buku ini.
Layaknya cermin besar yang memantulkan potongan-potongan kehidupan manusia dewasa. Yang lelah, yang bingung, yang terluka, tapi tetap berusaha berdiri.
Setiap cerpen membawa persoalannya masing-masing, dari isu keluarga, relasi, pekerjaan, kesehatan mental, hingga pergulatan batin yang sering kali tidak terucap.
Kisah-kisahnya terasa dekat dan nyata, bahkan beberapa di antaranya seolah menyalin ulang pengalaman yang pernah atau sedang kita jalani. Buku ini secara halus menegaskan satu hal penting: everyone has problems. Tidak ada hidup yang benar-benar utuh dan mulus.
Isi Buku
Salah satu cerpen yang paling menonjol adalah “Titik Balik” karya Nyda Afsari. Cerita ini mengangkat isu batasan emosional dalam pernikahan, khususnya ketika seorang suami masih menjadi tempat curhat sahabat perempuannya hingga mengganggu kehidupan rumah tangga.
Dengan narasi yang tenang namun tegas, cerpen ini menyampaikan pesan penting: empati tidak harus selalu berarti keterlibatan penuh. Ada kalanya kita perlu berkata tidak, demi menjaga diri dan orang-orang yang kita cintai. Sebuah refleksi yang relevan, terutama bagi mereka yang sering terjebak dalam peran “tidak enakan”.
Keunikan antologi ini juga terletak pada keberagaman simbol dan sudut pandang. Dari kios apak, adonan donat, kursi roda, hingga dongeng masa lalu, pembaca diajak menyusuri labirin bernama dewasa. Ada yang terus melangkah, ada yang tersesat, ada pula yang menyerah di tengah jalan. Namun pesan besarnya tetap sama: dewasa bukan tentang sampai, melainkan tentang bertahan dan belajar.
Kelebihan dan Kekurangan
Salah satu metafora yang paling membekas adalah kisah si kucing gendut yang merepresentasikan emosi dan pikiran negatif yang dibiarkan. Diberi “asupan” tak sehat, hingga akhirnya menjadi beban yang melelahkan jiwa dan raga.
Ketika muncul keinginan untuk melepaskan kucing itu, dibutuhkan usaha besar. Cerita-cerita dalam buku ini seolah menjadi teman seperjalanan yang membantu kita mengurangi “berat badan si kucing”, sedikit demi sedikit.
Beberapa cerpen dengan sudut pandang orang tua juga terasa sangat mengena. Ia menyadarkan bahwa kasih sayang sering hadir dengan cara yang tidak selalu kita sadari. Kita yang merasa kurang dicintai, bisa jadi justru luput melihat bentuk cinta yang diam-diam bekerja. Refleksi ini terasa menampar, sekaligus menenangkan.
Dari sisi penulisan, setiap penulis memiliki gaya dan ciri khas yang membuat antologi ini kaya rasa. Tidak monoton, tidak satu suara. Tebal sekitar 224 halaman, buku ini penuh emosi, konflik, dan resolusi yang cukup untuk membuat pembaca menangis di satu halaman, lalu tersenyum di halaman berikutnya.
Rekomendasi Bacaan
Tumbuh Meski Tak Utuh cocok dibaca oleh siapa saja, terutama mereka yang sedang berada di fase quarter life crisis, overthinking, atau kondisi mental yang menurun. Buku ini mengingatkan bahwa manusia memang satu paket: luka dan bahagia. Dewasa tidak harus sempurna. Tugas kita bukan menghindari masalah, melainkan berdamai dengannya.
Seperti kutipan kuat dalam buku ini:
“Tak ada yang sia-sia. Allah memperlambat perjalananmu karena Allah punya rencana besar untukmu siap menjalaninya.”
Antologi ini tidak menawarkan solusi instan, tapi memberi teman dan terkadang, itu sudah lebih dari cukup.
Identitas Buku
- Judul: Tumbuh Meski Tak Utuh
- Penulis: Caraka
- Penerbit: Bentang Pustaka
- Tahun Terbit: 2023
- Jumlah Halaman: 252 halaman
- Kategori: Kumpulan Cerpen
- ISBN: 978-623-186-233-4