Ulasan

Kritik Novel Bukan Perawan Maria: Antara Gagasan Berani dan Narasi Tanggung

Kritik Novel Bukan Perawan Maria: Antara Gagasan Berani dan Narasi Tanggung
Bukan Perawan Maria karya Feby Indirani. (Dok.Pribadi/Taufiq)

Buku kumpulan cerita pendek Bukan Perawan Maria karya Feby Indirani merangkum 19 kisah yang berani menyoroti berbagai isu sosial dengan latar belakang kehidupan beragama Islam. Isu-isu yang dihadirkan sebenarnya merupakan fenomena yang sudah karib di telinga kita, namun dalam buku ini coba diteropong melalui sudut pandang yang tidak biasa. Secara garis besar, Feby berupaya membenturkan dogmatisme syariat Islam dengan realitas perkembangan masyarakat modern yang plural dan kompleks.

Membaca sinopsis, kata pengantar dari seorang ustaz, hingga rentetan ulasan positif dari berbagai kalangan, buku ini sekilas tampak sangat menjanjikan dan istimewa. Ide-ide mentah yang ditawarkan sang penulis memang memikat. Ia berani menyentuh batas-batas sensitif, seperti dilema istri yang meminta suaminya berpoligami, stigma ekstrem terhadap daging babi, fenomena bom bunuh diri yang diklaim sebagai jalur ekspres menuju surga, hingga dinamika sosial perempuan berniqab. Keberanian mengangkat topik-topik tabu ini patut diapresiasi, sebab ruang publik memang membutuhkan diskursus yang jernih agar masyarakat dapat memahami konteks keagamaan secara tepat.

Kedangkalan Narasi dan Kegagalan Menyampaikan Inti Isu

Namun, di balik premisnya yang menantang, cerpen-cerpen dalam buku ini terasa kurang mampu menyampaikan pesan-pesan substansial tersebut secara padat, indah, dan tuntas. Ketika dibaca secara saksama, narasi yang dibangun kerap kali berhenti di tahap permukaan saja.

Padahal, isu yang diangkat tergolong berat dan menuntut kedalaman refleksi. Sebagai penulis, Feby terkesan gagal mengarahkan pemahaman pembaca untuk menangkap inti sari atau esensi dari problem sosial-keagamaan yang ia potret.

Kegagalan penyampaian pesan ini bukan tanpa sebab. Mari kita bedah salah satu cerpen yang paling sering diperbincangkan, yakni cerita berjudul Babi Ingin Masuk Islam. Kisah ini menceritakan tentang seekor babi yang di hari tuanya, tepat sebelum disembelih, tiba-tiba berkeinginan untuk memeluk agama Islam. Premis absurd ini kemudian memicu perdebatan sengit dalam sebuah majelis taklim yang menghadirkan Kyai Fikri sebagai narasumber utama untuk menjelaskan fenomena janggal tersebut.

Hingga titik ini, cerita sebenarnya terasa menarik. Babi, yang dalam lanskap teologis Islam telanjur distempel sebagai makhluk "tercela" karena status haramnya, mendadak ingin menjadi muslim. Kontradiksi ini memantik reaksi defensif dari anggota majelis.

Sebagian dari mereka berpikir: bagaimana mungkin makhluk sekotor babi berhak masuk Islam? Bukankah hal itu justru menodai kesucian agama? Respons para anggota majelis ini dengan sangat apik menggambarkan penyakit psikologis sebagian umat beragama yang gemar merasa paling suci dan merasa berhak menghakimi kelayakan spiritual pihak lain.

Cacat Logika dan Argumen yang Dipaksakan

Dalam hukum Islam, umat muslim memang dilarang keras mengonsumsi daging babi. Namun, dalam realitas sosial, terjadi pergeseran pemahaman di mana sebagian masyarakat menganggap babi secara esensial adalah hewan yang terkutuk, tidak berguna, dan haram dalam segala aspek, termasuk dalam hal memeliharanya. Perdebatan dalam cerpen ini berhasil menangkap bias pemahaman tersebut, dan saya sepakat bahwa analogi sosial ini sangat kontekstual.

Kendati demikian, ketidaknyamanan mulai muncul ketika plot cerita menggiring Kyai Fikri untuk memelihara babi sebagai hewan ternak, lalu membagikan hasil keuntungan atau daging babi tersebut untuk memberi makan orang-orang non-muslim yang hidup melarat. Penulis berargumen bahwa babi adalah hewan ternak yang sangat produktif, sementara harga hewan ternak lain terlampau mahal bagi warga miskin di daerah tersebut.

Di sinilah narasi cerpen tersebut mulai terasa pincang dan tidak masuk akal. Argumen yang dihadirkan penulis terasa sangat dipaksakan demi membenarkan situasi ekstrem yang ia ciptakan sendiri. Seorang muslim sejati tidak akan menelan suatu pemikiran atau hukum begitu saja tanpa dasar kajian (dalil) yang lurus. Begitu pula dalam konteks larangan babi dalam Islam; semua aturan memiliki fondasi logis yang jelas.

Dalam konsep penciptaan, babi diciptakan bukan sebagai komoditas konsumsi untuk manusia. Hewannya sendiri secara biologis tidaklah haram; status haram itu baru aktif secara hukum ketika ia dijadikan makanan bagi manusia.

Babi tidak haram ketika dikonsumsi oleh predator lain seperti serigala, dan secara hukum fikih, babi juga tidak haram untuk dipelihara selama tidak dikonsumsi dan tidak melanggar batasan najis mughallazah. Poin krusialnya adalah: babi haram sebagai bahan pangan manusia. Aturan ini mutlak dan memiliki alasan medis serta spiritual yang kuat.

Narasi cerpen ini akan jauh lebih kokoh jika penulis membangun latar belakang kontekstual yang kuat. Misalnya, jika cerita ini berlatar di sebuah pedalaman terpencil di mana babi adalah satu-satunya sumber protein yang dikenal budaya setempat, atau babi merupakan simbol perdamaian adat.

Namun, ketika cerita dibatasi pada konflik superfisial "babi ingin masuk Islam," lalu status halal-haramnya dibenturkan secara mentah dengan pembelaan bahwa babi tersebut menjadi penyambung hidup orang miskin non-muslim, konfrontasi moral ini menjadi tidak tepat sasaran dan kehilangan keutuhannya.

Bahaya Sepotong Gagasan bagi Pembaca Awam

Penggunaan argumen kemiskinan warga non-muslim untuk menyikapi konflik teologis "babi masuk Islam" dirasa terlalu rapuh. Gagasan ini gagal mengantarkan pesan filosofis bahwa status halal-haram bukanlah otoritas manusia, atau bahwa babi bukanlah makhluk yang tidak berguna. Akibat lemahnya konstruksi logika dari penulis, cerita ini justru berpotensi memicu kerancuan berpikir yang fatal di benak pembaca: apakah atas nama kemanusiaan dan pengentasan kemiskinan warga non-muslim, babi kemudian boleh ditoleransi sebagai komoditas yang normal? Jika ada pembaca yang menyimpulkan demikian, maka jelas telah terjadi cacat logika yang sistemik.

Bagi pembaca yang sudah memiliki dasar pemahaman agama yang matang, kedangkalan plot ini mungkin tidak akan menjadi masalah besar. Namun, bagaimana jika cerpen ini dikonsumsi oleh pembaca awam yang belum memiliki filter pemahaman yang kuat?

Sayangnya, gejala serupa juga mereplika di cerpen-cerpen lain dalam buku ini. Gaya penceritaannya terasa kurang mampu menyampaikan pesan secara utuh, melainkan terasa sepotong-sepotong, terfragmentasi, dan terputus di tengah jalan. Cerita-cerita di dalamnya tampak seperti secuplik fenomena sosial yang dicomot dari realitas, lalu dipindahkan begitu saja ke dalam bentuk tulisan tanpa ada proses konseptualisasi yang matang.

Padahal, ketika sebuah ide atau gagasan besar diwujudkan menjadi sebuah karya sastra, terlebih dibukukan untuk menjangkau khalayak luas—ia menuntut tanggung jawab naratif yang utuh agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Kesimpulan

Bukan Perawan Maria adalah kumpulan cerpen yang kaya akan ide-ide segar dan berani dalam menantang kejumudan sosial. Namun sayang, eksekusi narasinya yang cenderung tergesa-gesa membuat buku ini terjebak pada ruang satire yang tanggung. Feby Indirani berhasil memantik api diskusi, namun ia membiarkan apinya padam sebelum berhasil menerangi ruang pemikiran pembacanya secara utuh.

Identitas Buku:

  • Judul Buku: Bukan Perawan Maria
  • Penulis: Feby Indirani
  • Penyunting: Dhewiberta Harjono
  • Penerbit: Bentang Pustaka (Yogyakarta) & Pabrikultur (edisi awal)
  • Tahun Terbit: 2017 (Cetakan pertama oleh Pabrikultur) & 2021 (Cetakan Bentang Pustaka)
  • Jumlah Halaman: xvi, 204 halaman
  • Genre: Fiksi / Kumpulan Cerpen

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda