Penghakiman Sosial dalam Cerpen Malam Terakhir Karya Leila S. Chudori

Hayuning Ratri Hapsari | Chairun Nisa
Penghakiman Sosial dalam Cerpen Malam Terakhir Karya Leila S. Chudori
Cerpen Malam Terakhir Karya Leila S. Chudori (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)

Malam Terakhir karya Leila S. Chudori merupakan kumpulan cerpen yang terbit sekitar dua dekade setelah novel monumentalnya, Pulang. Jika Pulang menyoroti trauma politik dan sejarah eksil, maka Malam Terakhir bergerak lebih intim namun tetap politis: tubuh, keluarga, moralitas, kekuasaan, dan ingatan menjadi medan pertarungan yang tak kalah tajam. Dalam sembilan cerpen yang disusunnya, Leila memadukanfrasa-frasa segar, metafora yang subtil, serta gaya penceritaan nonkonvensional untuk membongkar ketidakberesan praktik sosial kontemporer.

Cerpen “Paris, Juni 1998” menolak romantisasi kota Paris. Musim panas tidak dihadirkan sebagai lanskap indah nan romantis melainkan melalui aroma kubis dan selokan kotor. Seorang gadis yang mencari penginapan murah mendengar suara aneh dari kamar tetangga antara kesakitan dan kegirangan. Kecurigaan akan kekerasan berubah menjadi penemuan tentang obsesi: seorang lelaki tenggelam dalam lukisan dan rekaman suara perempuan, terperangkap pada figur Jean Gilles. Di sini, Leila memperlihatkan bagaimana hasrat estetis dapat bergeser menjadi kegilaan; seni tidak lagi membebaskan, melainkan mengurung subjek dalam fantasi.

Dalam cerpen Adilla, kritik sosial diarahkan pada keluarga kelas menengah urban. Adilla, gadis 14 tahun, hidup di bawah tekanan ibunya yang ambisius dan otoriter. Membaca dilarang, ekspresi diri ditekan. Ia menemukan pelarian dalam imaji tokoh-tokoh dari buku seperti The Rainbow dan Summerhill yang diberikan ayahnya secara diam-diam. Imajinasi menjadi ruang resistensi terhadap kontrol orang tua. Namun imajinasi liar Adilla menghantarkan pada puncak luapan emosi penyambutan oleh tokoh-tokoh dalam novel dengan meneggak baygon. Tragedi kematian Adilla  memunculkan ironi aparat sibuk menyelidiki, sementara sang ibu lebih gusar karena anaknya memakai kutang mahalnya, liptik, pensil alis serta sepatu buatan italianya. Tubuh anak perempuan diperlakukan sebagai properti dan simbol gengsi, bukan sebagai subjek otonom. Leila secara halus mengkritik obsesi status sosial dan pengabaian emosional dalam keluarga modern.

“Air Suci Sita” menghadirkan alegori tentang perempuan yang telah lama menjalani hubungan jarak jauh dengan tunangannya dan tiba-tiba merasa dirinya diposisikan seperti Sita—harus melewati api untuk membuktikan kesucian dan kesetiaannya. Kecurigaan yang muncul dalam relasi itu menjadi ‘api’ ujian moral, membebani pihak perempuan, sementara lelaki nyaris tak pernah dipersoalkan dengan ukuran yang sama. Namun, berbeda dari kisah epik yang menuntut keteguhan di atas kobaran api, tokoh perempuan dalam cerpen ini justru memilih berendam berjam-jam, seolah mencari cara lain untuk menenangkan panasnya tuduhan dan tekanan batin. Melalui gambaran ini, Leila menggugat standar ganda patriarkal yang terus menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus membuktikan diri.

Dalam “Sehelai Pakaian Hitam”, Hamdani digambarkan sebagai sosok yang dibentuk publik menjadi figur serba putih: religius, bersih, dan tanpa cela. Ia seolah didikte untuk menjadi penulis yang sempurna, karena hanya dengan citra itulah karyanya dianggap layak dibaca dan dihormati masyarakat. Identitasnya bukan lagi miliknya sendiri, melainkan konstruksi sosial yang menuntut kemurnian tanpa retak. Namun di balik citra itu, tersimpan kehidupan malam dan rahasia yang berlawanan dengan gambaran publiknya. Ketegangan antara tuntutan kesempurnaan dan rapuhnya sisi personal akhirnya menghancurkannya; ia mati sebelum benar-benar mampu melepaskan topeng yang dipaksakan kepadanya. Cerpen ini menyoroti bagaimana tekanan moral kolektif dapat menelan individu yang dipaksa selalu tampak suci.

