Ulasan

Surat Cinta untuk Luka Masa Muda: Mengapa 'Call Me By Your Name' Tetap Membekas?

Surat Cinta untuk Luka Masa Muda: Mengapa 'Call Me By Your Name' Tetap Membekas?
Call Me By Your Name, 2017 (hudsonhall.org)

Call Me By Your Name (2017) adalah film Luca Guadagnino tentang Elio (Timothée Chalamet), remaja 17 tahun yang menghabiskan musim panas di vila Italia milik ayahnya, dan Oliver (Armie Hammer), mahasiswa doktoral berusia 24 tahun yang datang sebagai asisten akademik. Dua jam lebih kita diajak mengikuti bagaimana dua orang ini saling jatuh hati, dengan latar Italia tahun 1983 yang terasa seperti lukisan dan kamu bisa masuk ke dalamnya.

Kedengarannya sederhana. Dan ya, memang sederhana, tapi justru di situlah kekuatan sekaligus kelemahannya.

Sinematografinya benar-benar memperlakukan musim panas sebagai karakter. Bukan sekadar latar. Kamu bisa merasakan panasnya, debu jalannya, warna buah persiknya. Guadagnino tahu betul bahwa setting bukan dekorasi, setting adalah mood, dan mood adalah separuh dari cerita. Setiap frame terasa seperti memori yang sudah agak buram tapi tidak pernah benar-benar hilang.

Kalau kamu suka lanskap Eropa, khususnya Italia, film ini akan sangat memanjakan mata kamu. Warna yang cerah khas musim panas dengan suasana khas kota kuno dan pinggiran desa, bisa menjadi media cuci mata yang menakjubkan.

Sorotan selanjutnya adalah Timothée Chalamet. Performanya di sini bukan sekadar "anak muda yang aktingnya bagus." Dia memainkan Elio dengan lapisan yang sangat tipis tapi sangat terasa. Ada kecemasan, keinginan, rasa malu, keangkuhan remaja, semua hadir tanpa perlu banyak dialog.

Adegan akhir di mana dia hanya duduk diam di depan perapian, kamera tidak ke mana-mana, dan saya merasa seperti ikut menangis tanpa tahu persis kenapa. Mengingatkan pada adegan pamungkas film Perfect Days garapan Wim Wenders, serupa tapi tak sama.

Bapaknya Elio, diperankan Michael Stuhlbarg, punya satu adegan di akhir yang, menurut saya, adalah salah satu momen terbaik dalam sinema kontemporer. Dia bicara tentang kehilangan, tentang perasaan yang tidak boleh dipadamkan hanya karena menyakitkan, tentang bagaimana menjadi manusia yang penuh itu butuh keberanian. Tidak dramatis atau berlebihan. Tapi setiap kalimatnya terasa seperti ditujukan langsung ke dadamu.

Hal tak terlupakan lainnya dari film ini adalah Sufjan Stevens. Mystery of Love dan Futile Devices adalah dua lagu yang akan terus mengingatkanmu pada film ini bahkan bertahun-tahun setelahnya. Musik di sini bukan scoring, dia bercerita sendiri, paralel dengan visual, bukan mengiringinya.

Yang jujur harus saya akui sebagai kekurangan adalah Armie Hammer. Ini masalah yang tidak bisa diabaikan, dan bukan cuma soal kontroversi di luar filmnya yang belakangan mencuat. Di dalam film pun, Oliver terasa datar. Charm-nya ada, tapi dangkal. Dibandingkan dengan Elio yang tiap ekspresinya bisa kamu baca seperti buku, Oliver terasa seperti hanya permukaan. Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan, dan filmnya tidak pernah benar-benar menjawab itu. Apakah ini pilihan artistik? Mungkin. Tapi rasanya lebih seperti keterbatasan performa yang kebetulan dibiarkan.

Film ini juga lambat. Sangat lambat malah. Dan saya tahu itu disengaja, slow cinema, sensory immersion, dll. Tapi ada beberapa segmen di pertengahan yang terasa seperti film sedang menunggu sesuatu untuk terjadi tanpa memberimu cukup alasan untuk ikut menunggu. Kalau kamu bukan tipe penonton yang bisa menikmati "tidak ada yang terjadi tapi semua terasa," ada kemungkinan kamu akan bosan sebelum sampai ke bagian yang bagus.

Dinamika usia yang perlu dibicarakan adalah Elio masih 17 tahun, Oliver 24 tahun. Film tidak pernah mempermasalahkan ini secara eksplisit, dan ada argumen bahwa itu adalah pilihan naratif yang valid, cerita ini memang dituturkan dari sudut pandang Elio yang saat itu tidak merasa ada yang salah. Tapi sebagai penonton yang menonton di era sekarang, aku merasa ada tanggung jawab untuk menyebutkan bahwa gap ini nyata dan tidak perlu diabaikan demi menikmati filmnya. Kamu bisa menikmati sinematografinya yang indah dan tetap kritis pada power dynamic yang ada.

Jadi, apakah worth ditonton? Ya, dengan catatan kamu tahu apa yang kamu masuki.

Call Me By Your Name bukan film tentang plot. Dia film tentang perasaan dan hasrat, tentang bagaimana jatuh cinta di usia yang terlalu muda terasa seperti dunia yang terbuka dan runtuh bersamaan. Film ini adalah tentang bagaimana tempat bisa menjadi wadah kenangan yang bahkan setelah bertahun-tahun masih bisa menyakitkan kalau kamu ingat-ingat.

Adegan terakhirnya, Elio di depan perapian, kamera tidak bergerak, kredit mulai berjalan, adalah salah satu ending paling berani dan epik yang pernah dibuat, yang membuat saya ternganga dan tanpa sadar berucap, “Keren!”.

Tidak ada resolusi yang rapi, jawaban atau penyelesaian. Hanya kesedihan yang dibiarkan duduk di sana dengan utuh. Menurut saya, justru itu adalah hal yang paling adil yang bisa dilakukan sebuah film tentang cinta.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda