Ulasan

Mahar Ketinggian, Jalur Instan jadi Pilihan: Ironi Pesugihan Sate Gagak

Mahar Ketinggian, Jalur Instan jadi Pilihan: Ironi Pesugihan Sate Gagak
Film Pesugihan Sate Gagak (Instagram/@filmsategagak)

Sebagai orang Jawa, saya sendiri baru pertama kali mendengar Pesugihan Sate Gagak. Saya tahu pesugihan memang pada dasarnya memang bermacam-macam. Tapi ternyata yang seperti ini juga ada. 

Menonton film ini membuat saya mendapatkan informasi baru yang benar-benar asing sebelumnya. Ditambah penyampaian oleh para komedian yang turun tangan menjadi pemain di film ini membuat menit pertama sampai akhir tidak terasa berlalu begitu saja. 

Film Pesugihan Sate Gagak dirilis di bioskop pada 13 November 2025 dan kemudian tayang di Netflix sejak 26 Maret 2026, film produksi Cahaya Pictures dan Anami Films ini disutradarai oleh Etienne Caesar dan Dono Pradana.

Mengusung genre horor-komedi, film ini menampilkan pendekatan yang tidak biasa dalam mengangkat tema pesugihan. Praktik mistis yang kerap dianggap tabu namun tetap hidup dalam budaya masyarakat.

Naskah karya Nuugro Agung berhasil mengolah mitos “pesugihan sate gagak” menjadi elemen utama cerita, bukan sekadar latar atau tempelan. Hal inilah yang membuat film ini terasa lebih hidup dibandingkan sejumlah film horor lain yang hanya menyentuh permukaan cerita mistis tanpa pendalaman.

Sinopsis Film

Kisah berpusat pada Anto, diperankan oleh Ardit Erwandha, seorang pegawai warteg sederhana yang sedang berada dalam tekanan besar. Ia harus menyiapkan mahar sebesar 150 juta rupiah dalam waktu singkat demi menikahi kekasihnya, Andini (Yoriko Angeline). Desakan datang dari ibu Andini (diperankan oleh Nunung), yang menetapkan batas waktu hanya satu bulan.

Kondisi ini membuat Anto mengambil keputusan nekat: mencari jalan pintas melalui pesugihan.

Bersama dua sahabatnya, Dimas (Yono Bakrie) dan Indra (Benidictus Siregar), Anto menjalani ritual pesugihan sate gagak yang dipandu oleh seorang dukun eksentrik, Abah Budi. Ritual ini unik karena tidak melibatkan tumbal manusia, melainkan menyajikan sate gagak untuk “konsumen” dari dunia lain.

Di sinilah film mulai memainkan absurditasnya: para hantu hadir sebagai pelanggan, menciptakan situasi yang sekaligus menyeramkan dan mengundang tawa.

Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada keberaniannya menabrak pakem horor konvensional. Alih-alih membangun ketegangan murni, film ini justru memadukan rasa takut dengan humor yang cerdas dan kadang nyeleneh. Interaksi antara karakter manusia dan makhluk gaib tidak selalu menakutkan, tetapi sering kali justru absurd, menciptakan pengalaman menonton yang ringan namun tetap berkesan.

Kelebihan dan Kekurangan

Secara tematik, film ini juga menyentil realitas sosial, khususnya tekanan ekonomi yang mendorong seseorang mengambil jalan instan. Anto bukanlah tokoh jahat, melainkan representasi orang biasa yang terdesak keadaan. Di balik komedinya, terselip kritik terhadap budaya materialisme dan tuntutan sosial, seperti mahar tinggi yang menjadi beban bagi banyak orang.

Visual film ini cukup menarik dengan penggambaran ritual dan dunia gaib yang tidak berlebihan, tetapi tetap memiliki identitas kuat. Nuansa lokal terasa kental, mulai dari setting, dialog, hingga elemen budaya Jawa yang diangkat. Hal ini membuat film terasa dekat dengan penonton Indonesia, sekaligus memperkaya ragam cerita horor lokal.

Dari sisi akting, para pemain tampil solid. Ardit Erwandha berhasil membawakan karakter Anto dengan natural, sementara chemistry antara tiga tokoh utama menjadi sumber humor yang efektif. Kehadiran Nunung dan Arief Didu juga menambah warna komedi yang khas.

Namun adegan telanjang meski di sensor tetap membuat tidak nyaman. Tapi mau dihilangkan juga telanjang adalah salah satu syarat pesugihan ini. Tapi yang janggal adalah hantunya pakai baju tapi manusianya telanjang. Lantas apa yang dimaksud telanjang supaya mirip hantu? 

Secara keseluruhan, Pesugihan Sate Gagak adalah film yang menghibur, tak cuma itu ia juga menawarkan perspektif baru tentang bagaimana cerita mistis bisa dikemas secara kreatif. Film ini membuktikan bahwa horor tidak harus selalu serius untuk tetap bermakna. Kadang, justru melalui tawa, pesan-pesan penting bisa tersampaikan dengan lebih kuat.

Identitas Film

  • Judul: Pesugihan Sate Gagak
  • Genre: Horor, Komedi, Absurd
  • Sutradara: Etienne Caesar, Dono Pradana
  • Penulis Skenario: Nuugro Agung
  • Rumah Produksi: Cahaya Pictures
  • Rilis Bioskop: 13 November 2025
  • Platform Streaming: Netflix (rilis 26 Maret 2026)
  • Durasi: 100 Menit
  • Genre: Horor, Komedi
  • Pemeran Utama: Ardit Erwandha (Anto), Yono Bakrie (Dimas), Benidictus Siregar (Indra), Yoriko Angeline (Andini), Nunung, Arief Didu 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda