Kolom

Saat Rupiah Kian Tertinggal, Jangan Keliru Membaca Ramainya Wisata Belanja

Saat Rupiah Kian Tertinggal, Jangan Keliru Membaca Ramainya Wisata Belanja
Ilustrasi Uang (Unsplash/@stereophototyp)

Belakangan ini media sosial ramai dengan unggahan warga Singapura yang berbondong-bondong berbelanja di Batam atau warga Malaysia yang datang ke Indonesia untuk berburu barang murah. Sebagian orang melihat fenomena ini sebagai kabar baik. Hotel ramai, pusat perbelanjaan penuh, dan sektor pariwisata bergerak. Sekilas memang tampak menguntungkan.

Namun di balik keramaian itu, apakah benar fenomena tersebut menandakan ekonomi Indonesia sedang baik-baik saja?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Ketika warga negara lain merasa belanja di Indonesia sangat murah, sering kali penyebab utamanya bukan karena harga barang kita tiba-tiba turun drastis. Penyebab yang lebih mungkin adalah nilai tukar rupiah yang melemah dibanding mata uang mereka. Dengan kata lain, daya beli mereka terhadap barang-barang Indonesia meningkat karena mata uang mereka semakin kuat relatif terhadap rupiah.

Karena itu, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa kedatangan wisatawan asing untuk berbelanja merupakan bukti keberhasilan ekonomi. Dalam banyak kasus, fenomena tersebut justru menjadi cermin bahwa mata uang domestik sedang kehilangan nilai.

Selama ini perhatian publik sering terfokus pada hubungan rupiah dengan dolar Amerika Serikat. Padahal kekuatan sebuah mata uang tidak hanya diukur terhadap dolar. Yang lebih penting adalah bagaimana posisinya terhadap berbagai mata uang lain yang menjadi mitra dagang dan ekonomi Indonesia.

Jika rupiah melemah terhadap banyak mata uang sekaligus, dampaknya jauh lebih luas. Ringgit Malaysia, dolar Singapura, yuan Tiongkok, yen Jepang, euro, hingga mata uang negara-negara lain memiliki pengaruh terhadap aktivitas ekonomi sehari-hari. Ketika pelemahan terjadi secara luas, maka biaya impor otomatis meningkat.

Di sinilah persoalan sebenarnya.

Indonesia bukan negara yang sepenuhnya mandiri dalam memenuhi kebutuhan industrinya. Banyak sektor produksi masih bergantung pada bahan baku, mesin, komponen elektronik, bahan kimia, hingga teknologi yang berasal dari luar negeri. Bahkan produk yang tampak "buatan Indonesia" sering kali mengandung komponen impor dalam jumlah besar.

Ponsel yang digunakan masyarakat, komputer di kantor, mesin pabrik, alat kesehatan, hingga berbagai bahan pangan tertentu memiliki keterkaitan dengan rantai pasok global. Ketika rupiah melemah, biaya untuk mendatangkan seluruh kebutuhan tersebut ikut naik.

Memang benar, dampaknya tidak selalu terasa dalam hitungan hari. Banyak perusahaan masih memiliki stok bahan baku yang dibeli dengan kurs lama. Sebagian perusahaan juga berusaha menahan kenaikan harga demi menjaga daya beli konsumen dan mempertahankan pangsa pasar.

Tetapi kemampuan itu ada batasnya.

Jika pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu lama, biaya produksi yang meningkat pada akhirnya akan diteruskan kepada konsumen. Harga barang naik bukan karena pedagang tiba-tiba menjadi serakah, melainkan karena struktur biaya mereka memang berubah. Dalam kondisi seperti itu, masyarakatlah yang akhirnya menanggung beban terbesar.

Kelompok yang mungkin menikmati keuntungan dari pelemahan rupiah adalah eksportir yang menjual produknya dalam mata uang asing. Sektor pertambangan, minyak sawit, dan beberapa industri berbasis ekspor bisa memperoleh pendapatan lebih besar ketika dikonversi ke rupiah. Namun manfaat tersebut tidak otomatis dirasakan seluruh masyarakat.

Sebaliknya, sektor yang bergantung pada impor bahan baku menghadapi tekanan yang jauh lebih berat. Industri manufaktur, elektronik, farmasi, hingga berbagai usaha kecil yang membutuhkan bahan impor akan merasakan kenaikan biaya secara langsung.

Karena itu, melihat rupiah melemah lalu langsung menyimpulkan bahwa pariwisata akan meningkat dan ekspor akan melonjak merupakan cara pandang yang terlalu sempit. Ekonomi jauh lebih kompleks daripada sekadar menghitung jumlah wisatawan yang datang atau nilai ekspor yang naik sesaat.

Yang lebih penting adalah memahami mengapa rupiah melemah dan bagaimana dampaknya terhadap struktur ekonomi nasional. Sebab pada akhirnya, nilai tukar bukan hanya angka yang muncul di layar perbankan atau berita ekonomi. Nilai tukar menentukan harga barang, biaya produksi, daya beli masyarakat, dan tingkat kesejahteraan secara keseluruhan.

Karena itu, ketika melihat warga negara lain berbelanja dengan gembira di Indonesia, tidak perlu langsung bangga dan menganggap semuanya sebagai kabar baik. Bisa jadi mereka sedang menikmati keuntungan dari mata uang yang lebih kuat, sementara kita sedang menghadapi tantangan yang belum sepenuhnya terasa.

Pelemahan rupiah bukan persoalan sentimen atau mencari kambing hitam. Ia adalah realitas ekonomi yang harus dibaca secara jernih. Sebab yang menentukan masa depan bukan seberapa ramai pusat perbelanjaan hari ini, melainkan seberapa kuat fondasi ekonomi yang menopangnya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda