Ulasan
Mewarisi Kartini yang Mana? Membaca Ulang Jalan Menuju Terang
Menjadi istri ke-3 sampai menulis surat. Sesederhana itu cara orang picik menyederhanakan peran Kartini di masa ini. Sebagai bangsawan yang berpendidikan, ia rela dipersunting menjadi selir, namun ia tetap membiarkan kepak pikirannya membentang. Dengan kekuasaan yang dimiliki suaminya, ia membuka sekolah perempuan.
Ditambah surat menyurat pun menggunakan Bahasa Belanda. Di era angka penduduk yang buta huruf begitu tinggi. Lantas di mana titik "hanya" dalam perjuangan Kartini?
Buku Door duisternis tot licht: Gedachten over en voor het Javaansche volk atau lebih dikenal di Indonesia sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang: Pemikiran Tentang dan untuk Rakyat Jawa. Adalah suara hidup seorang perempuan yang berpikir jauh melampaui zamannya, tetapi harus hidup di dalam batasan sosial yang ketat.
Ditulis oleh R.A. Kartini dan dihimpun oleh J.H. Abendanon, buku ini membuka jendela ke dunia batin Kartini melalui lebih dari seratus surat yang ia tulis kepada sahabat-sahabat penanya di Eropa.
Kartini menulis dalam bahasa Belanda, bukan tanpa alasan. Ia sempat mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School hingga usia 12 tahun sebelum akhirnya menjalani tradisi pingitan. Sebuah praktik yang membatasi gerak perempuan bangsawan Jawa.
Keterbatasan fisik tidak mematikan pikirannya. Lewat buku-buku dan surat-menyurat dengan sahabatnya seperti Stella Zeehandelaar dan Rosa Abendanon, Kartini tetap bertumbuh secara intelektual.
Tentang Buku
Judul Habis Gelap Terbitlah Terang bukan terjemahan harfiah. Secara literal, judul Belandanya lebih dekat pada “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.
Frasa yang kita kenal sekarang justru merupakan kreasi literer dari para penerjemah Melayu tahun 1922 yang dikenal sebagai Empat Saudara (Bagindo Dahlan Abdullah, Zainudin Rasad, Sutan Muhammad Zain, dan Djamaloedin Rasad).
Perjalanan publikasi buku ini juga panjang. Versi awal diterbitkan pada 1911 oleh Abendanon. Kemudian diterjemahkan ke bahasa Melayu pada 1922, dan akhirnya disusun ulang dalam bahasa Indonesia oleh Armijn Pane pada 1938.
Pane tidak sekadar menerjemahkan, tetapi juga mengedit dan mengelompokkan surat-surat Kartini menjadi narasi yang lebih runtut, meski konsekuensinya beberapa surat tidak dimasukkan.
Isi surat-surat Kartini mengangkat tema-tema yang masih relevan hingga hari ini. Salah satu yang paling kuat adalah kritik terhadap sistem pingitan. Bagi Kartini, pingitan bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk penjara sistemik yang membatasi kebebasan perempuan.
Ia menggambarkan bagaimana seorang gadis aktif harus tiba-tiba menjadi pasif, tunduk, dan kehilangan ruang untuk berkembang.
Dalam salah satu suratnya, ia menyatakan kebenciannya terhadap pernikahan. Namun, pernyataan ini lahir dari pengalaman personal melihat dampak poligami dalam keluarganya. Ibunya, Ngasirah, harus tersisih karena sistem sosial yang mengutamakan status. Penolakan Kartini bukan terhadap pernikahan itu sendiri, melainkan terhadap praktik yang tidak adil bagi perempuan.
Meski demikian, Kartini akhirnya menikah dengan Bupati Rembang pada 1903. Keputusan ini bukan bentuk penyerahan total, melainkan kompromi strategis. Ia menetapkan syarat, termasuk kebebasan untuk membuka sekolah bagi perempuan. Ini menunjukkan bahwa Kartini tidak hanya berpikir idealis, tetapi juga realistis dalam menghadapi sistem.
Surat-Surat dari Kamar Pingitan: Pikiran Besar yang Mengubah Sejarah

Pendidikan menjadi inti dari seluruh gagasan Kartini. Ia percaya bahwa perempuan yang terdidik akan mampu membebaskan diri dari belenggu tradisi yang mengekang. Dalam suratnya, ia menegaskan pentingnya pendidikan sebagai jalan menuju kemandirian dan kesadaran. Gagasan ini kemudian menginspirasi berdirinya sekolah-sekolah perempuan di berbagai kota di Jawa pada awal abad ke-20.
Selain itu, Kartini juga mengkritik feodalisme Jawa. Ia menolak anggapan bahwa status sosial ditentukan oleh keturunan. Baginya, yang lebih penting adalah “bangsawan pikiran” dan “bangsawan budi”. Kritik ini sangat berani, mengingat ia sendiri berasal dari kalangan priyayi.
Menariknya, dalam surat-suratnya juga mulai muncul benih nasionalisme. Kartini berbicara tentang demokrasi, kebebasan, dan kesadaran berbangsa. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Ini menunjukkan bahwa perjuangannya tidak hanya soal gender, tetapi juga tentang masa depan bangsa.
Namun, penting untuk diingat bahwa versi Kartini yang kita kenal hari ini mungkin bukan sepenuhnya utuh. Sebagai editor, Abendanon diduga melakukan seleksi terhadap surat-surat yang diterbitkan. Pertanyaan pun muncul: apakah narasi Kartini yang kita baca sudah merepresentasikan dirinya secara lengkap?
Pada akhirnya, Habis Gelap Terbitlah Terang adalah refleksi perjuangan seorang perempuan yang berani berpikir, meski dibatasi oleh zamannya. Kartini tidak melakukan revolusi dengan senjata, tetapi dengan kata-kata.
Dan dari kamar pingitannya, kata-kata itu mampu membuka jalan. Jalan yang hingga hari ini masih kita lalui.
Identitas Buku
- Judul: Habis Gelap Terbitlah Terang
- Penulis Asli: R.A. Kartini
- Penerjemah: Armijn Pane
- Penerbit: Balai Pustaka
- ISBN: 979-407-063-7
- Tebal: 206 halaman