Ulasan

Petualangan Anak Natuna, Kisah Tiga Detektif Cilik Menangkap Penjahat

Petualangan Anak Natuna, Kisah Tiga Detektif Cilik Menangkap Penjahat
Buku Petualangan Anak Natuna (Dokumen pribadi/Sam)

Petualangan Anak Natuna adalah sebuah novel yang menarik karya Dini W. Tamam. Mengambil setting lokasi Pulau Natuna, sebuah pulau yang terletak di Selat Karimata. Sebelah utara pulau tersebut, berbatasan dengan Negara Vietnam dan Kamboja. Bagian timur, berbatasan dengan Malaysia Timur dan Provinsi Kalimantan Barat. Sedangkan di bagian barat, berbatasan dengan Singapura, Malaysia Barat, dan Provinsi Riau.

Pulau Natuna sendiri masuk dalam Provinsi Kepulauan Riau. Namun, lokasinya yang cukup jauh, yakni di bagian utara Indonesia, membuat Pulau Natuna cukup sulit dijangkau. Untuk sampai ke pulau itu, harus menggunakan transportasi udara atau kapal laut.

Kisah dalam novel ini bermula ketika masyarakat Pulau Natuna merasa gelisah dengan kondisi pulau yang tak lagi disambangi ikan-ikan. Entah, ikan-ikan pada menghilang ke mana. Mereka, para penghuni rumah apung dan hampir seluruhnya nelayan akhirnya memilih berhenti dari aktivitas mencari ikan di laut.

Tak ada yang mengetahui kenapa ikan-ikan yang menjadi mata pencaharian mereka tiba-tiba raib dari pulau tersebut. Namun, tersiar kabar bahwa ada penduduk rumah apung yang telah melanggar aturan. Hidup di pesisir pantai, memiliki aturan baku yang harus dipatuhi oleh seluruh penduduk, tanpa terkecuali. Yakni tidak boleh membuat sampah sembarang di air laut karena akan menyebabkan ikan-ikan pergi dan merasa enggan untuk hidup di pulau tersebut.

Rumor tersebut sontak membuat para nelayan di Pulau Natuna enggan melaut. Mereka takut mencari ikan, padahal persediaan makanan sudah mulai menipis. Mereka merasa takut lautan telah marah sekaligus takut tergulung ombak. Tapi ketakutan itu tak berlaku bagi Pak Dahlan dan Saba, anak lelaki bungsunya yang masih berusia 11 tahun.

Ketika libur sekolah tiba, Saba bersama sang ayah tetap bersikeras melaut. Berharap bisa mendapat ikan yang banyak sebagai bekal melanjutkan hidup. Mereka berdua pun memutuskan turun ke laut dengan mengendarai jukung atau semacam perahu dayung. Namun, hingga malam semakin larut, mereka tak kunjung mendapat ikan. Hanya terlihat seekor ikan buntal kecil yang menyangkut di jala sang ayah.

Untunglah mereka akhirnya mendapatkan cumi-cumi, meski tidak terlalu nikmat untuk disantap, tapi setidaknya mereka masih bersyukur ada sesuatu yang bisa dijadikan lauk di rumah. Saat dalam perjalanan pulang dengan perahu dayung, mereka tak sengaja menjumpai sebuah ‘perahu rumah’ yang mencurigakan. Ukuran perahu yang juga dijadikan rumah itu cukup besar dan bila dilihat secara saksama, sepertinya modelnya bukan berasal dari warga di Pulau Natuna.

Pak Dahlan dan Saba tentu merasa curiga dengan keberadaan perahu besar tersebut. Jangan-jangan ini ada kaitannya dengan lenyapnya ikan-ikan di Pulau Natuna. Pak Dahlan segera mengayuh dayungnya dengan tergesa saat nyaris kepergok oleh orang yang berada dalam perahu besar tersebut.

Ketika sudah kembali ke rumah, Saba merasa penasaran untuk menyelidiki keberadaan ‘perahu rumah’ yang ditemuinya bersama ayahnya semalam. Bersama kedua sahabatnya, Jauhari dan Mail, mereka bertiga pun bersepakat untuk melakukan penyelidikan. Bak detektif profesional, mereka bertiga segera melancarkan misinya. Satu per satu petunjuk ditemukan, membawa mereka bertiga dalam penyelidikan yang menegangkan. Bahkan mereka sempat tertangkap dan disekap di sebuah pulau.

Ada sederet pelajaran berharga yang bisa dipetik dalam novel terbitan Bhuana Sastra, Jakarta ini. Di antaranya tentang pentingnya menjaga lingkungan sekitar, jangan buang sampah sembarangan, pentingnya memiliki kebiasaan membaca buku, dan juga tentang persahabatan yang begitu indah.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda