Ulasan
Membaca Tanah Surga Merah Karya Arafat Nur: Satire Sengit Penguasa Daerah
Tanah Surga Merah karya Arafat Nur merupakan sebuah novel yang membawa napas realisme-kritis pascakonflik Aceh. Kisahnya berpusat pada tokoh Murad, seorang mantan pejuang GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang terpaksa kembali ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun hidup dalam pelarian.
Murad menjadi buronan polisi dan teman-teman seangkatannya setelah menembak mati seorang kawan seperjuangan. Langkah ekstrem itu terpaksa ia ambil karena sang kawan telah melakukan tindakan amoral yang merenggut kehormatan seorang wanita.
Namun, sekembalinya ke tanah kelahiran, Murad justru dihadapkan pada realitas baru yang jauh lebih menyakitkan daripada statusnya sebagai buronan. Kawan-kawan lamanya di Partai Merah yang kini memegang tampuk kekuasaan sebagai anggota dewan dan kepala daerah, telah berubah total pascamereka mengecap kemerdekaan politik.
Bukannya memperjuangkan nasib rakyat yang remuk akibat perang, para mantan kombatan ini justru bertindak semena-mena, korup, dan melenceng jauh dari jalur perjuangan awal. Kenyataan pahit inilah yang memicu kebencian mendalam di hati Murad terhadap faksi politik baru tersebut. Alur novel ini pun berputar pada bagaimana Murad menyaksikan kemunduran moral di Aceh, sembari terus kucing-kucingan menghindari sergapan aparat keamanan dan milisi Partai Merah.
Dominasi Kritik Pemerintah dan Plot Narasi yang Kehilangan Arah
Hal yang paling mencolok dan mendominasi sepanjang lembar novel ini adalah derasnya arus kritik sosiopolitik yang dihujamkan oleh sang penulis. Arafat Nur secara blak-blakan membongkar borok pemerintahan lokal di Aceh pasca-MoU Helsinki. Bahkan secara implisit, kritik tajam ini juga menyasar langsung ke jantung pemerintahan pusat Indonesia. Di mata Murad, dan barangkali di mata penulis, kedua poros kekuasaan ini setali tiga uang, tidak memiliki perbedaan yang berarti dalam hal menyejahterakan rakyat kecil.
Sayangnya, saking padatnya muatan kritik tersebut, pembaca justru akan merasakan ruang kosong dalam aspek dramatisasi cerita. Setelah menuntaskan novel ini, sulit untuk menemukan momen kejutan (plot twist) atau ketegangan naratif yang benar-benar memompa adrenalin. Kita sebagai pembaca dibikin bertanya-tanya: apa sebenarnya inti sari dari pengembaraan Murad? Apa misi konkretnya kembali ke Aceh?
Kelemahan plot ini semakin terasa ketika cerita memasuki babak di mana Murad harus menyamar sebagai seorang Teungku di sebuah desa bernama Klekkok. Meskipun bumbu komedi di bagian ini cukup menghibur, kehadirannya justru membuat struktur cerita terkesan semakin kehilangan arah dan keluar dari konflik utama. Keadaan ini diperparah oleh konklusi cerita yang terasa sangat menggantung dan dipaksakan.
Di penghujung babak, Murad tiba-tiba melarikan diri bersama Jemala ke dalam hutan, menemukan sebuah perkampungan yang dipenuhi ladang ganja, lalu mendadak saling jatuh cinta sebelum lembar buku ini habis begitu saja. Kejelasan mengenai ke mana arah tujuan hidup Murad dan bagaimana nasib akhir pelariannya dilemparkan secara sepihak kepada imajinasi pembaca.
Romantisme yang Hambar dan Bias Kehilangan Nuansa Lokal
Berdasarkan ringkasan yang tertera di sampul buku, pembaca mungkin akan menaruh ekspektasi tinggi bahwa pelarian Murad dari kejaran Partai Merah akan dibalut dengan kisah pencarian cinta sejati yang emosional. Namun ketika Murad bertemu dan menaruh hati pada Jemala, jalinan asmara mereka terasa hambar.
Tidak ada percikan emosi yang mendalam atau getaran romantis yang kuat di tengah situasi genting pelarian mereka. Harapan untuk menyaksikan sebuah momen romantis yang klimaks sebagai penawar ketegangan politik pun harus pupis, karena semuanya dieksekusi secara datar dan biasa-biasa saja.
Kendati demikian, novel yang sukses memenangkan penghargaan di Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini memiliki kekuatan tersendiri dari segi latar tempat. Sebagai penulis asli Aceh, Arafat Nur terbukti sangat piawai dan detail dalam mendeskripsikan latar spasial, mulai dari suasana pedesaan yang sunyi hingga kelebatan hutan belantara. Ia juga sangat jeli menangkap detail-detail mikro di sekitar tokoh utama, seperti gerakan sapi atau tingkah kucing liar.
Namun ironisnya, ketelitian visual itu tidak dibarengi dengan keberhasilan menghidupkan atmosfer sosiokultural Aceh yang sesungguhnya. Nuansa magis, kedalaman adat, budaya, serta kebiasaan lokal masyarakat Aceh terasa kurang tereksplorasi dengan kuat, sehingga latar tempatnya terasa seperti bisa dipindahkan ke daerah mana saja di Indonesia tanpa kehilangan maknanya.
Kesimpulan
Pada akhirnya, memori terkuat yang tertinggal di benak pembaca setelah menutup buku ini hanyalah rentetan kritik tajam yang disuarakan oleh sang tokoh utama. Sebagai pengalaman pertama membaca karya Arafat Nur, Tanah Surga Merah secara kualitas narasi dan kedalaman karakter tampaknya masih berada di bawah bayang-bayang karya masterisnya yang lain, seperti Tempat Paling Sunyi.
Meski memiliki beberapa kelemahan dalam eksekusi plot dan penokohan, novel ini sama sekali tidak bisa dikatakan buruk. Buku ini tetap sangat direkomendasikan sebagai referensi bacaan yang berbobot. Melalui novel ini, kita dipaksa untuk menyadari kembali betapa pentingnya merawat budaya membaca yang kian mengikis di masyarakat, sekaligus belajar bagaimana menyuarakan kritik yang bernas dan berani terhadap jalannya roda pemerintahan.
Identitas Buku:
- Judul Buku: Tanah Surga Merah
- Penulis: Arafat Nur
- Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
- Tanggal Terbit: 16–25 Januari 2017
- Jumlah Halaman: 307 - 312 halaman
- ISBN: 9786020333359