Ulasan

Yang Bertahan dan Binasa Perlahan: 19 Cerita Getir tentang Wajah Indonesia

Yang Bertahan dan Binasa Perlahan: 19 Cerita Getir tentang Wajah Indonesia
Buku Yang Bertahan dan Binasa Perlahan (Gramedia Digital)

"Tua itu apa? Kita hanya menjadi tua kalau sudah tak tahu lagi cara jatuh cinta." (Okky Madasari, Yang Bertahan dan Binasa Perlahan, halaman 177).

Nama Okky Madasari selama ini lebih dikenal sebagai novelis yang konsisten mengangkat persoalan sosial, ketidakadilan, kebebasan individu, serta pergulatan manusia menghadapi sistem yang mengekangnya. Melalui novel-novel seperti Entrok, 86, dan Pasung Jiwa, Okky berhasil membangun reputasi sebagai penulis yang berani dan kritis.

Maka dari itu, ketika membaca Yang Bertahan dan Binasa Perlahan, ekspektasi saya cukup tinggi. Buku ini ternyata bukan novel, melainkan kumpulan 19 cerpen yang ditulis dalam rentang waktu sepuluh tahun, dari 2007 hingga 2017.

Sebagai kumpulan cerpen, buku ini menawarkan pengalaman membaca yang tidak selalu merata. Ada beberapa cerita yang terasa biasa saja, bahkan ada yang membuat saya mengernyitkan dahi karena penyelesaiannya terasa terlalu sederhana atau kurang mendalam.

Namun di sisi lain, terdapat sejumlah cerpen yang kualitasnya luar biasa sehingga mampu menutupi kelemahan cerita-cerita lainnya. Beberapa di antaranya bahkan termasuk karya terbaik yang pernah saya baca dari Okky Madasari dalam format cerita pendek.

Cerpen pembuka sekaligus judul buku, Yang Bertahan dan Binasa Perlahan, merupakan sajian utama dalam kumpulan ini. Kisahnya mengikuti perjalanan Bandiman, seorang warga miskin yang mengikuti program transmigrasi pada era Orde Baru. Dengan janji kehidupan yang lebih baik, ia meninggalkan tanah kelahirannya dan menyeberang ke pulau lain bersama keluarganya. Namun seperti banyak kisah transmigrasi di Indonesia, harapan yang dibawa tidak selalu berbanding lurus dengan kenyataan yang dihadapi.

Okky menggambarkan kehidupan para transmigran dengan detail yang kuat. Hutan lebat, keterasingan, kesulitan ekonomi, birokrasi yang berbelit, hingga trauma kehilangan menjadi bagian dari perjalanan Bandiman. Cerita ini bukan sekadar kisah perpindahan penduduk, melainkan refleksi tentang manusia yang dipaksa mempertaruhkan masa depan demi bertahan hidup.

Judul Yang Bertahan dan Binasa Perlahan terasa sangat tepat karena pada akhirnya setiap manusia memang sedang bertahan dalam kehidupannya masing-masing sambil perlahan bergerak menuju kefanaan.

Selain cerpen utama tersebut, beberapa cerita lain juga meninggalkan kesan mendalam. Cerpen bertajuk Janin menjadi salah satu favorit saya karena keberanian Okky menggunakan sudut pandang yang tidak lazim. Melalui perspektif seorang janin yang dianggap ancaman oleh lingkungan sekitarnya, pembaca diajak melihat persoalan kehamilan di luar nikah dan aborsi dari sudut yang sangat manusiawi. Cerita ini berhasil menggugah empati sekaligus menghadirkan pertanyaan moral yang sulit dijawab secara hitam-putih.

Cerpen Dua Pengantin juga sangat mengesankan. Dengan latar dua calon pelaku bom bunuh diri yang berbincang sebelum menjalankan aksinya, Okky tidak menjadikan tokoh-tokohnya sekadar simbol kejahatan. Sebaliknya, ia memanusiakan mereka, memperlihatkan keraguan, ketakutan, dan keyakinan yang saling bertabrakan. Inilah salah satu kekuatan terbesar Okky ketika menulis, kemampuannya menghadirkan manusia di balik sebuah stigma.

Cerita Bahagia Bersyarat menghadirkan kritik tajam terhadap konstruksi sosial yang sering menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus menggantungkan kebahagiaan pada laki-laki. Melalui kisah seorang perempuan yang rela mengorbankan pendidikan dan cita-citanya demi pernikahan, Okky mempertanyakan definisi kebahagiaan yang selama ini diterima begitu saja oleh masyarakat. Twist pada bagian akhir membuat cerpen ini terasa sangat membekas.