Cerpen “Untuk Bapak” Tentang kenangan seorang anak terhadap ayahnya yang dikenal sebagai sosok tekun beribadah, bekerja tanpa lelah, dan sangat dihormati masyarakat. Ia memikul tanggung jawab besar, baik sebagai kepala keluarga maupun sebagai figur publik yang dipercaya lingkungannya. Di mata orang banyak, ia adalah teladan; namun bagi sang anak, kepergian ayah meninggalkan ruang kehilangan yang sunyi, terlebih ketika ibunya menikah lagi. Malam terakhir saat sang ayah membacakan cerita di hadapan ratusan orang dan mendapat tepuk tangan meriah menjadi momen yang sarat makna: penghormatan sosial yang begitu besar tidak serta-merta mampu menggantikan kehangatan personal dalam ruang keluarga.

Dalam “Akeats”, dilema perempuan kembali mengemuka. Tokohnya ditekan keluarga untuk menikah dengan penyair religius, Hidayat, sementara ia mengetahui sisi gelap lelaki itu. Kekasihnya yang asing justru tampil lebih jujur dalam berkesenian. Ancaman dicoret dari kartu keluarga memperlihatkan bagaimana institusi keluarga menjadi alat kontrol sosial. Kebebasan memilih pasangan bukan sekadar persoalan cinta, melainkan keberanian menentang struktur.

Cerpen Ilona menghadirkan perspektif anak yang sejak kecil berani mempertanyakan hal-hal yang dianggap tabu. Pertanyaan-pertanyaannya mengusik kenyamanan orang dewasa dan menggoyahkan norma yang selama ini diterima tanpa sanggahan. Namun sikap kritis itu tidak berhenti pada masa kanak-kanak. Ketika dewasa, Ilona memilih memiliki ruang hidupnya sendiri tidak tunduk pada tuntutan sosial, termasuk soal pernikahan. Ilona memutuskan memiliki anak tanpa harus mengikuti skema moral yang mapan. Pilihan tersebut bukan bentuk pemberontakan emosional, melainkan konsistensi dari kesadarannya sejak kecil: bahwa hidup adalah wilayah personal yang berhak ditentukan sendiri. Menariknya, orang tuanya tidak mengutuk atau menolak, melainkan menghargai dan menghormati keputusannya. Dengan demikian, cerpen ini menegaskan bahwa kebebasan individu dapat tumbuh berdampingan dengan sikap saling menghormati dalam keluarga.

“Sepasang Mata Menatap Rain” memperluas cakupan isu ke ranah global. Seorang anak lima tahun menatap foto korban perang di majalah Time—tentang tragedi di Burundi dan Rwanda—dan membombardir orang tuanya dengan pertanyaan. Tatapan anak-anak di lampu merah menjadi refleksi langsung dari gambar perang. Leila menunjukkan bagaimana kekerasan global dan kemiskinan lokal saling berkelindan dalam kesadaran moral seorang anak.

Cerpen penutup, “Malam Terakhir”, dibangun dalam dua latar yang berjalan bersamaan. Latar pertama menghadirkan seorang mahasiswi kritis, putri pejabat tinggi yang kaya raya, yang mempertanyakan apakah negara benar-benar adil dalam memproses tuduhan terhadap tiga mahasiswa yang akan dieksekusi karena dituduh membakar kereta. Perdebatan panjang tentang keadilan dan kebenaran itu belum menemukan jawaban, namun keesokan harinya ia tetap bangun untuk menyaksikan pelaksanaan eksekusi pada pukul delapan pagi. Sementara itu, latar kedua menyoroti tiga mahasiswa yang telah menjadi tahanan: satu dicambuki ratusan kali, satu kehilangan mata kirinya, dan satu lagi digigit tikus hingga berdarah. Mereka menanti detik-detik yang terasa menyesakkan menuju pukul delapan pagi, saat hidup mereka akan benar-benar diputuskan. Melalui dua sudut pandang ini, cerpen menampilkan kontras antara perdebatan tentang keadilan di ruang aman dan kenyataan pahit yang harus ditanggung oleh mereka yang berada di balik jeruji.

Secara keseluruhan, Malam Terakhir menegaskan konsistensi Leila S. Chudori dalam mengolah trauma sosial, tubuh, dan kekuasaan dengan kedalaman psikologis. Setiap cerpen menghadirkan ironi: kesucian yang dipertanyakan, moralitas yang palsu, cinta yang tertekan, dan negara yang represif. Gelapnya kisah-kisah ini bukan sekadar estetika, melainkan refleksi tajam atas masyarakat yang masih terjebak dalam standar ganda dan kekerasan simbolik. Buku ini mewakili kegelisahan zaman.

identitas Buku:

Judul: Malam Terakhir
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit (edisi terbaru): 2018
ISBN: 978-602-424-823-9
Jumlah Halaman: ±119 halaman
Bahasa: Indonesia
Jenis Buku: Kumpulan cerpen

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak