Ulasan
Review Film Hokum, Minim Jumpscare tapi Bikin Tegang Sampai Akhir
Sutradara Damian McCarthy sukses menyuguhkan film horor Hokum yang menggabungkan teror psikologis dan folklore atau cerita rakyat tentang penyihir dari Irlandia.
Tak seperti film horor pada umumnya yang kerap menampilkan jumpscare berlebihan yang cukup membuat penonton tak nyaman, Hokum hadir dengan teror tak biasa yang membuat penonton penasaraan hingga akhir film.
Kisah dibuka dengan informasi soal latar belakang tokoh utama yang merupakan seorang penulis novel bernama Ohm Bauman yang diperankan oleh Adam Scott.
Cerita berlanjut saat Bauman pergi ke salah satu hotel bernama Bilberry Woods yang terletak di tengah hutan Irlandia. Kepergiannya bukan tanpa alasan, ia ingin menaburkan abu kedua orang tuanya di sebuah pohon besar tak jauh dari hotel tempatnya menginap.
Saat menaburkan abu kedua orang tuanya itu, Bauman tidak sengaja bertemu dengan sosok pria misterius dengan penampilan kacau yang nanti justru banyak memberikan dinamika dalam film.
Berlanjut ke hotel tempatnya menginap, Bauman bertemu dengan seorang karyawan hotel wanita bernama Fiona yang sempat menceritakannya soal penyihir yang merupakan cerita rakyat di Irlandia.
Bauman yang digambarkan sebagai sosok yang arogan dan menyebalkan justru menganggap cerita tersebut hanya kebohongan belaka atau “Hokum”.
Tingkah Bauman yang menyebalkan di sebagian besar adegan membuat penonton merasa ikut terbawa emosi namun justru membuat cerita semakin hidup.
Misteri Honeymoon Suite yang Bikin Tegang
![Review film Hokum [IMDb]](https://media.arkadia.me/v2/articles/rizkautami/9tFvcYfNm9I6sr4Zi3kx4gzDrkfOSGT0.png)
Hal yang menjadi sorotan utama dalam film Hokum adalah misteri Honeymoon Suite atau kamar bulan madu yang menyimpan begitu banyak misteri. Konon, ada sosok penyihir yang kerap menghantui kamar tersebut.
Bauman yang selalu berpikir rasional lalu merasa skeptis dan menolak mentah-mentah cerita rakyat tersebut. Akan tetapi semuanya mulai berubah saat Fiona, karyawan hotel wanita yang sempat menyelamatkan nyawa Bauman mendadak hilang secara misterius di malam Halloween.
Dari sini teror mulai dibangun, Bauman dengan rasa penasarannya yang tinggi mulai menyelidiki kemana hilangnya Fiona. Ketegangan mulai terasa saat ia yang dibantu Jerry, memaksa masuk ke hotel pada malam hari di saat seluruh karyawan hotel pulang.
Sebagian besar adegan ditampilkan dalam suasana gelap, mencekam, yang membuat penonton merasa tegang dan tak jarang menutup mata.
Intensnya adegan di ruangan gelap dan sempit membuat film ini rasanya tidak cocok untuk orang yang mengidap fobia gelap (Nyctophobia) dan fobia ruang sempit (Claustrophobia).
Meski selalu menempatkan di suasana gelap, mencekam, dan menegangkan, namun jumpscare tidak ditempatkan di sembarang adegan. McCarthy benar-benar tahu saat di mana ia harus memberikan efek jumpscare yang membuat penonton tak perlu merasa histeris berlebihan.
Saya bahkan harus ikut menahan napas saat adegan si tokoh utama melihat berbagai penampakan dan menghindari kejaran para penyihir yang ada di ruang bawah tanah hotel tersebut.
Namun, tak melulu tegang, penonton juga tetap mendapatkan sedikit komedi berkat tokoh Alby yang selalu mencairkan suasana di beberapa adegan.
Scoring Film yang Terngiang-ngiang
![Review film Hokum [IMDb]](https://media.arkadia.me/v2/articles/rizkautami/tnPbpiorMfLSWYWPsnoyD6Ut0RPaLgm2.png)
Sedari awal menonton film, saya merasa bergidik dengan scoring film yang terngiang-ngiang di telinga. Elemen musik yang mengiringi adegan di awal film, bahkan sebelum adegan menegangkan serasa langsung mewakili kengerian yang disajikan dalam film ini.
Jika kamu pernah menonton Insidious dan Conjuring, scoring film Hokum ini juga dikerjakan oleh composer yang sama yakni Joseph Bishara.
Pengalamannya mengisi scoring di film-film horor tentu tak diragukan lagi dan pastinya sukses membangun kengerian di sepanjang film, terutama di adegan-adegan menegangkan
Permainan Psikologis
![Review film Hokum [IMDb]](https://media.arkadia.me/v2/articles/rizkautami/w3NV1VhMxgfIy4P0mQMM18pTPj7SnR3C.png)
Meskipun film ini bergenre horor, namun ternyata, inti dari cerita yang dibangun di akhir film adalah bagaimana pergulatan batin sang tokoh utama menghadapi “dosa masa lalu” yang melibatkan sang ibunda.
Permainan psikologis Bauman sebagai penulis novel arogan justru terlihat di bagian akhir film. Meski tampaknya memiliki karakter yang kuat, namun ada sisi rapuh yang menjadi kelemahan Bauman sesungguhnya.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, film Hokum cukup memuaskan karena berhasil menggabungkan folklore dengan teror psikologis yang cukup jarang ditampilkan di film horor kebanyakan.
Film ini juga tak membuat penonton bingung karena alur yang disajikan cukup jelas dan mampu menjawab teka-teki soal masa lalu si tokoh utama.
Jika kamu menyukai film horor yang mengekspos soal penampakan hantu, eksorsisme, atau pembalasana dendam, film Hokum rasanya tak mampu memenuh ekspektasi tersebut. Namun jika kamu menyukai film dengan teror yang dibalut dengan horor psikologis, Hokum tentu layak untuk ditonton.