Ulasan
Human Specimens, Menantang Batas Antara Seni dan Kemanusiaan
Drama ini dimulai dengan ditemukannya enam remaja laki-laki yang telah meninggal dan diawetkan menjadi sebuah karya seni dalam sebuah kotak kaca besar. Lalu, tak lama kemudian, seorang profesor bernama Sakaki Shiro mengaku bahwa ialah pencipta dari karya seni tersebut yang ia namai sebagai spesimen manusia. Segera pengakuannya semakin mengguncang seluruh negara, karena dari enam korban tersebut, salah satunya adalah putra kandung dari sang profesor sendiri, yaitu Sakaki Itaru.
Memiliki genre thriller psikologis, Human Specimens berhasil menyajikan kesan disturbing sejak awal drama ini dimulai. Diangkat dari novel penulis populer Minato Kanae berjudul Ningen Hyohon () drama ini memiliki total 5 episode saja yang bisa ditonton di Prime Video. Ada pun aktornya antara lain; Hidetoshi Nishijima sebagai Sakaki Shiro, Ichikawa Somegoro VIII sebagai Sakaki Itaru, Miyazawa Rie sebagai Ichinose Rumi, dan Ito Aoi sebagai Ichinose Anna. Sutradaranya adalah Hiroki Ryuichi yang sebelumnya pernah menggarap film Ride or Die (2021) dan adaptasi populer Wolf Girl and Black Prince (2016).
Secara singkat Human Specimens banyak berputar di lingkup hubungan ayah dan anak antara Shiro Sakaki dan Itaru Sakaki. Mereka digambarkan sebagai keluarga yang harmonis dan saling mengisi peran setelah meninggalnya sang ibu dalam keluarga tersebut. Walaupun hanya hidup berdua, kehidupan ayah dan anak ini hangat dan terkesan terbuka satu sama lain.
Shiro Sakaki digambarkan sangat tergila-gila pada kupu-kupu sejak kecil, ia sebetulnya memiliki ketertarikan pada seni karena pengaruh sang ayah yang merupakan pelukis ternama di zamannya. Sayangnya, sang ayah memiliki reputasi buruk karena pernyataannya di media. Meskipun Shiro juga ingin mengikuti jejak sang ayah, tetpi impian tersebut pupus karena ia merasa tak berbakat setelah mengenal Ichinose Rumi, putri dari kawan ayahnya yang berbakat di bidang seni.
Rumi memiliki mata unik, mata yang dapat menangkap banyak warna seperti kupu-kupu yang sangat disukai oleh Shiro. Merasa tidak mampu bersaing, Shiro pun berhenti melukis sehingga mulai fokus menekuni kecintaannya yang lain yaitu kupu-kupu. Namun, siapa sangka jika bakat seni masih mengalir ke dalam keluarga. Itaru berbakat di semua bidang seni, mulai dari melukis, fotografi, sampai menulis.
Bakatnya melukis menarik perhatian Ichinose Rumi yang kala itu telah menjadi pelukis ternama. Ia tengah mencari penerus kariernya sebagai pelukis karena didera sakit parah. Rumi mengumpulkan enam pemuda termasuk Itaru dalam sebuah camp di rumah terpencil dekat gunung, rumah yang dahulu pernah menjadi tempat tinggal Shiro dan tempat mereka pertama kali bertemu. Rumi akan mengadakan ujian demi menemukan penerus barunya, sayangnya sakit yang diderita Rumi kambuh sehingga camp tersebut ditunda. Dari sinilah serangkaian pembunuhan terjadi, demi terciptanya sebuah karya seni luar biasa bernama Human Specimens. Spesimen yang dibuat untuk mengawetkan manusia pada kondisi paling primanya—merujuk pada manusia di usia remaja yang muda—seperti spesimen kupu-kupu buatan Shiro.
Jika membaca karya-karya Minato Kanae, hal yang mengerikan dan menakutkan bukan datang ketika pembunuhan itu terjadi. Melainkan mengorek sisi tergelap dan terdalam psikologis manusia dari kedalaman narasi dan dialognya. Maka, bagi penonton yang sensitif terhadap adegan-adegan mengerikan, drama ini tak menyajikan kengerian yang demikian.
Kengeriannya adalah bagaimana gagasan manusia dapat melampaui batas antara kemanusiaan dan kegilaan atas nama seni. Hal yang sering menjadi perdebatan di antara umat manusia. Apakah pembunuhan atas dasar mengejar estetika masih dapat disebut sebuah karya seni atau tidak lebih dari tindakan kriminal keji yang dilakukan orang sinting dengan obsesi anehnya?
Menonton drama misteri ini, penonton akan diperlihatkan kilasan masa lalu dan setting masa kini dari sudut pandang Shiro dan Itaru, singkatnya plot maju-mundur. Saya tak akan memberikan banyak spoiler akan tetapi saya akan memberikan sedikit saran; ada plot twist yang cukup mengejutkan di sini. Dan setelah menuntaskan drama ini dalam sekali duduk, saya tak bisa membiarkan drama ini tidak dibicarakan orang.
Saya terpukau dengan akting Hidetoshi Nishijima di awal episode. Membuat saya benar-benar mempercayai peran yang seolah-olah dibebankan padanya. Chemistry ayah dan anak antara ia dengan Ichikawa Somegoro VIII pun terbangun dengan apik. Puncaknya adalah menjelang episode akhir di mana kebenaran terungkap dengan begitu menyakitkan. Kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya dapat dilihat dari berbagai bentuk, termasuk yang dilakukan Shiro kepada Itaru.
Sebagai tambahan, ada dua karakter lain yang boleh diberikan sedikit perhatian. Ialah Rumi dan Anna, sama-sama mengangkat hubungan orang tua dan anak, pasangan ibu dan anak ini memiliki kesan bertolak belakang dengan Shiro dan Itaru. Penonton boleh sejenak bertanya-tanya, mengapa Rumi mencari penerus selain anak kandungnya sendiri? Keduanya walaupun tokoh sampingan menyimpan kunci dalam drama ini.
Nilai dari saya untuk drama ini adalah 4.5/ 5, sebuah drama yang tidak boleh dilewatkan oleh pecinta misteri. Sepanjang episode dibuat menelan pil pahit bahkan sampai akhir dramanya. Sensasi yang bertahan dari awal hingga akhir.
Informasi Drama:
- Judul: Human Specimens
- OTT: Prime Video
- Bahasa: Jepang
- Pemain: Hidetoshi Nishijima, Ichikawa Somegoro VIII, Miyazawa Rie, Ito Aoi
- Sutradara: Hiroki Ryuichi
- Jumlah Episode: 5
- Durasi: kurang lebih 50 menit per episode