Review Buku 'Tahun Penuh Gulma': Suara Masyarakat Adat Melawan Rakusnya Korporasi

M. Reza Sulaiman | Taufiq Hidayat
Review Buku 'Tahun Penuh Gulma': Suara Masyarakat Adat Melawan Rakusnya Korporasi
Tahun Penuh Gulma karya Siddhartha Sarma. (Doc.Pribadi/Taufiq)

Bagaimana rasanya ketika tanah yang kau anggap suci, tempat abu leluhurmu beristirahat, tiba-tiba dipandang sebagai tumpukan uang oleh mereka yang berkuasa? Inilah realitas pahit yang dihadapi oleh Korok, seorang remaja suku Gondi dalam novel Tahun Penuh Gulma karya Siddhartha Sarma.

Melalui mata Korok—seorang anak laki-laki yang terpaksa putus sekolah dan menjadi tukang kebun setelah ayahnya ditangkap—Sarma membawa kita ke jantung konflik Bukit Devi di India. Sebuah bukit yang bagi suku Gondi adalah harapan hidup, namun bagi pemerintah dan korporasi hanyalah sebuah "tambang emas" bauksit yang harus segera dikeruk demi laba.

Sinopsis: Siasat di Balik Bukit Devi

Konflik bermula saat Bukit Devi, wilayah lindung yang dijaga turun-temurun oleh suku Gondi, diincar oleh aliansi penguasa dan pengusaha. Awalnya, pendekatan yang digunakan tampak halus; janji manis tentang lapangan kerja dan kemajuan ekonomi ditebar agar masyarakat adat mau menanggalkan cangkul mereka.

Namun, ketika janji tersebut ditolak dengan protes damai, topeng keramahan itu tanggal. Pemerintah mulai menggunakan perangkat keamanan untuk melakukan represi fisik. Di tengah gesekan yang kian memanas, suku Gondi dipaksa menyadari satu kenyataan getir: dalam pertarungan melawan raksasa modal, mereka benar-benar berdiri sendirian.

Hukum yang Dikebiri dan Narasi Kriminalisasi

Novel ini sangat kuat dalam memotret bagaimana hukum sering kali dijadikan alat pukul bagi kaum marginal. Siddhartha Sarma dengan apik menunjukkan bahwa keberadaan dokumen kepemilikan tanah milik suku Gondi menjadi tidak berarti saat pemerintah secara sepihak mencabut status perlindungan lahan demi kepentingan tambang. Hal ini senada dengan data Science Advances (2023) yang menyebutkan bahwa 34 persen konflik lahan global berdampak langsung pada masyarakat adat, di mana sebagian besar dipicu oleh sektor ekstraktif. Bagi suku Gondi, alam bukan sekadar komoditas; ia adalah rumah bagi roh nenek moyang dan dewa-dewi mereka. Namun, di mata para pemodal, kearifan lokal hanyalah hambatan yang harus disingkirkan.

Kekuatan utama buku ini terletak pada penggambaran karakter Ghosh, seorang pelobi licik yang merepresentasikan sisi gelap birokrasi. Ghosh menggunakan strategi dua arah yang mengerikan: memiskinkan suku Gondi dengan memutus akses bantuan kekeringan, lalu melakukan kriminalisasi. Ia menciptakan narasi palsu yang menuduh suku Gondi berkolaborasi dengan kelompok Maois (pemberontak bersenjata).

Strategi "stigma" ini berhasil membalikkan simpati publik menjadi kebencian, membuat perjuangan suku Gondi terlihat seperti ancaman negara. Melalui tokoh Korok, pembaca diajak merasakan gejolak emosi—rasa takut yang bermutasi menjadi amarah "gulma" yang siap merambat dan melawan balik sistem yang rakus.

Walaupun buku ini mengangkat tema yang sangat berat dan kompleks, Sarma berhasil menyajikannya dengan narasi yang lugas dan tidak berbelit-belit. Mungkin bagi pembaca yang mencari penyelesaian instan atau akhir yang sepenuhnya manis, buku ini terasa mengiris hati karena realitasnya yang terlalu jujur. Namun, justru di situlah kelebihannya; buku ini tidak memberikan hiburan kosong, melainkan sebuah cermin bagi demokrasi yang sering kali tuli terhadap suara masyarakat pinggiran.

Pada akhirnya, Tahun Penuh Gulma adalah sebuah manifesto tentang perlawanan terhadap modal kapital raksasa yang mencoba merampas martabat manusia. Melalui perjuangan Korok, kita diingatkan bahwa demokrasi yang sejati seharusnya mampu mendengar tanpa pandang bulu.

Novel ini menawarkan proses berpikir kritis kepada pembaca agar tidak mudah menelan mentah-mentah wacana yang dilemparkan oleh aktor bisnis dan politik. Jika Anda mencari bacaan yang mampu membangkitkan empati sekaligus kemarahan atas ketidakadilan sosial, buku ini adalah jawaban yang tepat. Jika menyenangkan, sebarkan; jika tidak, beri tahu!

Identitas Buku:

  • Judul: Tahun Penuh Gulma (judul asli: Year of the Weeds)
  • Penulis: Siddhartha Sarma
  • Penerjemah: Barokah Ruziati
  • Penerbit: Marjin Kiri
  • Tahun Terbit: Desember 2020 (Cetakan Pertama)
  • Tebal Buku: vi + 248 halaman
  • ISBN: 978-602-0788-10-4
  • Genre: Fiksi Remaja, Fiksi Lingkungan

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak