Ulasan

Sepotong Luka di Dalam Manisnya Pasta Kacang Merah Durian Sukegawa

Sepotong Luka di Dalam Manisnya Pasta Kacang Merah Durian Sukegawa
Novel Pasta Kacang Merah (Good Reads)

Sastra Jepang kontemporer sering kali diasosiasikan dengan atmosfer yang tenang, lambat, namun menyimpan kedalaman emosi yang magis.

Seperti novel-novel bernuansa serupa yang pernah saya jumpai, daya tarik awal biasanya terpancar dari visual sampulnya yang sangat estetik. Kesan magis ini pula yang pertama kali tertangkap dari sampul novel Pasta Kacang Merah karya Durian Sukegawa.

Desain luar yang didominasi oleh nuansa merah muda dan kerindangan pohon sakura seolah menjanjikan sebuah kisah romantis yang manis. Namun, di balik estetika visual yang menyejukkan tersebut, novel ini justru menyimpan sebuah refleksi kehidupan dan menuntut ketabahan yang luar biasa dari para tokohnya.

Sinopsis

Cerita berpusat pada tokoh bernama Tsujii Sentaro, seorang pria paruh baya yang memandang dirinya telah gagal total dalam menjalani kehidupan.

Terjebak oleh masa lalu yang kelam sebagai pemilik catatan kriminal ditambah dengan ketergantungan akut pada alkohol, impian masa mudanya untuk menjadi seorang penulis perlahan-lahan pupus tak berbekas.

Demi melunasi utang-utang finansial kepada mendiang bosnya, Sentaro bertahan hidup dengan mengelola sebuah kedai dorayaki kecil bernama Dora Haru.

Hari-harinya bergulir secara monoton tanpa gairah, di bawah bayang-bayang pohon sakura yang terus berubah mengikuti pergantian musim.

Titik balik kehidupan Sentaro dimulai ketika seorang wanita lansia berusia 76 tahun bernama Yoshii Tokue mendatangi kedainya untuk melamar pekerjaan.

Awalnya, Sentaro memendam keraguan besar, terlebih setelah menyaksikan kondisi fisik jemari tangan Tokue yang bengkok dan tampak aneh akibat penyakit masa lalu. Namun, segalanya berubah total setelah Sentaro mencicipi pasta kacang merah (tsuban) buatan Tokue.

Rasa manis yang sempurna dan tekstur yang kaya akhirnya membuat benteng pertahanan Sentaro luluh, hingga ia memutuskan untuk menerimanya bekerja di dapur kedai.

Melalui interaksi sehari-hari di dapur Dora Haru, Tokue tidak hanya mewariskan rahasia pembuatan pasta kacang merah yang telah diasahnya selama lima puluh tahun, tetapi juga mengajarkan sebuah "seni mendengarkan" yang mendalam kepada Sentaro.

Hubungan mereka berkembang menjadi ikatan emosional yang hangat layaknya ibu dan anak. Dinamika ini kemudian turut melibatkan Wakana, seorang anak sekolah pelanggan setia kedai yang juga sedang bergelut dengan konflik batin dan kesepian di lingkungan rumahnya.

Namun, kedamaian di kedai Dora Haru tidak bertahan lama. Ketika manisan pasta kacang merah mereka mulai populer dan mendatangkan banyak pelanggan, desas-desus mengenai bentuk tangan Tokue mulai menyebar di kalangan masyarakat sekitar.

Tekanan sosial dan prasangka buruk lingkungan perlahan mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan rapat-rapat: Tokue adalah seorang penyintas penyakit lepra (penyakit Hansen). Stigma negatif masyarakat langsung menghantam keberlangsungan Dora Haru, memicu penurunan omzet yang sangat drastis, dan akhirnya memaksa Tokue untuk mengundurkan diri demi melindungi masa depan kedai tersebut.

Bedah Isu Sosial dan Sisi Kritis

Meskipun premisnya tampak sederhana karena berfokus pada kuliner tradisional Jepang, Durian Sukegawa sebenarnya menggunakan kelembutan pasta kacang merah sebagai medium untuk membongkar isu sosial yang sangat berat.

Novel ini menyoroti sejarah kelam kebijakan karantina pemerintah Jepang di masa lalu terhadap penderita lepra, yang dipaksa hidup terisolasi di sanatorium dan terasing dari keluarga seumur hidup mereka.

Melalui tokoh Tokue, pembaca dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa bahkan setelah dinyatakan sembuh total secara medis, penolakan dan diskriminasi dari masyarakat tetap membekas secara permanen dalam kehidupan sosial penyintas.

Meski memiliki kedalaman pesan yang luar biasa, novel ini tetap tidak luput dari beberapa catatan teknis. Salah satunya adalah penggunaan eksposisi yang disajikan berlebihan di beberapa bagian.

Narasi cerita tampak lebih sering menjelaskan situasi secara gamblang alih-alih memperlihatkan karakterisasi tersebut melalui tindakan nyata atau dialog antar-tokoh.

Pendekatan ini membuat perkembangan alur menjadi lambat dan menahan kedalaman emosional yang seandainya bisa dicapai melalui cara penyampaian yang lebih halus dan imersif. Akibatnya, pembaca sesekali diposisikan seperti sedang didekte oleh narator alih-alih menikmati cerita yang mengalir natural.

Selain itu, simbolisme yang digunakan dalam cerita ini sesekali tampak kikuk dan kurang subtil. Beberapa elemen penting seperti pohon sakura atau proses pengerjaan pasta kacang merah disajikan dengan penjelasan yang terlalu eksplisit, sehingga mengurangi nuansa artistik yang seharusnya bisa memicu kontemplasi mandiri bagi pembacanya.

Alih-alih mengundang kita untuk merenung dan mencari makna tersembunyi, simbol-simbol ini justru disodorkan dalam bentuk kesimpulan yang sudah matang.

Secara keseluruhan, Pasta Kacang Merah bukan sekadar narasi tentang bagaimana membuat kue dorayaki yang lezat untuk dinikmati.

Buku ini merupakan sebuah ajakan deskriptif bagi pembaca untuk memperluas batas empati, menghargai setiap bentuk eksistensi makhluk hidup, dan memberikan ruang bagi manusia-manusia yang telanjur disingkirkan oleh stigma agar bisa mulai bertumbuh kembali dari titik nol.

Identitas Buku

Judul: Pasta Kacang Merah
Penulis: Durian Sukegawa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tanggal Terbit: 6 Oktober 2022
Tebal: 240 halaman
ISBN: 9786020665085

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda