Kolom
Gen Z Ternyata Penyelamat Literasi? Membongkar Paradoks di Balik Tren Membaca Saat Ini
Setiap 23 April, dunia merayakan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia. Tanggal ini bukan dipilih sembarangan; UNESCO menetapkannya karena bertepatan dengan hari wafatnya dua raksasa sastra dunia secara bersamaan: Miguel de Cervantes dan William Shakespeare, keduanya pada tahun 1616. Ada ironi yang indah di sana: dua penulis yang telah lama tiada, tapi gagasannya masih kita rayakan ratusan tahun kemudian. Kalau itu bukan bukti bahwa tulisan bisa melampaui umur penulisnya, saya tidak tahu apa lagi.
Tapi hari ini kita tidak sedang hidup di abad ke-17. Kita hidup di era di mana satu PDF bisa berpindah tangan ribuan kali dalam semalam, di mana seseorang bisa mengunduh novel setebal 400 halaman dalam hitungan detik secara gratis, tanpa izin, dan tanpa rasa bersalah. Di sinilah masalahnya mulai terasa.
Di Indonesia, ada angin segar yang patut disyukuri. Indeks Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional pada 2024 mencapai 72,44, pencapaian tertinggi dalam lima tahun terakhir menurut data Badan Pusat Statistik, melampaui target Perpustakaan Nasional sebesar 71,3. Lebih menarik lagi, lonjakan ini banyak disumbang oleh Gen Z, generasi yang selama ini sering dituduh lebih akrab dengan scroll daripada buku.
Fenomena BookTok dan Bookstagram punya andil besar di sini. Platform yang awalnya dianggap sebagai ancaman literasi justru mengubah rekomendasi buku menjadi konten viral, menciptakan semacam efek FOMO yang positif: orang membaca bukan karena terpaksa, tapi karena takut ketinggalan diskusi. Paradoks yang menyenangkan: internet yang dianggap membunuh buku, ternyata malah menghidupkannya kembali, setidaknya dalam satu sudut tertentu.
Dan menariknya, 73,4 persen responden Gen Z masih memilih buku fisik dibanding format digital, dengan alasan bisa lebih berkonsentrasi karena tidak ada gangguan notifikasi media sosial. Jadi mereka menemukan buku lewat media sosial, lalu membelinya dalam bentuk fisik supaya bisa lepas dari media sosial. Ada logika yang lucu sekaligus masuk akal di sana.
Di balik angka yang membaik, hanya 20,7 persen masyarakat Indonesia yang rutin membaca buku setiap hari. Dan secara global, Indonesia berada di peringkat ke-31 dari 102 negara yang disurvei, dengan rata-rata 5,91 buku per tahun, di bawah Singapura yang memimpin di kawasan ASEAN.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah soal pembajakan. Survei IKAPI menyebutkan 50 persen penerbit menemukan bahwa buku-buku mereka dibajak, dan fenomena ini semakin marak seiring kemudahan berbagi file digital. Di marketplace, pembeli bahkan terang-terangan menanyakan apakah buku yang dijual itu asli atau bajakan, bukan untuk memastikan kualitas, tapi untuk mencari yang lebih murah. Sikap permisif terhadap pembajakan buku sudah menjadi semacam kebiasaan yang dinormalisasi.
Padahal kalau dipikir-pikir, ini bukan sekadar soal hukum. Ini soal logika ekosistem. Ketika kita mengunduh buku bajakan, kita sedang memilih untuk tidak membayar kerja bertahun-tahun yang dituangkan oleh seorang penulis ke dalam satu teks. Kita menikmati hasilnya, tapi menolak menanggung biayanya. Dan ketika cukup banyak orang melakukan itu, penerbitan buku yang layak secara ekonomi menjadi semakin sulit. Ekosistem kreatif tidak bisa hidup dari apresiasi saja.
Membaca dengan Sadar, Bukan Sekadar Konsumsi
UNESCO menggambarkan buku sebagai "jembatan antargenerasi dan antarbudaya", sebuah pernyataan yang terdengar klise sampai kita benar-benar merasakannya saat membaca sesuatu yang ditulis puluhan tahun lalu namun terasa seperti berbicara langsung kepada kita.
Tantangan literasi hari ini bukan lagi soal akses semata; buku digital tersedia, perpustakaan online ada, aplikasi membaca gratis bertebaran. Tantangannya adalah soal niat. Apakah kita membaca untuk benar-benar menyerap sesuatu, atau hanya untuk bisa mengakui bahwa kita sudah membacanya? Apakah kita menghargai proses kreatif di balik teks yang kita konsumsi?
Merayakan Hari Buku bukan berarti harus membeli setumpuk buku sekaligus atau memamerkan rak perpustakaan pribadi di Instagram. Cukup dengan satu pilihan kecil yang konsisten: beli dari toko resmi, unduh dari platform legal, rekomendasikan buku yang kamu suka kepada orang di sekitarmu. Setiap pilihan itu adalah satu suara kecil yang menyatakan bahwa kamu percaya gagasan layak untuk dihidupi, dan bahwa orang yang menciptakan gagasan itu layak untuk dibayar.
Buku mungkin berubah bentuk. Tapi roh di baliknya, percakapan panjang antara seseorang yang berpikir keras dan kita yang mau mendengarkan, itu tidak akan pernah kedaluwarsa.