Ulasan

Membaca Unfinished Goodbye: Tentang Luka, Trauma, dan Berhenti Berpura-pura

Membaca Unfinished Goodbye: Tentang Luka, Trauma, dan Berhenti Berpura-pura
Unfinished Goodbye karya Syahid Muhammad. (instagram.com/iidmhd)

Unfinished Goodbye bukan sekadar narasi tentang kehilangan. Karya Syahid Muhammad ini adalah cermin bagi bagian terdalam diri kita yang sering terabaikan, sebuah gudang luka lama yang kerap kita sangka sudah sembuh, padahal hanya tersembunyi. Buku ini mengajukan pertanyaan yang sangat personal: Bagaimana jika selama ini kita tidak pernah benar-benar menyelesaikan masalah, melainkan hanya menghindarinya? Bagaimana jika kesembuhan yang kita rasakan hanyalah distraksi sesaat?

Perjalanan Batin Sang Psikolog yang Rapuh

Kita diajak mengikuti perjalanan batin Ranu Anggara, seorang psikolog yang sehari-harinya membantu orang lain, namun ia sendiri ternyata tak sekuat yang terlihat. Dunia Ranu runtuh saat sahabatnya, Sabrina, meninggal secara tiba-tiba. Kehilangan itu memicu rasa bersalah yang hebat, memaksanya menyadari bahwa kematangan emosionalnya sedang diuji di titik terendah.

Demi menebus rasa bersalahnya, Ranu melakukan perjalanan impulsif ke Almaty, Kazakhstan, untuk menemui Damira, teman lama Sabrina. Berbekal kartu pos sebagai satu-satunya petunjuk, Ranu menjelajahi kota yang dingin dan misterius itu. Namun, jauh di lubuk hatinya, pencarian itu bukan sekadar mencari jejak Sabrina, melainkan upaya untuk menemukan kejujuran dan keberanian dalam menghadapi dirinya sendiri.

Almaty dan Pertemuan yang Menyembuhkan

Alur cerita ini bergerak perlahan namun sarat makna. Penulis menggambarkan kota Almaty dengan sangat detail, mulai dari atmosfer musim dingin hingga aroma kopi di toko roti, yang secara bertahap menghangatkan luka Ranu. Di sanalah ia bertemu Janelle, seorang barista yang menjadi karakter kunci. Janelle bukan hanya pendengar yang baik; ia adalah sosok yang berani menyampaikan kebenaran pahit yang dibutuhkan Ranu untuk bertumbuh.

Novel ini juga dengan tajam menyoroti sisi kelam persahabatan dewasa yang beracun (toxic). Olokan dan lelucon berlebihan dari lingkaran pertemanannya menjadi salah satu sumber trauma yang memperparah luka Ranu. Keberanian Ranu untuk menjauh dari lingkungan tersebut memberikan pelajaran berharga bagi pembaca mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental dari orang-orang terdekat.

Trauma Masa Kecil dan "Inner Child"

Satu poin kuat dalam buku ini adalah pembahasan mengenai trauma masa kecil. Ranu digambarkan sebagai sosok yang "ditunggangi" oleh anak kecil batiniah (inner child) yang tidak mendapatkan kasih sayang layak dan dipaksa dewasa sebelum waktunya. Melalui Ranu, kita belajar bahwa menyembuhkan luka pengasuhan orang tua bukanlah proses yang instan, bahkan bagi seorang profesional di bidang kesehatan mental sekalipun. Seperti kutipan di halaman 177: "Hanya karena kau tahu caranya, tidak berarti prosesmu jadi lebih cepat."

Keberanian untuk Berhenti Berpura-pura

Syahid Muhammad menggunakan bahasa yang puitis namun tetap membumi. Suasana melankolis yang menyelimuti buku ini mungkin terasa menyesakkan di beberapa bagian, namun itulah esensi dari sebuah "fiksi penyembuhan".

Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa pun yang sedang berjuang menyembuhkan luka emosional. Unfinished Goodbye mengajarkan kita satu hal penting: tidak apa-apa untuk berhenti berpura-pura kuat. Terkadang, kejujuran pada rasa sakit adalah langkah pertama menuju kedamaian yang sesungguhnya.

Identitas Buku:

  • Judul: Unfinished Goodbye: Ternyata Kita Belum Seselesai Itu
  • Penulis: Syahid Muhammad
  • Penyunting: Jia Effendie
  • Penyelaras Aksara: Tri Prasetyo, Fatwa Aulia Sudrajat
  • Ilustrator: Agris
  • Penerbit: Gradien Mediatama
  • Cetakan Kedua, Desember 2024

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda