Ulasan
Ulasan No Longer Human, Osamu Dazai: Kamu Pasti Pernah Jadi Yozo
No Longer Human adalah memoar fiktif Yozo Oba, seorang laki-laki yang membuka kisahnya dengan kalimat yang langsung menghantam:
"Hidupku begitu memalukan." (hlm. 1)
Yozo tumbuh sebagai anak yang tidak bisa memahami manusia, atau lebih tepatnya, tidak bisa memahami cara manusia berinteraksi satu sama lain dengan tampak begitu mudah dan alami. Sesuatu yang bagi orang lain terasa otomatis, bagi Yozo terasa seperti teka-teki yang mustahil dipecahkan:
"Kenapa pula manusia musti makan tiga kali saban hari? Alangkah khusyuknya mereka saat sedang bersantap! Terlihat seperti semacam ritual." (hlm. 3)
Maka Yozo melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan: ia berpura-pura. Ia menjadi badut. Ia mempelajari cara membuat orang tertawa, cara membuat orang nyaman, cara merespons situasi sosial dengan ekspresi yang tepat, bukan karena ia merasakannya, tapi karena ia tahu itulah yang diharapkan.
Di sinilah, menurut saya, No Longer Human berhenti menjadi sekadar kisah seorang pria Jepang yang hidupnya hancur berantakan di akhir era Taisho, dan mulai menjadi sesuatu yang jauh lebih universal.
Kalau kamu membaca ini dan mengira ini adalah buku tentang depresi atau tragedi personal Osamu Dazai semata, kamu melewatkan separuh maknanya.
No Longer Human adalah tentang kelelahan menjadi versi diri yang bisa diterima orang lain.
Yozo tidak membenci manusia. Ia takut pada mereka. Dan rasa takut itu mendorongnya untuk terus-menerus melakukan kalkulasi sosial yang melelahkan:
"Aku selalu takut gemetar di hadapan manusia. Lantaran tidak dapat merasakan sedikit pun kepercayaan diri atas kemampuanku berbicara ddan bertindak laiknya manusia, aku memeram penderitaan tunggalku terkunci dalam dada. Aku menyembunyikan kemurungan dan kegelisahan, berhati-hati supaya tidak ada jejak yang dibiarkan terlacak. Aku berpura-pura optimis dan polos; secara bertahap kusempurnakan diriku dalam peran eksentrik serta lucu." (hlm. 8)
Bayangkan menjalani setiap hari seperti itu. Bukan sekadar canggung, tapi secara aktif, secara sadar, menciptakan karakter yang bisa diterima dunia. Yozo melakukannya begitu lama sampai ia sendiri tidak tahu lagi di mana batas antara topeng dan wajah aslinya.
Familiar? Saya rasa iya. Hanya saja kita menyebutnya dengan nama yang berbeda sekarang: masking, people pleasing, performing for the algorithm.
Dazai menulis ini pada 1948. Tapi cobalah baca ulang deskripsi Yozo tentang bagaimana ia mempelajari ekspresi manusia, bagaimana ia merespons ekspektasi sosial dengan performa yang terkalkulasi, dan rasakan betapa sulitnya tidak memikirkan feed Instagram, persona TikTok, atau versi LinkedIn kita yang terlalu rapi dari diri sendiri.
Kita tidak perlu menjadi sedestruktif Yozo untuk memahami anatomi kecemasannya. Cukup pernah sekali saja memposting sesuatu di media sosial bukan karena ingin berbagi, tapi karena takut terlihat tidak relevan. Cukup pernah sekali saja tersenyum di situasi yang tidak kamu sukai hanya karena kamu tidak tahu cara keluar yang tidak awkward.
Yozo melakukan itu. Seumur hidupnya. Tanpa validasi 2.000 like sebagai kompensasinya.
Yang membuat buku ini terasa seperti tamparan bukan karena Yozo adalah karakter yang mengerikan atau ekstrem. Tapi karena ia jujur dengan cara yang jarang kita izinkan untuk diri sendiri. Ia menuliskan apa yang kita rasakan tapi kita pendam, bahwa ada momen-momen di mana kita tidak merasa seperti manusia yang utuh, bahwa ada bagian dari diri kita yang tidak tahu cara eksis di antara orang lain tanpa terlebih dulu membangun pertahanan.
Ada kecenderungan, terutama di kalangan pembaca muda, untuk membaca No Longer Human sebagai glorifikasi kehancuran. Sebagian karena Dazai sendiri hidupnya tidak jauh dari Yozo: alkohol, narkotika, beberapa kali percobaan bunuh diri, dan akhirnya meninggal karena tenggelam bersama kekasihnya pada 1948, tahun yang sama buku ini terbit.
Saya tidak mau terjebak dalam romantisasi itu, dan saya pikir pembaca yang bijak juga tidak seharusnya.
No Longer Human bukan instruksi hidup. Bukan juga argumen bahwa kehancuran adalah satu-satunya respons yang valid terhadap dunia yang tidak bisa dipahami. Ia adalah dokumen, sangat jujur, dan menyakitkan, tentang apa yang terjadi ketika seseorang tidak pernah belajar cara eksis tanpa menyembunyikan dirinya sendiri.
“Sifatku yang paling menonjol, yang terkuat dan tak tergoyahkan, adalah rasa malu sebagai manusia,” tulis Dazai.
Tapi yang Dazai tidak tulis eksplisit, dan ini yang menurut saya paling penting, adalah bahwa rasa malu Yozo bukan produk dari dirinya yang memang cacat. Ia adalah produk dari jarak yang terlalu lama antara ia dengan manusia-manusia di sekitarnya yang tidak pernah memberinya ruang untuk tidak perlu berpura-pura.
No Longer Human tidak akan membuat hidupmu lebih mudah. Tidak ada buku yang benar-benar melakukan itu, kalau kita jujur.
Tapi buku ini akan membuat kamu lebih terbuka, setidaknya dengan dirimu sendiri, tentang berapa banyak energi yang kamu habiskan untuk menjadi versi dirimu yang bisa diterima, versus versi dirimu yang sebenarnya.
Dan mungkin, setelah kamu menutup buku ini, kamu akan sedikit lebih sabar terhadap orang-orang di sekitarmu yang tampak "aneh" atau "tidak bisa bergaul" atau "terlalu pendiam". Karena mungkin mereka sedang berusaha sangat keras untuk menerjemahkan diri mereka ke dalam bahasa yang bisa kamu pahami, sesuatu yang lebih melelahkan dari yang terlihat.
Yozo tidak butuh kamu menangisinya. Ia butuh seseorang yang sejak awal, tidak memaksanya menjadi badut.
Identitas Buku
- Judul : No Longer Human
- Penulis : Osamu Dazai
- Penerbit : Vitta Litteras, Yogyakarta
- Terbit : 2022
- Tebal : 143 halaman