Ulasan
Merenungi Sajak Cinta Tere Liye di Buku 'Sungguh, Kau Boleh Pergi'
Cinta merupakan anugerah dari Sang Maha Pencipta yang sudah semestinya selalu kita syukuri. Dengan rasa cinta, kita dapat mengasihi dan menyayangi satu sama lain. Bahkan menyayangi seluruh makhluk hidup ciptaan-Nya.
Bicara tentang cinta memang sangat menarik. Cinta kerap hadir lewat hal-hal yang sepintas tampak remeh dan sederhana. Berawal dari tatapan atau perhatian kecil, tapi dilakukan secara berkelanjutan, seseorang bisa saja menjadi jatuh cinta padanya. Berawal dari pertemuan yang tak disengaja, seseorang bisa saja terpesona dan akhirnya jatuh cinta.
Dalam buku kumpulan sajak Sungguh, Kau Boleh Pergi Tere Liye mencoba mengilustrasikan rasa cinta lewat hal-hal kecil dan sederhana. Simak saja sajaknya yang berjudul Cinta itu Sederhana. Perhatian kecil seseorang yang membawakan payung saat turun hujan, merupakan hal yang sepintas sederhana tapi menjadi bukti cinta atau rasa sayang.
Seperti saat kau datang membawakan payung
Ketika hujan deras
dan aku hanya bisa termangu
Kau julurkan payung itu sambil tersenyum
“Ayo, kita pulang.”
Cinta itu identik dengan kelihaian seseorang menjadi pendengar yang baik. Ya, mendengarkan seseorang dengan saksama. Tanpa pernah berniat memotong perkataan. Lalu berusaha memahami dengan hati, tanpa harus repot banyak mengeluarkan kata-kata. Sebab kata-kata yang keluar dari mulut, acap kali tak didasari dengan rasa cinta. Sehingga yang terjadi kemudian adalah: orang lain sakit hati mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kita.
Dalam sajaknya yang berjudul Bukan Bicara, Tere Liye begitu fasih mendefinisikan cinta. Menurut Tere Liye, cinta itu mendengarkan, bukan bicara. Karena setiap hari kita bisa bicara, tanpa cinta sedikit pun. Bicara, bicara, dan bicara. Tapi perlu cinta untuk mau mendengarkan. Mendengarkan dengan kesadaran. Mendengarkan tanpa lelah dan bosan.
Tere Liye juga mengibaratkan cinta seperti sebuah perjalanan. Berikut petikan sajaknya yang bisa kita renungi kedalaman maknanya:
Cinta itu perjalanan, bukan pemberhentian
Kita tidak berhenti hanya karena menemukan cinta
Justru baru dimulai perjalanan panjangnya
Kadang lelah, bosan, bahkan tergoda pergi
Kadang sakit, patah hati, bahkan dirundung susah
Tapi perjalanan harus diteruskan
Salah satu sajak karya Tere Liye yang menurut saya cukup berkesan berjudul Sungguh, Kau Boleh Pergi. Sajak yang juga menjadi judul buku ini menyadarkan kita bahwa segala sesuatu itu ada masanya. Jadi, jangan terlalu mencintai sesuatu, sebab suatu saat ia akan pergi atau kita yang akan pergi terlebih dahulu. Berikut petikan sajaknya:
Siang pasti digantikan malam
Sekeras apa pun siang bertahan
Matahari pasti tumbang
Dan gelap menyelimuti
Siang pasti pergi
Tema-tema dalam buku kumpulan sajak ini tak melulu bicara soal cinta. Namun juga membahas hal-hal lain yang patut menjadi bahan renungan dan introspeksi bersama. Misalnya sajak berjudul Pekerjaan. Tere Liye menyentil sederet profesi yang mestinya didasari dengan rasa ikhlas dan ketulusan. Berikut petikan sajaknya:
Nak, jangan jadi guru kalau kau tidak tahan.
Menghabiskan waktu berhari-hari
mengajari murid-murid.
Saat murid-muridnya pintar, genius, memang itulah tugasnya guru. Biasa sajalah.
Saat murid-muridnya tidak pintar, bandel, nakal, yang disalahkan gurunya.
Ini pun sama dengan pekerjaan guru mengaji, dosen, dan sebagainya.
Buku ini merupakan buku kedua kumpulan sajak karya Tere Liye dengan ilustrasi terbaiknya. Buku pertamanya, Dikatakan Atau Tidak Dikatakan itu Tetap Cinta masuk dalam daftar salah satu sajak paling laris di Indonesia.
Semoga terbitnya buku ini dapat menjadi bacaan yang bermanfaat untuk semua. Meski berupa sajak, tapi pelajaran berharga di dalamnya sungguh terasa.
Identitas Buku
Judul Buku: Sungguh, Kau Boleh Pergi (Kumpulan Sajak)
Penulis: Tere Liye
Penebit: Gramedia Pustaka Utama (Jakarta)
Tebal: 96 halaman
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 9786020636153