Sementara itu, Riuh menjadi sindiran yang relevan terhadap fenomena buzzer politik dan budaya media sosial. Cerpen ini menunjukkan bagaimana popularitas dan manipulasi opini dapat menciptakan ilusi kekuasaan yang rapuh. Meski menurut saya penyelesaiannya sedikit terlalu sederhana, gagasan yang diangkat tetap terasa kuat dan dekat dengan realitas saat ini.

Cerpen penutup, Saat Ribuan Manusia Berbaris di Kotaku, juga menjadi salah satu yang paling menarik. Dengan latar demonstrasi keagamaan dan konflik dalam sebuah keluarga, Okky memperlihatkan bagaimana isu politik dan agama dapat merembes hingga ke ruang paling pribadi. Cerita ini terasa satir, menggelitik, sekaligus menyisakan kegelisahan karena apa yang digambarkan sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia kontemporer.

Di sepanjang buku ini, Okky mengangkat begitu banyak tema sosial yang beragam. Mulai dari transmigrasi, korupsi, gangguan jiwa, bunuh diri, kekerasan seksual, patriarki, poligami, agama, radikalisme, media massa, hingga politik identitas. Bahkan beberapa cerita memasukkan unsur surealisme, realisme magis, dan fiksi spekulatif yang membuat variasi cerita terasa lebih kaya.

Yang paling saya sukai adalah keberanian Okky menyuarakan kelompok-kelompok yang sering dipinggirkan. Ia memberi ruang bagi mereka yang biasanya hanya menjadi angka statistik atau bahan perdebatan publik. Dalam cerpen-cerpennya, mereka hadir sebagai manusia dengan luka, ketakutan, dan harapan.

Meski demikian, buku ini bukan tanpa kekurangan. Tidak semua cerpen memiliki daya pukau yang sama. Beberapa cerita terasa terlalu singkat sehingga pembaca belum sempat terhubung secara emosional dengan tokohnya.

Ada pula beberapa akhir cerita yang terkesan terburu-buru atau terlalu menyederhanakan persoalan kompleks. Dalam cerita seperti Patung Dewa, Dunia Ketiga Untukku, atau Di Ruang Sidang, saya merasa eksplorasi psikologis tokohnya kurang mendalam dibandingkan cerpen-cerpen terbaik dalam buku ini.

Sebagai pembaca yang mengenal Okky melalui novel-novelnya, saya juga merasa format cerpen membuat ruang eksplorasinya menjadi lebih terbatas. Kekuatan terbesar Okky sebenarnya terletak pada kemampuannya membangun karakter dan konflik sosial dalam ruang yang panjang. Karena itu, beberapa gagasan besar dalam buku ini terasa seperti belum berkembang secara maksimal.

Meskipun demikian, secara keseluruhan Yang Bertahan dan Binasa Perlahan tetap merupakan kumpulan cerpen yang sangat layak dibaca. Buku ini memperlihatkan ketajaman observasi Okky terhadap masyarakat Indonesia. Ia menangkap berbagai kegelisahan zaman dan mengubahnya menjadi cerita yang mudah dipahami namun tetap menyisakan ruang refleksi yang luas.

Relevansi dengan Zaman Sekarang

Yang membuat buku ini tetap relevan adalah tema-temanya yang belum kehilangan konteks hingga hari ini. Fenomena buzzer politik masih marak, polarisasi agama dan identitas masih sering terjadi, kesenjangan sosial masih nyata, sementara persoalan perempuan dan kelompok rentan masih terus diperjuangkan.

Kisah transmigran dalam cerpen utama bahkan dapat dibaca ulang sebagai refleksi atas pengalaman migran, pekerja perantauan, hingga pengungsi modern yang mencari kehidupan lebih baik di tempat asing.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh opini, propaganda, dan persaingan identitas, buku ini mengingatkan bahwa di balik setiap isu sosial selalu ada manusia yang sedang berusaha bertahan.

Bagi saya, Yang Bertahan dan Binasa Perlahan mungkin bukan karya terbaik Okky Madasari, tetapi tetap menjadi kumpulan cerpen yang kaya gagasan, menggugah pikiran, dan memperlihatkan kepeduliannya terhadap manusia-manusia yang sering luput dari perhatian.

Di antara 19 cerita yang disajikan, ada beberapa yang biasa saja, tetapi ada pula yang begitu kuat hingga sulit dilupakan lama setelah halaman terakhir ditutup.

Identitas Buku

  • Judul: Yang Bertahan dan Binasa Perlahan
  • Penulis: Okky Madasari
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: I, April 2026
  • Tebal: 200 Halaman
  • ISBN: 978-602-065-233-7
  • Genre: Fiksi/Kumpulan Cerpen

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda