Kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami karya A. A. Navis merupakan salah satu karya penting dalam khazanah sastra Indonesia. Cerpen yang menjadi judul buku ini bahkan telah lama dianggap legendaris dan kerap hadir dalam pelajaran Bahasa Indonesia untuk dianalisis nilai-nilai sosial dan religiusnya.
Ketajaman kritik serta gaya bertuturnya yang satir membuat karya ini tetap relevan dibaca lintas generasi. Terdiri dari sepuluh cerpen yang masing-masing mewakili kritik terhadap mozaik kehidupan melai dari religius, ekonomi, sosial, budaya , hingga politilk.
Robohnya Surau Kami
Berkisah tentang tokoh “aku” yang berbincang dengan seorang penjaga surau tua yang hidupnya hanya diisi dengan ibadah. Ia menceritakan kisah dari Ajo Sidi tentang Haji Saleh, seorang yang rajin beribadah dan merasa dirinya saleh karena tak pernah lalai berdoa, namun ternyata masuk neraka karena mengabaikan tanggung jawab terhadap keluarga dan lingkungan.
Dalam dialognya dengan Tuhan, terungkap bahwa Tuhan tidak membutuhkan pujian manusia, melainkan amal nyata bagi sesama.
Cerita itu menjadi sindiran terhadap ibadah yang egois dan hanya berorientasi pada ritual. Kakek penjaga surau merasa tersindir dan diliputi kecemasan, seolah seluruh hidupnya sia-sia karena hanya menjaga surau tanpa memberi manfaat sosial.
Konflik batin yang mendalam membuatnya kehilangan pegangan, hingga berujung pada tindakan tragis yang memperlihatkan betapa kerasnya kritik terhadap pemahaman agama yang sempit dan individualistis.
Anak Kebanggaan
Mengisahkan Ompi, seorang ayah tua yang telah pensiun dan menjalani hari-harinya dengan menunggu surat dari anak semata wayangnya, Indra Budiman, yang merantau untuk menjadi dokter. Setiap hari ia membayangkan kepulangan anaknya dengan gelar yang membanggakan, bahkan sering menceritakan kepada orang-orang bahwa banyak gadis ingin melamar anaknya. Harapan itu menjadi sumber kebahagiaan sekaligus harga dirinya di tengah masa tua yang sepi.
Namun kenyataan tidak seindah angan-angan. Indra Budiman ternyata tidak sepenuhnya jujur kepada ayahnya, sementara Ompi pun menipu dirinya sendiri dengan cerita-cerita kebanggaan. Hingga akhirnya, ketika surat yang dinantikannya datang, Ompi meninggal dalam kebahagiaan semu tanpa sempat mengetahui isi sebenarnya.
Mengkritik obsesi terhadap status sosial dan prestise, terutama dalam budaya yang mengukur martabat orang tua dari keberhasilan anak. Unsur yang disorot adalah aspek sosial dan budaya, tentang bagaimana harapan terhadap mobilitas sosial dapat berubah menjadi ilusi yang menyakitkan.
Topi Helm
Cerpen ini menceritakan seorang petugas rem kereta api di Bukittinggi yang sangat bangga terhadap topi helm pemberian mantan atasannya. Topi itu bukan sekadar pelindung kepala, melainkan simbol kehormatan dan kedekatannya dengan sang bos.
Ia bahkan merasa dirinya istimewa karena pernah mendapat perhatian dari atasan. Julukan yang diberikan orang-orang justru membuatnya semakin bangga, seolah-olah ia memiliki kedudukan lebih tinggi dari yang sebenarnya.
Suatu hari, ketika topinya terlempar ke sungai, ia tanpa ragu mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan benda tersebut, bahkan hampir mencelakakan perjalanan kereta api. Dari peristiwa ini, Navis menyindir mentalitas yang mengagungkan simbol kekuasaan.
Mengkritik aspek sosial dan budaya feodal, terutama sikap inferior yang merasa besar hanya karena bersentuhan dengan atribut kekuasaan. Obsesi terhadap simbol status membuat tokohnya kehilangan rasionalitas dan tanggung jawab profesional.
Datang dan Perginya
Cerpen ini menghadirkan sosok seorang ayah yang di masa mudanya gemar berselingkuh dan meninggalkan tanggung jawab. Ia pergi meninggalkan istri pertama beserta anak laki-lakinya, lalu hidup bersama perempuan lain bahkan saat perempuan itu tengah mengandung. Bertahun-tahun kemudian, setelah merasa bertobat, ia kembali dengan harapan dapat memperbaiki masa lalu.
Namun kenyataan pahit menantinya. Ia mengetahui bahwa anak laki-lakinya dari istri pertama telah menikah dengan anak perempuan dari istri kedua yang dulu ia tinggalkan saat hamil. Tanpa disadari, kedua anak itu terikat hubungan sedarah.
Ia dihadapkan pada dilema besar: mengungkap kebenaran berarti menghancurkan kebahagiaan mereka, tetapi diam berarti membiarkan pelanggaran agama terus terjadi. Cerpen ini mengkritik aspek moral, agama, dan tanggung jawab sosial, memperlihatkan benturan antara hukum Tuhan dan realitas sosial akibat dosa masa lalu.
