Ulasan
Aksi Brutal Berbalut Komedi, Mengapa Bullet Train Wajib Masuk Daftar Tontonmu?
Bullet Train adalah film aksi komedi yang disutradarai oleh David Leitch, dikenal melalui karya-karyanya seperti John Wick dan Deadpool 2. Film ini dirilis secara teatrikal pada 5 Agustus 2022 di Amerika Serikat dan menjadi adaptasi dari novel Jepang berjudul Maria Beetle karya Ktar Isaka. Dengan durasi sekitar 127 menit, film ini menggabungkan elemen aksi intens, humor gelap, serta plot yang saling terhubung di antara para karakter pembunuh bayaran. Brad Pitt memimpin sebagai pemeran utama, didukung oleh ensemble cast yang kuat.
Cerita Dendam yang Terungkap Lewat Flashback Dramatis

Film berpusat pada Ladybug (Brad Pitt), seorang pembunuh bayaran yang sedang berusaha mengubah hidupnya menjadi lebih damai setelah serangkaian kegagalan yang disebabkan oleh nasib sial. Ia menerima tugas sederhana: naik kereta peluru Shinkansen dari Tokyo menuju Kyoto untuk merebut sebuah koper berisi uang tebusan. Namun, tugas tersebut berubah menjadi kekacauan ketika ia menyadari bahwa kereta yang sama dihuni oleh beberapa pembunuh bayaran lain dengan misi yang saling berkaitan.
Di antara penumpang tersebut terdapat Tangerine (Aaron Taylor-Johnson) dan Lemon (Brian Tyree Henry), duo saudara yang bertugas mengawal putra seorang bos kejahatan Jepang bernama The White Death (Michael Shannon). Ada pula The Prince (Joey King), seorang pembunuh muda yang licik; Kimura (Andrew Koji), ayah yang melindungi anaknya; The Elder (Hiroyuki Sanada); serta karakter pendukung seperti The Wolf (Bad Bunny) dan The Hornet (Zazie Beetz). Semua misi mereka terhubung melalui dendam terhadap The White Death, menciptakan jaringan intrik yang terungkap secara bertahap melalui flashback.
Review Bullet Train

Salah satu adegan di film Bullet Train (IMDb)
Leitch berhasil menyajikan narasi yang lincah dengan dialog-dialog tajam dan elemen komedi yang menyegarkan di tengah kekerasan. Pendekatan ini membuat film terasa seperti perpaduan antara John Wick dengan sentuhan humor ala Quentin Tarantino, meskipun dengan nuansa Jepang yang kuat melalui setting kereta peluru dan referensi budaya.
Visual film ini sangat menonjol berkat penggunaan set praktis dan CGI yang terintegrasi baik untuk adegan di dalam kereta berkecepatan tinggi. Koreografi aksi dirancang secara cermat, memanfaatkan ruang sempit kereta untuk pertarungan jarak dekat yang kreatif, menggunakan segala benda di sekitar sebagai senjata. Sinematografi oleh Jonathan Sela menghadirkan warna-warna neon cerah yang kontras dengan kekerasan berdarah, menciptakan estetika yang stylish.
Brad Pitt memberikan penampilan yang karismatik sebagai Ladybug, seorang anti-hero yang humoris dan reflektif, sering mengutip filosofi self-help sambil terlibat dalam kekacauan. Aaron Taylor-Johnson dan Brian Tyree Henry mencuri perhatian sebagai Tangerine dan Lemon dengan chemistry yang kuat dan dialog komedi yang natural. Joey King juga efektif sebagai antagonis muda yang manipulatif. Meskipun plotnya terlalu berbelit, kekuatan utama film terletak pada ritme aksi yang tidak pernah melambat.
Salah satu adegan aksi paling menegangkan adalah pertarungan antara Ladybug dan The Hornet di gerbong kereta. Adegan ini penuh ketegangan karena melibatkan racun mematikan dan gerakan cepat di ruang terbatas. Ladybug harus menggunakan kecerdikan dan kelincahan untuk bertahan, sementara lawannya yang gesit menciptakan ancaman konstan. Ketegangan meningkat karena elemen waktu dan risiko yang tinggi, membuatku menahan napas sejenak sembari mengikuti setiap gerakan.
Untuk adegan yang paling kuingat saat nonton film ini adalah pertarungan akhir yang melibatkan The Elder dan Kimura melawan The White Death, disertai dengan elemen dramatis di luar kereta yang telah keluar dari rel. Adegan ini ikonik karena menggabungkan duel pedang samurai dengan latar belakang Jepang yang indah, diiringi musik yang epik. Kombinasi antara kekerasan brutal, emosi, dan visual spektakuler membuatnya tak terlupakan, sekaligus menjadi klimaks yang memuaskan dari seluruh konflik yang terbangun.
Adegan lain yang berkesan termasuk pertarungan Ladybug versus Tangerine di gerbong makanan, di mana kekacauan fisik bercampur dengan humor, serta momen-mamen di mana karakter menggunakan barang sehari-hari sebagai senjata improvisasi.
Di Indonesia, Bullet Train telah tersedia untuk streaming di platform Vidio mulai tanggal 1 Mei 2026. Berdasarkan data terkini, film ini masuk dalam daftar top tayangan di Vidio pada periode Mei 2026, menandakan ketersediaannya sejak beberapa waktu lalu untuk pelanggan Vidio. Kamu bisa mengaksesnya melalui layanan berbayar atau paket yang tersedia di aplikasi tersebut.
Secara keseluruhan, Bullet Train adalah hiburan aksi yang solid bagi penggemar genre ini. Film ini unggul dalam menyajikan kekacauan yang menyenangkan dengan ritme cepat dan penampilan aktor yang memikat. Meskipun tidak revolusioner, ia berhasil menghibur dari awal hingga akhir, terutama bagi yang menyukai aksi kreatif di ruang terbatas. Sangat kurekomendasikan untuk ditonton sebagai pelepas penat dengan porsi kekerasan yang intens dan humor yang cerdas. Rating pribadi: 8/10.
FYI: Bullet Train meraih pendapatan box office global mencapai lebih dari 239 juta dolar AS dengan anggaran sekitar 85 juta dolar, menunjukkan popularitasnya di kalangan penonton. Kritikus memberikan ulasan campuran, dengan Rotten Tomatoes sekitar 55% dan Metacritic 49, meskipun penonton umum lebih apresiatif dengan rating IMDb 7.3. Film ini dipuji atas aksi dan hiburannya, tetapi dikritik karena kedalaman cerita yang kurang.