Pada Pembotakan Terakhir
Cerita ini berawal dari kenangan tokoh “aku” tentang pembotakan terakhirnya yang dijadikan hadiah ulang tahun. Peristiwa sederhana itu menjadi latar bagi kisah tragis Maria, gadis yatim piatu penjual kue yang tinggal di belakang rumahnya.
Maria hidup dalam tekanan keluarga dan sering dipukuli oleh mamak serta neneknya. Sejak pagi hingga sore ia dipaksa berkeliling kampung menjajakan kue demi membantu ekonomi keluarga.
Suatu hari, karena menyaksikan peristiwa pembotakan tersebut, Maria kembali menjadi sasaran amarah dan dipukuli hingga akhirnya meninggal dunia. Cerpen ini jelas menyoroti aspek ekonomi dan sosial, terutama kemiskinan yang melahirkan kekerasan terhadap anak. Navis mengkritik keras ketidakadilan ekonomi yang membuat anak kecil harus bekerja keras dan menjadi korban kekerasan domestik.
Angin dari Gunung
Mengangkat nostalgia dua sejoli di masa perang yang pernah saling mencintai. Kini keduanya telah menua. Sang lelaki telah menikah dan memiliki anak, sementara perempuan yang dulu dicintainya hidup dalam kondisi cacat, buntung tanpa tangan. Pertemuan mereka kembali membangkitkan kenangan lama dan perasaan yang belum sepenuhnya padam.
Namun kenyataan tidak memberi ruang bagi mereka untuk kembali bersama. Ada keinginan untuk melindungi dan menjaga, tetapi norma pernikahan serta tanggung jawab keluarga menjadi batas yang tak bisa dilanggar. Dampak sosial dari perang serta ironi nostalgia yang berbenturan dengan realita dna tanggung jawab mas kini menjadi sorotan utama kritik dalam cerpen ini.
Menanti Kelahiran
Cerpen ini berkisah tentang Lena, seorang perempuan hamil tua yang diliputi kecemasan berlebihan menjelang persalinan. Ia mudah marah kepada suaminya dan dihantui rasa takut yang tak sepenuhnya ia pahami. Trauma masa lalu dan kegelisahan membuatnya sulit merasa tenang.
Ketika ia mencoba berbuat baik kepada seorang pengemis yang meminta pekerjaan, niat baik itu justru dibalas dengan penipuan. Bukan hanya pakaian, tetapi juga perhiasannya hilang, dan ternyata pengemis tersebut memanfaatkan situasi dengan tipu daya. Kritik yang disampaikan dalam cerpen ini adalah aspek sosial dan moral, khususnya lunturnya kepercayaan dalam masyarakat akibat tekanan ekonomi dan krisis budi pekerti, sehingga solidaritas sosial menjadi rapuh.
Penolong
Cerpen ini berlatar kecelakaan lokomotif pada masa pendudukan Jepang yang menelan banyak korban jiwa. Tokoh “aku” berada di lokasi kejadian dan awalnya diliputi ketakutan untuk mendekat. Ia menyaksikan gerbong-gerbong bertumpuk, korban terjepit, serta suasana penuh kepanikan.
Akhirnya ia memberanikan diri membantu, tetapi pengalaman itu meninggalkan trauma mendalam. Ia terus terbayang pemandangan mayat dan tindakan memotong kaki seorang gadis demi menyelamatkannya. Menyoroti aspek kemanusiaan dalam situasi krisis, mengkritik sikap takut dan apatis di tengah bencana, sekaligus menggambarkan konflik batin antara rasa jijik, takut, dan tanggung jawab moral untuk menolong.
Dari Masa ke Masa
Menggambarkan kedongkolan seorang pemuda terhadap generasi tua yang gemar memberi nasihat panjang dan terkesan menggurui. Apa pun yang dilakukan anak muda harus melalui persetujuan mereka. Bahkan ketika kaum muda berhasil, para orang tua kerap mengklaim keberhasilan itu sebagai hasil didikan dan bimbingan mereka.
Pemuda tersebut berjanji tidak akan bersikap seperti itu ketika ia tua nanti. Namun melalui satire yang tajam, Navis menunjukkan bahwa sikap tersebut berulang dari masa ke masa. Cerpen ini mengkritik aspek politik dan budaya kekuasaan, terutama pola paternalistik dalam masyarakat dan organisasi, termasuk kecenderungan elite atau tokoh partai yang merasa paling berjasa dan dominan terhadap generasi berikutnya.
Identitas Buku
Judul : Robohnya Surau Kami (Kumpulan Cerpen)
Pengarang : A. A. Navis (Ali Akbar Navis)
Tahun Terbit Pertama : 1956
Penerbit (Cetakan Terbaru) : Gramedia Pustaka Utama, 09 Juli 2025
ISBN : 978-979-22-6129-5
Tebal : 148 halaman
Genre : Fiksi sosial-agamawi / sastra kritik